Tautan-tautan Akses

Turki-Rusia Teruskan Perang Kata-kata


Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memperingatkan Rusia agar tidak "bermain api", sementara kedua negara terus berperang kata-kata (foto: dok).

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memperingatkan Rusia agar tidak "bermain api", sementara kedua negara terus berperang kata-kata (foto: dok).

Dalam pidato di Bayburt, kota di Turki timur-laut hari Jumat (27/11), Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memperingatkan Rusia agar tidak "bermain api."

Perang kata-kata antara Rusia dan Turki atas jatuhnya jet tempur Rusia berlanjut hari Jumat (27/11). Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memperingatkan Rusia agar tidak "bermain api."

Dalam pidato di Bayburt, kota di Turki timur-laut, Erdogan menuduh Rusia "bermain api" dengan menyerang kelompok-kelompok yang menentang Presiden Suriah Bashar al-Assad berdalih memerangi kelompok ISIS, dan dengan "tidak bertanggungjawab" menarget truk-truk yang beroperasi di Suriah untuk "kegiatan perdagangan atau bantuan kemanusiaan."

Kantor berita pemerintah Turki dan kelompok bantuan Turki hari Rabu melaporkan, pesawat Rusia menyerang konvoi bantuan Turki di Suriah, dekat perbatasan Turki, menewaskan tujuh orang dan melukai 10 orang.

Rusia marah setelah jet tempur Turki menembak jatuh pesawat tempurnya hari Selasa, mengancam hubungan kedua negara yang berada pada sisi berlawanan dalam perang Suriah, dan menimbulkan kekhawatiran akan konflik internasional yang lebih luas.

Dalam komentar hari Jumat, Erdogan tampak merespon Presiden Rusia Vladimir Putin, yang sehari sebelumnya, jelas merujuk ke Turki, mengatakan bahwa mereka yang "berbisnis kriminal" dengan teroris dan menggunakannya "untuk mencapai tujuan politik" adalah "bermain api."

Erdogan juga menuduh Rusia menggunakan jatuhnya pesawat sebagai alasan melontarkan "tuduhan yang tidak bisa diterima" kepada Turki. Ia menilai tuduhan Rusia bahwa Turki membeli minyak dari kelompok ISIS adalah "fitnah." Namun, Erdogan mengatakan ia ingin bertemu Putin "langsung" hari Senin di sela-sela KTT Iklim di Paris.

Putin belum menanggapi tawaran pemimpin Turki itu. Penasehat kebijakan luar negeri Kremlin Yury Ushakov hari Jumat mengutip "kurangnya kesiapan pihak Turki untuk menyampaikan permintaan maaf atas insiden pesawat."

Juga hari Jumat, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov membatalkan perjalanan bebas visa antara kedua negara, dengan alasan pemerintah Turki "melampaui batas apa yang bisa diterima." [ka/al]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG