Tautan-tautan Akses

AS

Tunanetra AS Galang Dana Bantu Pelajar Tunanetra Indonesia


Sekelompok tunanetra berjalan dengan tongkat di Buenos Aires. (Foto: Ilustrasi)

Sekelompok tunanetra berjalan dengan tongkat di Buenos Aires. (Foto: Ilustrasi)

Seorang perempuan tunanetra di North Carolina, AS, menggalang dana lewat Internet untuk membeli tongkat bagi pelajar-pelajar tunanetra di Makassar agar mereka bisa lebih mandiri.

Amber Shuping, 29, belum pernah ke Indonesia dan tidak memiliki kaitan secara langsung dengan negara ini. Namun hati mahasiswi itu tergerak setelah berhubungan dengan seorang sahabat pena dari Indonesia.

Shuping mengatakan kepada VOA mereka berkenalan lewat sebuah majalah bagi komunitas tunanetra. Mereka kemudian saling bertukar informasi mengenai pengalaman sebagai tunanetra di negara masing-masing, ujarnya.

“Kemudian dia bercerita tentang sekolah tunanetra tempat dia bekerja. Saya tawarkan bantuan, ‘Apa yang bisa saya lakukan untuk sekolahmu?’ Lalu dia memberikan daftar hal-hal yang diperlukan para siswa. Saya lihat semuanya perlu tongkat," ujarnya.

Sahabat pena itu bernama Muhammad Arifin, seorang guru di SLB-A Yapti Makassar, Sulawesi Selatan yang memiliki sekitar 30 pelajar tunanetra.

Arifin, yang juga seorang tunanetra, mengatakan kepada VOA untuk mobilitas sehari-hari para muridnya memerlukan tongkat.

“Di Makassar belum ada yang menggunakan anjing pemandu seperti di AS, selama ini kami pakai tongkat," ujarnya.

Penggunaan tongkat memang diajarkan di sekolah itu, namun tidak semua murid memilikinya, sehingga untuk mobilitas di luar sekolah dan asrama, mereka mengandalkan bantuan orang lain.

“Ada beberapa siswa yang tidak punya tongkat, khususnya yang kurang mampu. Kita harus beli lewat lembaga khusus untuk memperoleh tongkat sendiri. Sebagian besar punya tongkat, tapi kualitas kurang bagus. Baru dipakai dua, tiga bulan sudah rusak," ujarnya.

Karena itu, dia mengajukan proposal kepada Amber Shuping, yang merupakan anggota Federasi Tunanetra Nasional di AS.

Muhammad Arifin, guru di SLB-A Yapti Makassar, Sulawesi Selatan.

Muhammad Arifin, guru di SLB-A Yapti Makassar, Sulawesi Selatan.

Shuping menyambut baik proposal Arifin dan kemudian menggalang dana lewat situs pengumpulan dana kolektif, DreamFund.

Targetnya mengumpulkan dana US$4.000 sebelum Juni 2016.

“$875 diantaranya akan digunakan untuk membeli tongkat. Sudah ada seorang donatur yang menyumbangkan jumlah tersebut untuk membeli tongkat. Sisanya akan digunakan untuk membiayai perjalanan kami ke Indonesia," ujarnya.

Inisiatif ini disambut antusias oleh pihak sekolah komunitas tunanetra di Makassar, kata Arifin yang juga menjabat sebagai Ketua DPD Persatuan Tunanetra Indonesia Daerah Sulawei Selatan.

“Menarik karena ini terobosan baru, belum pernah ada negara lain yang ingin menyumbangkan dana ke Indonesia untuk pengadaan tongkat," ujarnya.

Hingga Selasa, dana yang terkumpul mencapai $1.560. Jika targetnya terpenuhi, Shuping berencana mengunjungi sekolah tersebut Juli 2016 bersama pasangannya, seorang tunanetra pakar orientasi mobilitas.

“Kami akan mengajarkan cara menggunakannya. Saya harap tongkat bisa membantu para murid jadi lebih mandiri," ujarnya.

Perempuan yang kehilangan penglihatannya sembilan tahun lalu karena terkena percikan air keras ini juga ingin membangkitkan semangat para tunanetra lainnya.

“Saya harap lewat cerita tentang saya dan orang lain di AS dan tempat lain, mereka bisa belajar bahwa mereka mampu melakukan apa saja, lulus sekolah, dapat pekerjaan, dapat tempat tinggal, dan pergi kemana saja," ujarnya.

Jika proyek penggalangan dana bagi tunanetra Indonesia ini berhasil, dia mengatakan, selanjutnya akan menggalang dana untuk membeli tongkat bagi tunanetra di Ethiopia.

XS
SM
MD
LG