Tautan-tautan Akses

Turki, Uni Eropa Berupaya Selamatkan Perjanjian Migran

  • Dorian Jones

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan berbicara di depan para pendukungnya di Istanbul (6/5). Erdogan mengatakan, Uni Eropa lebih memperhatikan nasib anjing dan hak-hak kaum gay dari pada pengungsi Suriah.

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan berbicara di depan para pendukungnya di Istanbul (6/5). Erdogan mengatakan, Uni Eropa lebih memperhatikan nasib anjing dan hak-hak kaum gay dari pada pengungsi Suriah.

Pejabat Uni Eropa dan Turki bertemu untuk menyelamatkan perjanjian visa Uni Eropa. Sejak Perdana Menteri Turki Ahmet Davutoglu disingkirkan oleh Presiden Recep Tayyip Erdogan, perjanjian itu terancam dengan meningkatnya retorika tajam dari kedua pihak.

Pertemuan mahasiswa internasional hari Minggu (15/5) menjadi tempat terbaru bagi Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan untuk mengecam Uni Eropa dan mengumumkan Turki telah menerima tiga juta pengungsi sedangkan Uni Eropa hanya mengamati.

Hari Jumat, Erdogan mengatakan Uni Eropa lebih memperhatikan nasib anjing dan hak-hak kaum gay dari pada pengungsi Suriah.

Retorika berkepanjangan itu keluar ketika Uni Eropa berkeras Turki harus menyelaraskan UU anti terornya agar bisa mendapat kemudahan bebas visa untuk perjalanan ke negara-negara Eropa.

Perjalanan bebas visa merupakan keinginan lama pemerintah Turki yang dijanjikan Uni Eropa sebagai imbalan Turki menerima kembali migran yang masuk ke Eropa dari wilayahnya. Konsultan politik Atilla Yesilada dari kemitraan Global Source mengatakan perjanjian yang digembar-gemborkan sebagai bab baru dalam hubungan Turki-Uni Eropa itu menghadapi tantangan besar.

"Keinginan untuk bersatu dengan Uni Eropa sudah tidak ada lagi. Erdogan tidak akan mengubah UU anti teror untuk mendapatkan bebas visa. Sebaliknya kita mungkin harus mengantisipasi krisis karena seorang anggota senior AKP, Burhan Kuzu mengatakan Turki harus mengirim semua pengungsi Suriah ke Eropa. Jadi saya mengantisipasi sebuah krisis dengan Eropa," kata Yesilada.

Salah satu harian yang pro pemerintah Turki memberi tahu para migran agar "menyiapkan koper".

Erdogan berkeras dari pada memaksakan UU anti teror, Uni Eropa seharusnya memperluas kerjasama dengan Turki yang menghadapi dua ancaman teror; dari pemberontak Kurdi dan ISIS.

Tapi kolumnis politik Kadri Gursel dari harian Cumhuriye dan situs web Al Monitor mengatakan kesepakatan Uni Eropa itu adalah korban ketegangan antara presiden dan mantan perdana menterinya Ahmet Davutoglu.

Erdogan menyingkirkan perdana menterinya awal bulan ini dan Davutoglu akan digantikan oleh anggota kongres Partai AKP bulan ini.

Para pengamat mengatakan pujian pejabat Uni Eropa terhadap Davutoglu sementara mengecam Erdogan semakin membuat kesal Presiden Turki itu.

Pejabat Uni Eropa berusaha keras untuk menyelesaikan kebuntuan itu. Sejak perjanjian migran itu disetujui migran yang memasuki Yunani dari Turki sudah turun 90%.

Kanselir Jerman Angela Merkel salah seorang pemrakarsa dan pendukung utama perjanjian migran itu, diharapkan bertemu dengan rekannya dari Turki ketika menghadiri KTT Kemanusiaan PBB di Istanbul minggu depan.

Para pengamat mengatakan, pertemuan itu bisa menjadi kesempatan terakhir untuk menyelamatkan perjanjian migran itu, yang oleh para pengecamnya dikatakan lebih diutamakan Brussels dari pada prinsip-prinsip HAMnya. [my/isa]

XS
SM
MD
LG