Tautan-tautan Akses

Ulama Diimbau Tak Sebarkan Kebencian dalam Dakwah

  • Fathiyah Wardah

Seminar internasional dengan tema Peran Dakwah Damai di Jakarta, Minggu (15/7). Dari kiri: ulama India, Muhammad Ali Nadfi, moderator Husein Shahab, dan Dosen UIN Sunan Kalijaga Dhiyauddin Quswandi (foto: Fathiyah/VOA).

Seminar internasional dengan tema Peran Dakwah Damai di Jakarta, Minggu (15/7). Dari kiri: ulama India, Muhammad Ali Nadfi, moderator Husein Shahab, dan Dosen UIN Sunan Kalijaga Dhiyauddin Quswandi (foto: Fathiyah/VOA).

Dosen Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Dr. Dhiyauddin Quswandi menyatakan ulama dalam dakwahnya harus menghargai keberagaman agama, budaya dan etnis yang ada di Indonesia.

Dosen Filsafat Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Doktor Dhiyauddin Quswandi dalam seminar internasional yang bertema peran dakwah damai para habaib menyatakan para ulama dalam menyampaikan dakwahnya tidak boleh menyebarkan kebencian kepada kelompok tertentu.

Menurutnya ulama memiliki tiga peran penting yaitu sebagai pendakwah, pendidik, dan pemersatu sehingga kata Dhiyauddin, seluruh tema sentral dalam dakwah harusnya mengarah kepada tiga hal tersebut.

Indonesia adalah bangsa yang memiliki banyak etnis, budaya dan agama, oleh karena Dhiyauddin mengatakan, ulama dalam dakwahnya harus menghargai adanya keberagaman itu.

"Ulama ini jangan menambahi beban yah, sudah memiliki suatu beban persoalan-persoalan politik, ekonomi, sosial dan budaya ditambah lagi dengan persoalan-persoalan agama seperti konflik agama. Kita tahu bahwa Indonesia adalah multi etnis, multi budaya juga multi agama karena itu harusnya bagaimana dakwah ini menghargai adanya keberagaman seperti ini. Orang mencela agama lain tanda dia tidak mengerti agamanya sendiri," papar Dhiyauddin Quswandi.

Sementara, Abdul Hadi dari Lembaga Studi Agama dan Budaya Indonesia menilai meningkatnya ekstremisme dan intoleransi di antara umat beragama berakar pada pengajaran dan dakwah yang menjauh dari spiritualitas dan tasawuf.

Peran ulama dan habaib kata Hadi sangat penting dalam membangun suatu bangsa.

Rumah seorang jemaah Ahmadiyah di Cikeusik yang jadi sasaran serangan massal (foto: dok). Kekerasan terhadap para penganut Ahmadiyah dinilai telah melanggar HAM.

Rumah seorang jemaah Ahmadiyah di Cikeusik yang jadi sasaran serangan massal (foto: dok). Kekerasan terhadap para penganut Ahmadiyah dinilai telah melanggar HAM.

"Jadi misalnya, oke Ahmadiyah dikatakan sesat karena berbeda. Cuma, (hal itu) bukan berarti ketika orang-orang ini dianggap sesat, lalu kita harus melakukan anarkisme kepada mereka. Itu tidak benar. Kenapa tidak benar?, karena mereka pun masih terancam, anak-anak mau sekolah takut, isteri terancam. Itu kan sudah keterlaluan, padahal kan ada hak-hak mereka," ujar Abdul Hadi.

Sedangkan seorang ulama dari India Muhammad Ali Nadfi yang ikut dalam acara seminar internasional di Jakarta, Minggu menilai banyak ulama di Indonesia yang pesan-pesan dakwahnya mengandung pesan cinta, dan hal itu harus dicontoh oleh negara lain.

"Dari India dan dari dunia melihat sebetulnya di Indonesia ini pesan-pesan dakwah itu mengandung pesan-pesan cinta dan jalan tengah yang menjadi wajib dicontoh bagia dunia lainnya," ungkap Muhammad Ali Nadfi.

Di tempat yang sama, Ketua DPR Marzuki Ali menyampaikan dalam dakwahnya para ulama penting menyampaikan pesan-pesan cinta dan persaudaraan karena saat ini kekerasan atas nama agama meningkat.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG