Tautan-tautan Akses

Umat Kristen Ortodoks Peringati 1.700 Tahun Fatwa Toleransi


Seorang biarawati mengambil gambar di tengah umat yang merayakan 1.700 tahun Fatwa Milan, atau fatwa toleransi umat Kristen, di kota Nis, Serbia (6/10). (Reuters/Marko Djurica)

Seorang biarawati mengambil gambar di tengah umat yang merayakan 1.700 tahun Fatwa Milan, atau fatwa toleransi umat Kristen, di kota Nis, Serbia (6/10). (Reuters/Marko Djurica)

Para pemimpin gereja menyerukan lebih banyak kebebasan beragama dan rekonsiliasi, serta pembebasan para uskup yang diculik di Suriah.

Delapan pemimpin kelompok Kristen Ortodoks, petinggi-petinggi agama lain, politisi dan ribuan lainnya berkumpul di kota Nis, Serbia, Minggu (6/10), untuk memperingati Fatwa Milan mengenai toleransi untuk kelompok Kristen di Kekaisaran Romawi pada 1.700 tahun yang lalu.

Paus Fransiskus dari Gereja Katolik Roma tidak hadir pada liturgi tersebut, mencerminkan perpecahan antara dua kelompok Kristen utama tersebut, meski ada langkah-langkah dari keduanya menuju rekonsiliasi dan dialog.

Sementara itu, Gereja Katolik juga memperingati fatwa yang sama dalam sebuah misa di Nis bulan lalu, dipimpin oleh Kardinal Milan, Angelo Scola.

Kota Nis, 200 kilometer dari Belgrad, terpilih sebagai tempat perayaan karena kaisar Konstantin Agung, yang memproklamirkan toleransi beragama, lahir di kota Romawi yang dulunya bernama Naissus itu pada tahun 272.

Pemimpin kelompok Ekumenis, Bartholomew, diapit oleh pemimpin-pemimpin Theofilos Yerusalem, Kiril Rusia, Irinej Serbia, dan mitra-mitra mereka dari Albania, Siprus, Polandia, Slovakia dan gereja-gereja Ortodoks yang lebih kecil lainnya, saat ia menyerukan lebih banyak kebebasan beragama dan rekonsiliasi.

“Banyak orang Kristen yang dianiaya di Timur Tengah, Suriah, Mesir, Irak dan Nigeria serta tempat-tempat lain, hanya karena perkataan Tuhan dan kesaksian Yesus,” ujarnya.

Ia mendesak pembebasan Uskup Ortodoks Suriah Yohanna Ibrahim dan Uskup Ortodoks Yunani Paul Yazigi, yang diculik April lalu selama pertempuran di Aleppo, Suriah. Pemerintah Suriah telah menyalahkan kelompok pemberontak, yang telah menyangkal tuduhan tersebut. (Reuters)
XS
SM
MD
LG