Tautan-tautan Akses

Ulama Terkemuka Irak Bertemu PM al-Abadi


Ulama Syiah Irak Muqtada al-Sadr dalam khotbah di dekat Najaf, Irak. (Foto: Dok)

Ulama Syiah Irak Muqtada al-Sadr dalam khotbah di dekat Najaf, Irak. (Foto: Dok)

Al-Sadr telah berulangkali menyerukan kepada Al Abadi untuk melakukan reformasi ekonomi dan politik secara menyeluruh.

Ulama terkemuka Irak Muqtada al-Sadr bertemu dengan Perdana Menteri Haider al-Abadi Minggu malam (27/3) setelah dimulainya aksi menduduki Zona Hijau yang dijaga sangat ketat, guna menunjukkan kekuatan pasca seruannya untuk memberantas korupsi di dalam tubuh pemerintahan.

Sebelumnya pada Minggu pagi, pasukan keamanan menepi supaya al-Sadr bisa memasuki Zona Hijau, pasca demonstrasi selama beberapa minggu di ibukota Irak tersebut.

Al-Sadr telah berulangkali menyerukan kepada al-Abadi untuk melakukan reformasi ekonomi dan politik secara menyeluruh.

“Saya adalah wakil rakyat dan akan memasuki Zona Hijau ini," ujar al-Sadr kepada ratusan pendukungnya yang berkumpul di luar dinding kompleks itu, sambil meminta mereka supaya tetap berada di luar dan tenang.

Saat al-Sadr berjalan melewati pos pemeriksaan keamanan untuk memasuki Zona Hijau itu, beberapa petugas yang menjaga keamanan menyambutnya dengan ciuman dan mempersilahkannya duduk. Al-Sadr ditemani oleh penjaga keamanan pribadi dan pemimpin milisi Syiah kelompoknya, Sarayat al-Salam. Setelah memulai aksi duduknya, para pendukung Al Sadr mendirikan tenda-tenda dan menggelar tikar.

Bulan Februari lalu, al-Sadr menuntut penggantian politisi-politisi Irak dengan lebih banyak teknokrat, juga supaya kelompok milisi Syiah yang berkuasa di negara itu diikutsertakan dalam kementerian pertahanan dan dalam negeri.

Setelah meningkatnya aksi demonstrasi selama beberapa pekan ini di ibukota Irak, al-Sadr berulangkali mengancam akan menyerbu kompleks Zona Hijau jika tuntutan reformasi pemerintahan tidak dipenuhi.

Zona Hijau di Baghdad yang dikelilingi oleh dinding yang dilengkapi bahan peledak dan kawat listrik itu, dekat dengan rumah sebagian besar warga, elit politik Irak dan kedutaan-kedutaan besar asing. al-Sadr menyebut komplek itu sebagai “benteng” korupsi.

Sebagian besar rakyat Irak menyalahkan para politisi atas terjadinya mismanajemen dan korupsi yang menguras sumber daya yang sudah sangat langkah di Irak. Namun tidak seperti aksi demonstrasi besar yang meluas pada musim panas lalu, demonstrasi al-Sadr kali ini dihadiri oleh para pendukung yang telah menyampaikan tuntutan kebijakan konkret. [em]

XS
SM
MD
LG