Tautan-tautan Akses

Kepala Mitigasi Bencana PBB: Butuh Rencana Matang untuk Tanggulangi Bencana Alam

  • Ron Corben

Kepala UNISDR Margareta Wahlstrom (kiri) saat melakukan kunjungan ke Sri Lanka (foto: dok).

Kepala UNISDR Margareta Wahlstrom (kiri) saat melakukan kunjungan ke Sri Lanka (foto: dok).

Kepala Mitigasi Risiko Bencana PBB (UNISDR), Margareta Wahlstrom, mengatakan lebih banyak rencana lagi dibutuhkan untuk menanggapi bertambahnya ancaman bencana, khususnya yang dipicu oleh perubahan iklim.

Margareta Wahlstrom, kepala Mitigasi Risiko Bencana PBB (UNISDR), mengatakan dalam wawancara dengan VOA, negara-negara Asia perlu memperbaiki kinerja lembaga-lembaga yang terkait dengan penanggulangan bencana, dan membuat rencana yang lebih baik untuk menghadapi bencana-bencana mendatang.

Banjir di Asia Tenggara sejak Juni berdampak pada hampir 20 juta manusia, dan mengakibatkan 1.000 orang tewas. Sekitar 13 juta orang dilanda banjir di Thailand, salah satu negara yang terkena paling parah. Banjir di seluruh Asia katanya adalah yang terparah dalam 50 tahun.

Wahlstrom mengatakan perencanaan yang lebih baik penting untuk menanggapi bencana-bencana mendatang.

“Skalanya tahun ini luar biasa; dampak terhadap ekonomi dan manusia luar biasa, tetapi yang belum dilakukan adalah perubahan-perubahan besar untuk menanggapi kejadian-kejadian ini. Pemerintah, kelompok-kelompok bisnis, organisasi-organisasi seperti UNISDR, perlu mempersiapkan perencanaan ke depan, dan melakukan upaya untuk memberi penyuluhan dan kesadaran kepada masyarakat,” ujarnya.

Ia mengatakan negara-negara juga perlu lebih mengintegrasikan kebijakan dalam menanggulangi bencana.

Di Thailand, Pemerintahan Perdana Menteri Yingluck Shinawatra dan pemerintah kota Bangkok menghadapi kecaman akibat gagal mengkoordinir tanggapan terhadap banjir itu. Pemerintah pusat menghadapi gugatan dan mosi tidak percaya di parlemen mengenai cara penanggulangan bencana itu.

Panel Antar Negara mengenai Perubahan Iklim PBB (IPCC) baru-baru ini memperingatkan agar negara-negara mempersiapkan diri menghadapi persitiwa-peristiwa alam yang kerap terjadi dan berbahaya akibat perubahan iklim. Peristiwa alam yang ekstrim seperti itu mungkin bisa menyebabkan kerugian milyaran dolar pada perekonomian kawasan dan berdampak buruk terhadap jutaan orang.

Wahlstrom mengatakan kota-kota Asia-Pasifik di wilayah pantai, rentan terhadap perubahan iklim yang mengakibatkan naiknya permukaan air laut, dan perencanaan tata kota yang lebih baik merupakan kesulitan utama.

Dengan pengalaman 30 tahun dalam bidang menanggapi bencana internasional dan bantuan, Wahlstrom mengatakan sangat terkesan oleh ketangguhan warga dalam menghadapi bencana-bencana seperti itu.

Wahlstrom menyampaikan pernyataannya sebelum konferensi perubahan iklim PBB yang akan dilangsungkan di Durban, Afrika Selatan, minggu ini. Pertemuan itu akan dihadiri lebih dari 10.000 pejabat dari lebih 190 negara. Tujuannya adalah menetapkan persetujuan perubahan iklim global baru untuk mengganti Persetujuan Kyoto 1997, yang akan habis masa berlakunya bulan Desember 2012.

XS
SM
MD
LG