Tautan-tautan Akses

UNHCR: 1,3 Juta Warga Suriah Mengungsi

  • Lisa Schlein

Pengungsi Suriah menunggu untuk didaftar saat tiba di kamp penampungan Al Zaatri di Mafraq, Yordania dekat perbatasan Suriah (6/3)

Pengungsi Suriah menunggu untuk didaftar saat tiba di kamp penampungan Al Zaatri di Mafraq, Yordania dekat perbatasan Suriah (6/3)

UNHCR melaporkan lebih dari 1,3 juta pengungsi Suriah telah mengungsi ke negara-negara tetangganya. UNHCR memperingatkan jumlah ini bisa meningkat tiga kali lipat pada akhir tahun ini jika tidak ditemukan solusi politik atas konflik tersebut.

UNHCR mengatakan situasi yang memburuk di Suriah menyebabkan sekitar 8000 orang per harinya melarikan diri ke negara-negara tetangga untuk menyelamatkan diri.

Koordinator regional lembaga itu untuk wilayah Suriah, Panos Moumtzis, mengatakan arus manusia yang keluar telah meningkatkan jumlah pengungsi yang terdaftar di Jordan, Lebanon, Turki dan Irak hingga 1,3 juta. Jumlah tersebut tidak termasuk mereka yang tidak terdaftar, sehingga jumlah pengungsi sebenarnya di negara-negara tersebut jauh lebih tinggi.

“Ini adalah peningkatan yang besar jika kita membandingkan dengan satu tahun yang lalu, jumlahnya hanya 30.000. Jadi, dalam 12 bulan, ada peningkatan dari 30.000 pengungsi menjadi 1.300.000. Jumlah 1.300.000 ini merupakan 120 persen dari angka asumsi perencanaan yang telah kami buat dan perkirakan, yang kami perkirakan akan tercapai pada bulan Juni 2013. Kami merencanakan untuk membantu 1.100.000 pada bulan Juni dan kini angkanya sudah mencapai 1.300.000. Tiga perempat dari para pengungsi yang terus melarikan diri adalah perempuan dan anak-anak,” kata Moumtzis.

Sementara jumlah pengungsi terus meningkat, dana yang tersedia untuk membantu mereka tidak bertambah. UNHCR mengatakan baru menerima sepertiga dari 1 miliar yang diperlukan untuk membantu para pengungsi Suriah hingga Juni.

Meskipun kekurangan uang tunai, Moumtzis mengatakan lembaga-lembaga bantuan PBB telah meningkatkan bantuan sejak Januari. Ia mengatakan mereka telah menambah jumlah staf, layanan kesehatan, makanan, air, sanitasi, penampungan dan program-program pendidikan.

“Meskipun kami telah menyiapkan layanan bantuan dan operasi bantuan 24 jam sehari, ada pekerja bantuan yang bekerja malam hari serta siang hari karena para pengungsi melintasi perbatasan setiap hari – kami khawatir bahwa kami mungkin tidak dapat melanjutkan operasi ini kecuali dana tersedia segera. Kami berada pada titik krisis,” ungkap Moumtzis.

Moumtzis mengatakan lembaga-lembaga bantuan PBB itu telah berusaha keras menghemat anggaran dan ia tidak mengetahui apa lagi yang bisa dihemat. Ia menekankan bahwa kamp-kamp pengungsi sudah terlalu sesak dan tempat penampungan baru harus dibangun lagi.
XS
SM
MD
LG