Tautan-tautan Akses

UNHCR: Satu Juta Migran dan Pengungsi Tiba di Eropa Tahun 2015


Seorang pengungsi Suriah menerima bantuan dari UNHCR di Tripoli, Lebanon utara, 18 November 2015. (Foto: dok.)

Seorang pengungsi Suriah menerima bantuan dari UNHCR di Tripoli, Lebanon utara, 18 November 2015. (Foto: dok.)

Badan PBB Urusan Pengungsi UNHCR melaporkan satu juta orang, yang umumnya lari dari penganiayaan dan perang, telah tiba di Eropa tahun ini.

UNHCR mengatakan jumlah pengungsi dan migran yang berhasil menyeberangi jalur berbahaya di Laut Tengah untuk mencapai Eropa tahun ini hampir lima kali lebih besar dibanding tahun lalu. Tahun 2014 hampir 220 ribu orang melarikan diri ke Eropa.

UNHCR mengatakan lebih dari 3.600 orang meninggal tahun ini ketika berupaya mencapai Eropa dengan menggunakan kapal-kapal penyelundup yang reyot.

UNHCR mengatakan sekitar 80% pengungsi dan migran telah menyebrang Laut Tengah dari Turki menuju Yunani, negara yang tidak memiliki kapasitas cukup untuk menampung mereka. Juru bicara UNHCR Adrian Edwards mengatakan kepada VOA, sedikitnya separuh jumlah orang yang tiba itu adalah pengungsi dari Suriah.

"Sebagaimana kita semua tahu, Suriah sedang menghadapi konflik yang sangat buruk, yang menimbulkan penderitaan dan perpindahan manusia yang tidak ada duanya dimana pun. Kita juga melihat orang-orang yang datang dari Afghanistan, Irak, dari beberapa negara di kawasan Tanduk Afrika dan lain-lain, dimana kita melihat perpindahan penduduk yang sangat besar. Mayoritas orang yang pindah ini adalah pengungsi atau yang memiliki klaim sangat kuat untuk mendapat perlindungan internasional," kata Edwards.

Edwards mengatakan orang pindah karena berbagai alasan. Banyak yang disebut sebagai “economic-migrants.” Menurut Edwards orang-orang ini juga membutuhkan pertolongan dan seharusnya mendapat bantuan yang layak. Ia menambahkan kasus-kasus mereka seharusnya dikaji untuk menentukan apakah mereka memiliki klaim yang sah untuk mendapatkan status pengungsi.

Jika tidak, mereka pantas dilayani secara manusiawi sesuai UU imigrasi, ujar Edwards. Tetapi ditambahkannya, migrasi massal ke Eropa umumnya terjadi karena situasi pengungsi, yang mencerminkan buruknya keadaan di dunia.

"Lima belas konflik dalam lima tahun terakhir ini, semuanya memicu terjadinya perpindahan. Banyak konflik itu masih terus terjadi hingga saat ini, banyak pula konflik yang sudah ada sebelumnya menyebabkan terus terjadinya perpindahan selama puluhan tahun," tambahnya.

Edwards mengatakan banyak negara tidak memberi perhatian yang cukup pada langkah-langkah yang dibutuhkan untuk mengatasi akar penyebab perpindahan itu. Ditambahkannya, hingga ditemukan solusi untuk menstabilkan situasi, orang-orang yang putus asa akan terus melarikan diri dari perang, penganiayaan, pelanggaran HAM dan kemiskinan untuk menemukan tempat yang lebih aman dan kehidupan yang lebih baik. [em/ii]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG