Tautan-tautan Akses

Tutu: Pemerintah Afrika Selatan Lebih Buruk dari Rejim Apartheid


Dalai Lama bersama Uskup Agung Desmond Tutu saat diundang oleh Universitas Washington di Seattle (foto: dok). Tutu marah karena pemerintah Afsel tidak memberikan visa kepada Dalai Lama.

Dalai Lama bersama Uskup Agung Desmond Tutu saat diundang oleh Universitas Washington di Seattle (foto: dok). Tutu marah karena pemerintah Afsel tidak memberikan visa kepada Dalai Lama.

Uskup Desmond Tutu mengecam pemerintah Afsel karena tidak mengeluarkan visa bagi Dalai Lama yang akan menghadiri perayaan HUT ke-80 Tutu.

Uskup Agung Afrika Selatan Desmond Tutu mengatakan pemerintah negara itu lebih buruk dari rejim apartheid karena tidak mengeluarkan visa bagi Dalai Lama.

Tutu berkomentar hari Selasa segera setelah Dalai Lama mengatakan kegagalan Afrika Selatan untuk memberinya visa memaksanya membatalkan rencana untuk menghadiri perayaan ulang tahun ke-80 Tutu yang merupakan salah seorang pemimpin anti apartheid.

"Harus saya katakan, saya tidak percaya. Saya benar-benar tidak percaya. Bahwa hal ini terjadi di sini. Dan sangat tidak dapat dipercaya perlakuan buruk mereka terhadap Dalai Lama," ujar Tutu dengan marah.

Desmond Tutu menambahkan, bahkan di zaman apartheid, pemerintah Afsel selalu menanggapi permohonan visa sekalipun keputusan itu seperti yang diperkirakan, hampir selalu negatif. Katanya, jelas, pemerintah bertekad menghindari kemarahan Pemerintah Tiongkok. Ia mengatakan, ketika memegang jabatan, Presiden Nelson Mandela tidak mau didikte oleh siapapun, pihak mana yang seharusnya menjadi sahabat Afrika Selatan.

Desmond Tutu mengatakan, sungguh luar biasa bahwa pemerintah pimpinan Partai Kongres Nasional Afrika, yang menerima banyak dukungan internasional dalam usahanya mengakhiri sistem penindasan, bisa sangat tidak peduli terhadap rakyat Tibet yang ditindas oleh Pemerintah Tiongkok. Menurut Tutu, mereka yang berkuasa hanya bertindak untuk kepentingan pribadi mereka.

"Kalian memalukan, saya ingin memperingatkan kalian, karena berperilaku sangat berbeda dengan pendirian kami. Saya memperingatkan kalian. Kami akan berdoa seperti kami berdoa dulu untuk kejatuhan pemerintah apartheid, kami akan berdoa untuk tergulingnya pemerintah yang tidak mewakili kami," kata Tutu dengan geram.

Partai Kongres Nasional Afrika yang berkuasa menanggapi bahwa komentar Tutu itu “disesalkan” dan mengatakan ia seharusnya mendengar penjelasan pihak pemerintah sebelum mengeluarkan tuduhan.

Kantor Dalai Lama mengatakan, mereka yakin bahwa pemerintah Afrika Selatan “tidak nyaman” mengeluarkan visa bagi pemimpin spiritual Tibet itu.

Namun, pejabat-pejabat Afrika Selatan menyangkal ditekan Tiongkok, mitra dagang pentingnya untuk menggagalkan kunjungan itu. Tiongkok secara rutin melakukan tekanan kepada pemerintah-pemerintah yang mengijinkan kunjungan Dalai Lama.

Clayson Monyela, jurubicara Departemen Hubungan dan Kerjasama Internasional, mengatakan, Dalai Lama tidak perlu membatalkan kunjungannya, dan permohonan visanya tidak ditolak.

Dua puluh persen dari perdagangan Tiongkok di Afrika terdapat di Afrika Selatan, dan kedua negara itu tahun lalu menandatangani Persetujuan Kemitraan Strategis.

XS
SM
MD
LG