Tautan-tautan Akses

Poroshenko, Putin Sepakati Perlunya Gencatan Senjata

  • Al Pessin

President Ukraina Petro Poroshenko dan Presiden Rusia Vladimir Putin saat bertemu di Ouistreham, Perancis 6 Juni lalu (foto: dok).

President Ukraina Petro Poroshenko dan Presiden Rusia Vladimir Putin saat bertemu di Ouistreham, Perancis 6 Juni lalu (foto: dok).

Presiden Ukraina Poroshenko dan Presiden Rusia Vladimir Putin Senin (30/6) telah sepakat untuk mengusahakan tercapainya gencatan senjata di Ukraina timur.

Kantor Presiden Perancis menyatakan pemimpin Ukraina dan Rusia telah sepakat untuk mengusahakan tercapainya gencatan senjata antara Ukraina dan kelompok separatis pro-Rusia, apabila gencatan senjata sepihak yang diumumkan Ukraina tanggal 20 Juni lalu berakhir..

Pernyataan dari kantor Presiden Perancis Francois Hollande itu disampaikan setelah pembicaraan telepon bersama Senin pagi antara Presiden Ukraina Petro Poroshenko, Presiden Rusia Vladimir Putin, Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Perancis Francois Hollande. Pernyataan itu menyatakan Poroshenko dan Putin juga menyepakati pembentukan pengawasan perbatasan yang efektif dan membahas pembebasan tahanan.

Kremlin mengatakan Putin menekankan pentingnya memperpanjang gencatan senjata dan menciptakan “mekanisme kontrol yang kuat terhadap pelaksanaan gencatan senjata itu”, lewat peran aktif Organisasi Keamanan dan Kerjasama Eropa OSCE.

Para pemimpin Barat dan Rusia ingin pertempuran yang agak reda berlanjut tapi Presiden Ukraina, Petro Poroshenko menghadapi tekanan publik untuk melanjutkan serangan terhadap separatis yang didukung Rusia. Bentrokan selama gencatan senjata yang sedang berlangsung telah menewaskan beberapa tentara Ukraina.

Pada saat yang sama para pemimpin Perancis dan Jerman ingin Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mempengaruhi separatis agar mengakhiri konflik itu.

Tapi Putin menolak, dengan mengklaim tidak punya kekuasaan atas pejuang di Ukraina timur dan pejabat Rusia mengatakan kekhawatiran atas apa yang mereka katakan rezim “fasis dan radikal” di Kyiv terbukti. Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov berbicara di televisi hari Sabtu.

Lavrov mengatakan kekuatan-kekuatan sayap kanan di Kyiv mendorong Presiden Poroshenko ke arah konflik dengan separatis pro Rusia. Ia menuduh Amerika melakukan hal yang sama.

Sikap Rusia tampak lebih keras setelah kematian wartawan Rusia yang ke tiga hari Minggu dalam pertempuran di Ukraina timur.

Sementara itu Uni Eropa mengancam Rusia dengan apa yang disebut kanselir Jerman Angela Merkel “langkah-langkah drastis” dalam bentuk peningkatan sanksi ekonomi jika Rusia tidak menghentikan kelompok separatis itu. Tapi para pemimpin Rusia tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengubah kebijakan mereka setelah sanksi berbulan-bulan terutama yang disebabkan aneksasi Rusia atas wilayah Krimea di Ukraina selatan.

Kepala program Rusia dan Eurasia pada lembaga Chatham House, di London, James Nixey memperkirakan Presiden Putin sekarang tidak akan mengubah sikapnya.

Dan Nixey mengatakan sikap Rusia diperkuat oleh banyak negara Uni Eropa yang enggan memberlakukan sanksi yang lebih banyak lagi.

“Kecil kemungkinan akan ada putaran baru sanksi sekarang. Saya kira pihak barat cemas untuk mengambil tindakan tegas semacam ini tanpa mengetahui dampak tindakan balasan dari Rusia,” kata Nixey.

Dampak itu juga akan mempengaruhi negara-negara Barat, banyak diantaranya bergantung pada perdagangan dengan Rusia khususnya impor minyak, untuk mencegah ekonomi mereka yang rentan kembali ke resesi.

Meski demikian para pakar mengatakan memperpanjang gencatan senjata dan melanjutkan perundingan mungkin bagian yang mudah. Yang lebih sulit adalah menemukan formula politik yang memuaskan Rusia dan separatis tanpa memaksa Ukraina untuk menyerahkan lebih banyak wilayahnya.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG