Tautan-tautan Akses

UNICEF: Anak-anak Libya Mulai Rasakan Dampak Buruk Krisis Politik

  • Lisa Schlein

Anak-anak Libya duduk di bagian belakang sebuah truk untuk berlindung, saat baku tembak antara pasukan Gaddafi dan pemberontak di Brega (17/6).

Anak-anak Libya duduk di bagian belakang sebuah truk untuk berlindung, saat baku tembak antara pasukan Gaddafi dan pemberontak di Brega (17/6).

Kepala operasi Dana Anak-anak PBB (UNICEF) di Libya mengatakan dalam empat bulan krisis di Libya, perempuan dan anak-anak mulai terkena dampaknya.

UNICEF mengatakan konflik Libya sangat merusak kehidupan dan kegiatan rutin anak-anak. Badan itu mengatakan sekolah-sekolah tutup. Di ibukota Tripoli, anak-anak ketakutan akibat penembakan terus menerus oleh pasukan koalisi NATO. Anak-anak di seluruh negeri itu juga menderita akibat kehilangan orang tua, kerabat, dan teman-teman.

Sayangnya, Ketua Tim Tanggap Darurat UNICEF, Pierre Poupard, mengatakan lembaganya dan badan-badan lain tidak dapat banyak membantu karena sangat terbatasnya akses masuk ke berbagai wilayah negeri itu.

Ia mengatakan UNICEF khususnya khawatir karena adanya ranjau-ranjau darat. Ia mengatakan kebanyakan ranjau itu disebar oleh pasukan Moammar Khadafi di sekeliling kota Tripoli, Misrata, dan wilayah-wilayah lain yang dikuasai pemerintah. Tetapi, ranjau-ranjau itu juga ada di kubu kelompok oposisi di Benghazi.

Sejauh ini, jumlah korban jatuh masih kecil. Badan Palang Merah Internasional mengatakan 13 anak tewas akibat ranjau darat. Poupard mengatakan ini mungkin perkiraan yang rendah dan jumlah korban mungkin bertambah.

“Kami tahu anak-anak di bagian timur negeri ini bermain dengan ranjau-ranjau itu. Mereka menganggapnya seperti mainan. Pulang ke rumah, mereka mengatakan, ‘lihat Ayah, logam kecil ini tidak meledak.’ Mereka bermain dengan ranjau-ranjau itu karena mereka tidak tahu,” ujarnya.

Poupard mengatakan Libya adalah negara berpendapatan menengah. Tingkat kemiskinan tidak seburuk di negara-negara seperti Pantai Gading atau Haiti. Akibatnya, katanya, banyak orang masih bisa hidup layak dan tidak membutuhkan bantuan kemanusiaan besar-besaran. Ia mengatakan kondisi fisik anak-anak di sana masih lebih baik.

“Kami telah mengunjungi beberapa rumah sakit di seluruh negeri, termasuk di bagian barat negeri itu, Tripoli, tetapi juga di Misrata, Benghazi, Ajdabiya, Nalut, dan sebagainya. Tidak ada satu pun kasus kekurangan gizi. Ini penting disebutkan. Itu berarti mekanisme untuk menanggulangi situasi setelah empat bulan konflik masih berjalan, “ ujarnya lebih lanjut.

Namun, ia memperingatkan bila konflik terus berlangsung, kemungkinan besar layanan-layanan sosial bisa terganggu. Poupard mengatakan orang nantinya akan kekurangan pangan dan layanan-layanan dasar dan akan membutuhkan bantuan internasional.

Ia mengatakan kualitas air bersih di Libya masih baik, walaupun bahan-bahan kimia untuk menjernihkan air dan suku cadang untuk memelihara sistem air itu mulai dibutuhkan. Ia mengatakan pasokan obat-obatan dan vaksin mulai berkurang.

XS
SM
MD
LG