Tautan-tautan Akses

Uji Coba Nuklir Korea Utara Berubah dari Pertahanan ke Ofensif

  • Brian Padden

Latihan tembak unit artileri Korea Utara saat diinspeksi pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, dirilis oleh kantor berita Korea Utara (KCNA), 5 Januari 2015 (Foto: dok).

Latihan tembak unit artileri Korea Utara saat diinspeksi pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, dirilis oleh kantor berita Korea Utara (KCNA), 5 Januari 2015 (Foto: dok).

Washington dan Seoul meragukan bahwa Pyongyang telah berhasil memajukan program pengembangan nuklirnya untuk memproduksi bom hidrogen termonuklir, yang lebih kuat dibanding tiga bom atom yang telah diuji sebelumnya.

Pasukan militer Amerika Serikat dan Korea Selatan di Semenanjung Korea berada dalam keadaan siaga tinggi menyusul uji coba nuklir keempat Korea Utara pada hari Rabu.

Angkatan Udara Amerika dilaporkan mengirim pesawat udara khusus dari pangkalan udara Kadena di Okinawa untuk mengumpulkan sisa-sisa partikel radioaktif yang dihasilkan uji coba itu untuk memastikan klaim Korea Utara bahwa mereka berhasil menguji coba bom hidrogen.

Washington dan Seoul meragukan bahwa Pyongyang telah berhasil memajukan program pengembangan nuklirnya untuk memproduksi bom hidrogen termonuklir, yang lebih kuat dibanding tiga bom atom yang telah diuji sebelumnya.

Menteri Pertahanan Korea Selatan Han Min-koo dan Menteri Pertahanan Amerika Ashton Carter, Kamis, membahas langkah-langkah tanggapan yang dipertimbangkan aliansi militer Korea Selatan-Amerika, selain latihan bersama yang berlanjut.

“Saya dan Menteri pertahanan Amerika sepakat bahwa Korea Utara harus menanggung akibat dari provokasi yang dilakukannya,” kata Menteri Han Min-koo.

Korea Utara diyakini memiliki cukup plutonium untuk membuat delapan hingga 12 senjata nuklir, yang menurut banyak analis keamanan lebih dari cukup untuk mencegah ancaman invasi dari Amerika atau Korea Selatan.

Bahkan jika uji coba nuklir keempat menunjukkan bahwa kekuatan bom itu lebih lemah dari bom hidrogen, perkembangan terbaru ini tampaknya mengindikasikan bahwa program pengembangan nuklir Korea Utara telah berubah dalam beberapa tahun terakhir dari pertahanan ke strategi militer yang lebih ofensif.

Pyongyang dilaporkan melanjutkan kembali operasi instalasi pengayaan uraniumnya tahun lalu untuk memproduksi lebih banyak bahan bakar senjata nuklir.

Lembaga Sains dan Keamanan Internasional yang berbasis di Washington memperkirakan bahwa Korea Utara dapat meningkatkan persenjataan nuklirnya antara 20 dan 100 senjata sebelum tahun 2020.

Uji coba nuklir pekan ini menyusul laporan-laporan mengenai kegagalan uji misil balistik yang diluncurkan dari kapal selam Korea Utara sebelumnya bulan ini. Jika ujicoba itu berhasil, kemampuan ini memungkinkan Pyongyang menyerang wilayah manapun di dunia, termasuk Amerika.

Tahun lalu, pihak berwenang militer Amerika mengatakan, mereka yakin Korea Utara memiliki kemampuan mengecilkan hulu ledak nuklir untuk bisa dipasang pada misil jarak jauh KN-08, meskipun Korea Utara sendiri belum pernah mendemonstrasikan kemampuannya itu.

Korea Utara juga terus mengembangkan teknologi misil jarak jauhnya. Pyongyang diyakini memiliki 1000 misil buatan Soviet yang dapat menjangkau Korea Selatan dan Jepang.

Robert Kelly adalah analis Korea Utara di Universitas Nasional Pusan di Korea Selatan.

“Senjata-senjata itu bukan lagi untuk pembalasan atau pertahanan. Senjata-senjata itu merupakan senjata penghancur masyarakat. Jika Anda menjatuhkan bom hidrogen di Seoul dan beberapa lainnya di kota-kota besar di Korea Selatan, Anda tidak hanya membunuh banyak orang, tapi juga mengancam kemampun Korea Selatan untuk berfungsi sebagai sebuah negara," ujarnya.

Menyusul uji coba nuklir Korea Utara, para pejabat pertahanan Korea Selatan menegaskan rencananya untuk membangun pertahanan misil jarak dekat, termasuk sistem Pertahanan Udara dan Misil Korea (KAMD) dan sistem yang beri nama Kill Chain.

Beberapa anggota parlemen di Seoul menyerukan agar Korea Selatan mengembangkan senjata nuklir sendiri untuk mengonter ancaman nuklir yang semakin meningkat dari Korea Utara. Meski demikian, menteri perhatanan Korea Selatan dengan segera menolak kemungkinan untuk menempatkan senjata nuklir di Korea Selatan. [ab/lt]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG