Tautan-tautan Akses

Umat Hindu Surabaya Doakan Kedamaian dan Kerukunan di Indonesia

  • Petrus Riski

Pawai ogoh-ogoh umat Hindu di Surabaya, Jawa Timur, menjelang hari raya Nyepi. (VOA/Petrus Riski)

Pawai ogoh-ogoh umat Hindu di Surabaya, Jawa Timur, menjelang hari raya Nyepi. (VOA/Petrus Riski)

Umat Hindu di Surabaya dan Jawa Timur menggelar rangkaian ritual perayaan Nyepi dengan tema “Dengan Kekeluargaan Kita Bangun Kebersamaan”.

Sebanyak 11 boneka ogoh-ogoh yang melambangkan sifat keburukan manusia diarak mengelilingi kompleks Tugu Pahlawan di Surabaya, Senin (10/3) sebagai simbol kejahatan dan keburukan sifat manusia yang harus dimusnahkan dan disucikan.

Ketua Panitia Hari Raya Nyepi 2013, I Nyoman Sutantra mengatakan, pawai ogoh-ogoh diharapkan mampu mengusir sifat jahat dan keburukan, agar alam dan diri manusia kembali suci dan bersih.

“Itu penyucian alam semesta dan penyucian diri kita, dari makhluk-makhluk yang jahat, dan dari sifat-sifat yang jahat, sifat raksasa dan sifat binatang, yang disimbolkan oleh ogoh-ogoh tadi. Makanya ogoh-ogoh diputar, dipawaikan, supaya diusir dari alam ini, atau diusir dari badan kita ini, kemudian dibakar, artinya kita membakar semua hal-hal yang jelek,” ujar Sutantra.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Surabaya, I Wayan Suraba, berbagai permasalahan ekonomi, hukum, sosial, serta moral yang dialami bangsa Indonesia, tidak lepas dari berkuasanya sifat-sifat buruk yang ada pada diri manusia yang dilambangkan oleh boneka ogoh-ogoh.

“Pertama adalah manusia binatang, manusia wujudnya tetapi tingkah lakunya seperti binatang. Jadi mereka yang korupsi itu, rakus seperti itu, ya sifatnya ya binatang seperti itu. Mereka yang membunuh, mereka yang mencaci ya seperti itulah. Jadi manusia binatang dengan sifat binatang. Yang kedua adalah manusia raksasa, mereka yang sangat keras sekali sebagai manusia, memang wajahnya, wujudnya manusia, tapi hatinya kakunya luar biasa gitu,” ujarnya.

Perayaan Nyepi bagi umat Hindu ditandai dengan melakukan Catur Brata Penyepian atau empat hal yang dilakukan untuk mengendalikan panca indera, pikiran, perkataan dan perbuatan, dalam bentuk berpuasa, sambil tidak menyalakan api atau penerangan, tidak melakukan aktivitas pekerjaan, tidak melakukan perjalanan atau bepergian, serta tidak melakukan hal-hal yang menyenangkan hawa nafsu pribadi.

Menurut ketua Banjar atau Masyarakat Hindu Bali di Surabaya, I Made Sutarya, perayaan Nyepi lebih pada upaya untuk mengendalikan serta memohonkan kedamaian di dunia.

“Hari Raya Nyepi itu, kita yang namanya untuk pawasa, atau puasa, itu intinya adalah bagaimana kita bisa mengendalikan diri kita untuk mematikan api atau panas yang ada di diri kita,” ujarnya.
XS
SM
MD
LG