Tautan-tautan Akses

Ukraina dan Jepang Akan Awasi Fukushima dari Antariksa


Seorang perempuan mengenakan masker bertuliskan "Hilangkan Nuklir" dalam peringatan 25 tahun bencana Chernobyl dan protes di depan kantor pusat Tokyo Electric Power Company (TEPCO). (Foto: Dok)

Seorang perempuan mengenakan masker bertuliskan "Hilangkan Nuklir" dalam peringatan 25 tahun bencana Chernobyl dan protes di depan kantor pusat Tokyo Electric Power Company (TEPCO). (Foto: Dok)

Proyek kerja sama Ukraina dan Jepang bertujuan mengirim satelit ke antariksa untuk mengawasi dampak radioaktif di wilayah dekat PLTN Chernobyl dan Fukushima.

Ukraina dan Jepang pada Senin (26/8) sepakat untuk meluncurkan proyek satelit gabungan untuk melacak kondisi pembangkit listrik tenaga nuklir Chernobyl dan Fukushima, situs-situs tempat bencana nuklir terbesar di dunia.

“Kami telah sepakat mengenai kerja sama di sektor antariksa untuk mengawasi wilayah-wilayah sekitar Chernobyl dan Fukushima,” ujar menteri Luar Negeri Fumio Kishida pada wartawan seusai pembicaraan dengan mitranya dari Ukraina, Leonid Kozhara.

Proyek tersebut bertujuan mengirim delapan satelit miniatur ke orbit pada 2014, untuk mengumpulkan informasi mengenai dampak radioaktif di wilayah-wilayah yang dekat dengan kedua PLTN tersebut.

Menurut Kementerian Luar Negeri Jepang, kerja sama tersebut merupakan proyek gabungan antara Tokyo University dan badan antariksa Ukraina dengan peluncuran satelit-satelit yang dibangun di Jepang oleh roket-roket pembawa Ukraina.

Pada Maret 2011, gempa dan tsunami menyebabkan kebocoran di PLTN Fukushima di timur laut Jepang. Pembersihan bencana tersebut diperkirakan memakan waktu empat dekade.

Meski tidak ada korban jiwa sebagai akibat langsung kebocoran reaktor, wilayah yang luas di sekitar PLTN tersebut harus dievakuasi, dan puluhan ribu belum dapat kembali ke tempat tinggal mereka.

Satelit-satelit dalam program gabungan tersebut diperkirakan berbobot sekitar 60 kilogram dan berdiameter 50 sentimeter, menurut anggota delegasi Jepang. Satelit-satelit itu akan mengambil gambar setiap dua jam dari ketinggian sekitar 600 kilometer.

Mereka juga akan menerima sinyal-sinyal dari sensor-sensor yang dipasang di tanah untuk mengumpulkan informasi dari wilayah-wilayah tempat tingkat radiasi melebihi ketentuan.

Pada Minggu, Kishida mengunjungi Chernobyl, situs tragedi 1986, sebagai bagian dari perjalanannya ke Ukraina untuk membandingkan catatan-catatan mengenai upaya-upaya bantuan menyusul bencana Fukushima.

“Kemarin di PLTN Chernobyl, saya terkesan dengan fakta bahwa bahkan setelah 27 tahun sejak kecelakaan, Ukraina masih terus bergulat dengan dampak-dampak dari bencana tersebut,” ujar Kishida.

Ledakan pada reaktor nomor empat di PLTN Chernobyl pada dini hari 26 April 1986, membocorkan radioaktif ke atmosfer yang menyebar dari Uni Soviet sampai Eropa.

Menurut data-data resmi Ukraina, lebih dari 25.000 petugas pembersih dari Ukraina, Rusia dan Belarus telah meninggal sejak bencana tersebut.

Hanya dua bencana tersebut yang telah dikategorikan sebagai level tujuh, atau level tertinggi dalam Scala Peristiwa Nuklir Internasional (INES) dari Perserikatan Bangsa-Bangsa. (AFP)
XS
SM
MD
LG