Tautan-tautan Akses

Uni Afrika Tolak Desakan untuk Akui Dewan Transisi Nasional Libya

  • Peter Heinlein

Presiden Afrika Selatan, Jacob Zuma (kiri) dan pejabat Uni Afrika Ramtane Lamamra dalam pertemuan Uni Afrika di Addis Ababa (26/8). Uni Afrika belum bersedia mengakui kelompok oposisi Libya (TNC) sebagai pemerintah sah di Libya.

Presiden Afrika Selatan, Jacob Zuma (kiri) dan pejabat Uni Afrika Ramtane Lamamra dalam pertemuan Uni Afrika di Addis Ababa (26/8). Uni Afrika belum bersedia mengakui kelompok oposisi Libya (TNC) sebagai pemerintah sah di Libya.

Penolakan Uni Afrika itu menggaris-bawahi masih adanya pengaruh Moammar Gaddafi pada organisasi yang dipimpinnya dua tahun lalu.

Uni Afrika menolak desakan untuk mengakui Dewan Transisi Nasional (TNC) pemberontak Libya. Keputusan Uni Afrika itu menggaris-bawahi masih adanya pengaruh Moammar Gaddafi pada organisasi itu, yang dipimpinnya dua tahun lalu.

Wakil Sekretaris Jenderal PBB Asha Rose Migiro membuka KTT Perdamaian dan Keamanan Uni Afrika Jumat dengan mendesak organisasi benua itu untuk mengakui realitas baru politik Libya.

Migiro mengatakan, "Kita harus membantu para pemimpin baru negara itu untuk membentuk pemerintah yang efektif dan sah, pemerintah yang mewakili dan berbicara atas nama rakyat yang beragam; pemerintah yang dapat memenuhi harapan warganya."

Namun, suatu kemunduran bagi para pemimpin pemberontak Libya, ke-15 anggota Dewan Perdamaian dan Keamanan Uni Afrika menolak permohonan Migiro itu. Sebuah komunike Uni Afrika yang dibacakan oleh Komisaris Perdamaian dan Keamanan Ramtane Lamamra meminta agar pemerintahan transisi juga mencakup pendukung Gaddafi.
"Ini mendorong para pemangku kepentingan Libya untuk mempercepat proses pembentukan pemerintahan transisi yang inklusif ," ujar Mamamra.

Penolakan organisasi itu untuk menerima apa yang dianggap banyak pihak realita di Libya menimbulkan kekhawatiran bagi-bagi negara barat. Duta besar AS untuk Uni Afrika, Michael Battle, mencatat bahwa 20 dari 54 negara anggota UA telah bergabung dengan komunitas internasional yang lebih luas untuk mengakui Dewan Transisi Nasional yang dipimpin pemberontak.

Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma, yang memimpin KTT keamanan, menolak anggapan bahwa kemenangan TNC adalah mutlak. Kepada wartawan, Presiden Zuma mengatakan banyak pemimpin Afrika melihat kenyataan lain.
"Realitas di lapangan adalah pertempuran masih berlangsung di Tripoli. Apakah itu bukan realitas? Korban masih berjatuhan dalam pertempuran yang sangat berat. Itu adalah situasi, seperti yang kita ketahui, merupakan realitas di Libya. Dan kita mengambil sikap sesuai dengan kenyataan. Kami melihat realitas dari sudut pandang kami ," kata Jacob Zuma.

Sementara, Duta Besar Libya untuk Uni Afrika, Ali Abdallah Awidan, meremehkan kelambanan Dewan Perdamaian dan Keamanan. Duta Besar Awidan, yang minggu ini beralih kesetiaan kepada TNC, menyebut keputusan itu kemunduran sementara.
"Tak lama lagi Libya akan berada di bawah kendali TNC, dan TNC akan mewakili seluruh Libya, dan ini bukan masalah. Ini hanya untuk sementara waktu ," demikian Awidan.

Diplomat-diplomat UA mengatakan penolakan untuk mengakui pemberontak Libya mencerminkan rasa hormat dan pengaruh Moammar Gaddafi dalam organisasi itu. Selama bertahun-tahun ia menggunakan kekayaan minyak negaranya untuk mendukung banyak gerakan pembebasan di Afrika, termasuk perjuangan anti-apartheid di Afrika Selatan.

Dia juga telah menjadi kekuatan pendorong dalam organisasi itu selama 42 tahun pemerintahannya, dan memegang pucuk pimpinan UA tahun 2009.

Hingga tahun ini, Libya menjadi salah satu pendukung utama keuangan UA, membayar iuran yang jumlahnya mencapai hampir 15 persen dari semua kontribusi negara anggota. Selain itu, Gaddafi membayar iuran beberapa negara miskin, yang diperkirakan para pengamat totalnya mencapai 40 juta dolar per tahun.

XS
SM
MD
LG