Tautan-tautan Akses

Uni Eropa Minta Inggris Keluar Sekarang

  • Luis Ramirez

PM Inggris David Cameron (tengah) hadir pada KTT Uni Eropa di Brussels, Belgia Selasa (28/6) pasca referendum Brexit.

PM Inggris David Cameron (tengah) hadir pada KTT Uni Eropa di Brussels, Belgia Selasa (28/6) pasca referendum Brexit.

Untuk pertama kali setelah Inggris memutuskan keluar dari Uni Eropa atau Brexit, Perdana Menteri David Cameron bertemu para pemimpin Eropa di Brussels, Belgia.

Hari Selasa (28/6) kembali menjadi hari yang membuat canggung Perdana Menteri Inggris David Cameron yang datang ke Brussels, yang kini menjadi daerah tidak bersahabat bagi Inggris, guna bertemu para pemimpin Uni Eropa untuk pertama kali sejak keputusan Brexit. Ia menghadapi pertanyaan sulit tentang bagaimana dan kapan Inggris berencana memulai proses pemisahan dari Uni Eropa.

"Saya ingin Inggris memperjelas sikap. Tidak hari ini, tidak besok pada pukul 9:00 pagi, tetapi segera," ujar Presiden Komisi Uni Eropa Jean-Claude Juncker dalam sidang darurat parlemen Uni Eropa hari Selasa, yang tercatat sebagai sidang darurat pertama.

Sementara itu, dampak Brexit menyebabkan Inggris semakin terjebak kekacauan politik hari Selasa karena anggota parlemen Partai Buruh menyampaikan mosi tidak percaya kepada pemimpin oposisi Jeremy Corbyn, dan menuduhnya lemah dalam memimpin perjuangan melawan gerakan keluar dari Uni Eropa. Tetapi Corbyn menyatakan mosi tidak akan membuatnya mundur.

Hal itu menuai perebutan kekuasaan di kedua pihak sementara Inggris menghadapi keputusan sulit tentang cara Inggris keluar dari Uni Eropa.

Beberapa jam setelah keputusan Brexit diumumkan Jumat lalu, Perdana Menteri Cameron mengumumkan akan mengundurkan diri.

Pimpinan Inggris tampaknya tidak akan segera memulai proses pemisahan itu. Cameron, yang akan mundur, telah menegaskan, penggantinya, bukan dia, yang akan memulai pemisahan dengan menerapkan Pasal 50 perjanjian Lisbon mengenai pemisahan.

Partai Konservatif berencana memulai proses pencalonan pemimpin baru hari Kamis dan berharap pengganti Cameron sudah ada sebelum 2 September.

Tetapi itu tidak cukup cepat bagi Perancis dan anggota lain Uni Eropa yang cemas semakin lama Inggris menunggu, semakin besar kerugian ekonomi akan timbul, karena pasar hari Selasa kembali bergolak. "Kita tidak bisa diam saja ditengah ketidakpastian yang berlarut-larut ini," ujar Juncker.

Sementara itu para politisi Inggris yang mendesak Inggris agar keluar dari Uni Eropa tampaknya tidak terburu-buru memulai proses pemisahan, sehingga menimbulkan pertanyaan di kalangan kritikus apakah mereka sebetulnya punya rencana.

Sampai kini, pimpinan gerakan keluar dari Uni Eropa belum membuat rencana yang jelas, tetapi menurut pengamat, strategi mereka jelas: menunggu sampai keadaan tenang kembali.

Dalam pernyataan hari Senin, mantan Walikota London Boris Johnson, pemimpin gerakan keluar dari Uni Eropa, yang biasanya berapi-api dan secara luas dianggap sebagai pengganti Cameron, tidak seperti biasanya, tampil tenang dan merendah. Nada bicaranya damai dan menenangkan.

"Bagi mereka yang mungkin cemas, apakah di dalam atau di luar negeri, biar bagaimana pun Brexit tidak akan mengurangi persatuan Inggris, dan juga tidak menjadikan Inggris kurang Eropa."

Johnson menginginkan Inggris mempertahankan akses ke pasar tunggal seperti dilakukan Norwegia, negara lain yang bukan anggota Uni Eropa. Para pemimpin Uni Eropa hari Selasa menegaskan tidak akan mendukung pengaturan seperti itu atau melakukan perundingan apapun, baik formal maupun informal, sebelum Inggris menerapkan Pasal 50 dan memulai proses pemisahan.

Kanselir Jerman Angela Merkel mengingatkan Inggris agar tidak pilih-pilih. "Jika ingin keluar dan meninggalkan keluarga ini, maka Anda tidak bisa berharap membatalkan kewajiban tetapi terus menikmati hak-hak." [ka/jm]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG