Tautan-tautan Akses

Ukraina, Rusia: Dipersatukan Agama, Dipecah Politik


Pendeta Ortodoks Ukraina memercikkan air suci pada umat dan hidangan "paskha", sehari sebelum kebaktian Paskah di gereja Ortodoks di Luhansk, sebelah timur Ukraina (19/4). (Reuters/Vasily Fedosenko)

Pendeta Ortodoks Ukraina memercikkan air suci pada umat dan hidangan "paskha", sehari sebelum kebaktian Paskah di gereja Ortodoks di Luhansk, sebelah timur Ukraina (19/4). (Reuters/Vasily Fedosenko)

Ada sejarah hubungan agama yang kuat antara Rusia dan Ukraina. Menjelang perayaan Paskah, peran agama dalam konflik yang sekarang terjadi muncul kembali.

Sejak permulaan, imam memainkan peran dalam demonstrasi-demonstrasi di Kyiv dan bagian-bagian lain Ukraina, seperti dikemukakan oleh Profesor Andrei Zubob, seorang ahli sejarah agama.

"Para rohaniwan dari kelompok-kelompok yang berbeda -- Ortodoks, Unitarian, Katolik Yunani -- semuanya bersama," ujarnya.

Sementara pemimpin-pemimpin gereja dari semua aliran agama di Ukraina tampak mendukung kepemimpinan politik baru di Kyiv, tetapi imam Rusia bungkam sehubungan peristiwa-peristiwa yang akhir-akhir ini berkembang di sana.

"Kita belum mendengar Gereja Ortodoks Rusia mengambil sikap dalam situasi di Ukraina. Mereka bahkan tidak menyerukan gencatan senjata selama Paskah," ujar Alexander Soldatov, seorang jurnalis Rusia yang meliput soal agama.

Konflik yang terjadi sekarang di Ukraina mungkin akan menyebabkan perpecahan antara Gereja Ortodoks Rusia dan cabang-cabangnya di Ukraina. Gereja Ortodoks Rusia, yang mempunyai hubungan erat dengan Pemerintah Rusia tidak memberikan komentar mengenai laporan ini.

"Kalau mereka memberikan dukungan kepada Presiden Putin, rekan-rekan mereka di Ukraina bisa marah. Kalau mereka mendukung Ukraina, hal itu akan menimbulkan masalah besar dengan pemerintah Rusia," ujar Profesor Zubov.

Kurang lebih 40 persen penganut Ortodok di Ukraina adalah jemaat Ortodoks Rusia. Zubov dan Soldatov mengatakan, pemimpin Gereja Ortodoks Rusia Kirill berselisih dengan Presiden Putin mengenai konflik itu.

Sebagai bukti, mereka mengacu pada absennya Kirill dalam pidato Presiden Putin pada 18 Maret mengenai Krimea di Kremlin. Tetapi rohaniwan Gereja Ortodoks Ukraina Yakov Krotov menepis anggapan itu.

"Secara resmi, gereja mutlak berada di belakang Putin dan desas-desus mengenai Pemimpin Ortodoks Rusia Kirill hanya kabar angin," ujarnya.

Krotov mengatakan Kirill tidak mau berselisih dengan pemerintah Rusia maupun dengan pihak gereja Ortodoks di Ukraina, dan menyebut sikapnya yang diam “tidak bermakna apa-apa”.

Soldatov juga mengemukakan, imam-imam aktif dalam demontsrasi di Kyiv, tetapi mereka tidak tampak di manapun dalam demonstrasi pro-Rusia di Ukraina timur.

"Meskipun banyak rokhaniwan dari semua aliran hadir di Lapangan Maidan, Kyiv. Tidak ada yang berdiri di barikade yang mengelilingi gedung-gedung pemerintah di Luhansk dan Donetsk," ujarnya.

Bagi umat Ortodoks Rusia maupun Ukraina, Hari Paskah adalah hari keagamaan yang paling penting. Banyak umat sudah pasti berdoa agar Ukraina dan Rusia bisa menghindari peningkatan dari konflik yang sedang berlangsung.
XS
SM
MD
LG