Tautan-tautan Akses

UNHCR: Semangat Kemanusiaan Harus Diperkuat oleh Semua Bangsa

  • Budi Nahaba

Para pengunjung pameran karya foto jurnalistik Hari Pengungsi Sedunia 2015 di Pusat Kebudayaan Jerman, Jakarta. (VOA/Budi Nahaba)

Para pengunjung pameran karya foto jurnalistik Hari Pengungsi Sedunia 2015 di Pusat Kebudayaan Jerman, Jakarta. (VOA/Budi Nahaba)

Peringatan Hari Pengungsi Sedunia di Jakarta diisi dengan beragam kegiatan, salah satunya pameran foto karya jurnalistik tentang Pengungsi Rohingya-Bangladesh yang terdampar di lepas pantai Sumatera baru-baru ini.

Kepala perwakilan UNHCR Indonesia Thomas Vargas mengatakan Jum’at (19/6), penanganan pengungsi dengan pelayanan komprehensif perlu diwujudkan dalam bentuk semangat kemanusiaan oleh semua negara di dunia.

“Orang-orang Aceh (Indonesia) dengan tangan terbuka menerima, memberikan keselamatan, bantuan, sumbangan dan kasih sayang kepada yang membutuhkan, itu sesuai dengan jiwa kemanusiaan (humanitarian spirit) yang pantas dicontoh,” kata Vargas.

Vargas menekankan, upaya penyelamatkan dalam kesempatan pertama para migran Rohingya dan Bangladesh saat kapal-kapal yang mereka hanyut terdampar di lepas pantai provinsi Aceh baru-baru ini.

Jaringan media global melaporkan Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon dalam peringatan Hari Pengungsi Dunia Sabtu (20/6), mengajak para pemimpin dunia bersatu guna mengakhiri penderitaan hampir 60 juta jiwa warga dunia yang secara terpaksa mengungsi karena konflik dan penganiayaan.

Laporan-laporan PBB sebelumnya menyatakan, tahun ini merupakan tahun dengan gelombang pengungsian terbesar selama lebih satu dasa warsa, mencapai 60 juta jiwa.

Beberapa warga DKI mengaku prihatin dengan jumlah pengungsi dan berharap Indonesia aman damai sentosa.

Fani Iskandar (19) warga Menteng mengatakan, banyak negara membatasi pencari suaka dan pengungsi.

“Uni Eropa menerima pengungsi Libya dan Afrika, isu pengungsi juga masih masalah. Kalau lihat RI terkait penanganan Rohingya, Indonesia jauh lebih baik dari sisi kemanusiaan,” katanya.

Mahasiswa, sebuah perguruan tinggi di Cikini Jakarta Pusat Muhammad Fajar (17) berharap kondisi pengungsi di lautan (Asia) dan upaya penyelamatan perlu dilakukan dan berkelanjutan.

“Krisis tidak hanya menimpa warga Rohingya, tapi juga di Palestina, sudah seharusnya sesama manusia membantu," tambahnya.

Penyebab Gelombang pengungsian terbesar, di antaranya karena konflik di Suriah, Irak, Ukraina, Sudan Selatan, Republik Afrika Tengah, Nigeria dan beberapa wilayah di Asia, terutama Pakistan dan Afghanistan.

Data PBB menunjukkan bahwa rata-rata, 42.500 orang menjadi pengungsi setiap hari pada tahun 2014.

Laporan baru badan pengungsi PBB UNHCR, akhir Desember 2014 lalu jumlah pengungsi di dunia tercatat 59.500.000 jiwa, naik cukup berarti dari 51,2 juta jiwa pada tahun sebelumnya 2013.

UNHCR dan konsorsium mitra global sedang menggalang respon kemanusiaan dan komitmen negara-negara anggota PBB, agar menunjukkan rasa solidaritas, toleransi dan perlindungan bagi orang-orang yang melarikan diri negerinya karena konflik dan berbagai kejahatan kemanusian lainnya.

UNHCR menyatakan, separuh dari jumlah pengungsi di dunia merupakan anak-anak. Gelombang pengungsian tertinggi tahun 2014 terjadi di Eropa mencapai 51 persen, Eropa menjadi tuan rumah bagi 1,6 juta pengusngsi akibat konflik Ukraina dan Suriah. Swedia dan Jerman menjadi negara pilihan favorit para pencari suaka di Eropa.

XS
SM
MD
LG