Tautan-tautan Akses

Turki Mulai Bebaskan 38 Ribu Napi untuk Tampung Tersangka Kudeta


Polisi menggiring seorang tentara yang dituduh terlibat dalam upaya kudeta yang gagal di Mugla, Turki (17/8). (Reuters/Kenan Gurbuz)

Polisi menggiring seorang tentara yang dituduh terlibat dalam upaya kudeta yang gagal di Mugla, Turki (17/8). (Reuters/Kenan Gurbuz)

Pemerintah tidak memberikan alasan untuk langkah tersebut, tapi penjara-penjara sudah kelebihan kapasitas sebelum penahanan massal yang mengikuti kudeta.

Turki mulai membebaskan 38.000 narapidana hari Rabu (17/8), setelah mengumumkan reformasi pidana yang akan memberikan ruang di penjara untuk puluhan ribu tersangka yang ditangkapi terkait upaya kudeta bulan lalu.

Reformasi tersebut merupakan salah satu dari serangkaian langkah yang ditetapkan Rabu dalam dua dekrit di bawah keadaan darurat yang dideklarasikan setelah upaya kudeta 15 Juli yang gagal, di mana 240 orang terbunuh.

Pemerintah tidak memberikan alasan untuk langkah tersebut, tapi penjara-penjara sudah kelebihan kapasitas sebelum penahanan massal yang mengikuti kudeta.

Para sekutu Barat khawatir Presiden Recep Tayyip Erdogan, yang telah dituduh para oposisi atas tindakan otoriter, menggunakan penggerebekan untuk menyasar pemberontak, menguji hubungan dengan salah satu mitra NATO dalam perang melawan Negara Islam (ISIS).

Para pejabat Turki menyangkal tuduhan-tuduhan itu dengan marah, mengatakan bahwa mereka memberantas ancaman internal serius dari para pengikut ulama yang mengasingkan diri ke AS.

Dekrit-dekrit Rabu, diterbitkan dalam Lembaran Negara, juga memerintahkan pemecatan lebih dari 2.360 polisi, lebih dari 100 tentara dan 196 staf di lembaga otoritas teknologi informasi dan komunikasi, BTK.

Mereka yang dipecat digambarkan memiliki hubungan dengan ulama Fethullah Gulen, mantan sekutu Erdogan yang berubah menjadi musuh. Erdogan mengatakan Gulen ada di belakang upaya kudeta itu, namun Gulen menyangkal keterlibatannya. [hd]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG