Tautan-tautan Akses

Turki Posisikan Diri Sebagai Mediator Konflik Libya

  • Dorian Jones

PM Turki Recep Tayiyp Erdogan mendesak NATO mengontrol penuh operasi militer atas Libya (24/3).

PM Turki Recep Tayiyp Erdogan mendesak NATO mengontrol penuh operasi militer atas Libya (24/3).

Turki yang masih membuka kedutaan di Tripoli dan konsulat di Benghazi, memposisikan diri sebagai mediator dalam konflik di Libya.

Dengan berlanjutnya pertempuran di Libya, Turki meningkatkan upaya untuk mencari solusi politik bagi konflik itu. Turki adalah salah satu dari sedikit negara yang masih membuka kedutaannya di ibukota Tripoli dan konsulat Benghazi, pusat kelompok pemberontak.

Diplomat senior Turki Selim Yenel mengatakan solusi politik sangat penting bagi Libya.
"Turki saat ini sedang berbicara dengan kedua pihak, dan kami percaya Turki adalah salah satu dari sedikit negara yang dapat berbicara dengan kedua pihak. Pada akhirnya ini adalah jalan keluar satu-satunya. Kalau tidak, semakin banyak tindakan militer akan menyudutkan banyak orang dan kita harus menunjukkan jalan keluar. Kami percaya solusi diplomatik adalah jalan keluar," ujar Yenel.

Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan telah membina hubungan baik dengan pemimpin Libya Moammar Gadhafi, dan belum lama ini menentang kuat intervensi militer dan, khususnya, keterlibatan NATO. Tapi PM Erdogan telah mengubah pendiriannya sekarang, mendukung NATO dan menyerukan Gadhafi untuk mundur.

Pakar hubungan internasional Cengiz Aktar dari Universitas Bahcesehir di Istanbul mengatakan mediasi apapun akan sulit, tetapi pertanyaan yang lebih sulit lagi adalah apa yang akan terjadi berikutnya jika Gadhafi jatuh?

Aktar mengatakan, "Tidak ada oposisi yang terstruktur di Libya; bahkan tidak ada struktur politik apapun di Libya. Ini adalah masalah besar jika Gadhafi digulingkan. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Jadi ini adalah resep untuk timbulnya kekacauan."

Perdana Menteri Erdogan dan Presiden Turki Abdullah Gul memperingatkan bahwa Libya bisa menjadi Irak atau Afghanistan. Kedua pemimpin juga mengecam keras Perancis karena mendukung penuh serangan udara.

Yenel, juru bicara kementerian luar negeri Turki, mengatakan sikap Perancis itu merusak peluang solusi politik.

Perancis mengklaim tidak bertindak cepat akan menimbulkan pertumpahan darah di Libya. Perbedaan sikap Perancis dan Turki mengenai Libya diperkirakan akan mencuat lagi dalam KTT London tentang Libya hari Selasa, di mana Turki diharapkan akan lebih menekankan pada diplomasi dan mengurangi serangan udara terhadap pasukan Gadhafi. Sikap Paris diperkirakan akan sangat menentang.

XS
SM
MD
LG