Tautan-tautan Akses

7 Pemimpin Berada di Jerman untuk Ikuti KTT G7


Kanselir Angela Merkel (tengah) berpose bersama para pemimpin negara anggota G7 di Schloss Elmau dekat Garmisch-Partenkirchen, Jerman selatan, Minggu (7/6).

Kanselir Angela Merkel (tengah) berpose bersama para pemimpin negara anggota G7 di Schloss Elmau dekat Garmisch-Partenkirchen, Jerman selatan, Minggu (7/6).

Para pemimpin tujuh negara besar dunia kini berada di Jerman untuk mengikuti KTT G-7 yang akan membahas beragam agenda, antara lain ekonomi, perubahan iklim dan krisis ekonomi.

Musik tradisional Jerman menyambut Presiden Amerika Barack Obama sewaktu ia bergabung dengan tuan rumah KTT G-7 – Kanselir Jerman Angela Merkel – berkunjung ke sebuah desa Minggu pagi (7/6).

Dalam waktu beberapa jam mereka akan bergabung dengan mitra-mitranya dari Kanada, Perancis, Inggris, Italia, Jepang dan Uni Eropa untuk melakukan pertemuan tertutup tentang beragam isu penting dunia.

Presiden Obama menggambarkan apa yang disebutnya sebagai “tantangan-tantangan sulit” yang akan mereka bahas nanti.

“Kami akan membahas masa depan bersama, ekonomi global yang menciptakan lapangan pekerjaan dan peluang, mempertahankan Uni Eropa yang kuat dan makmur, mendorong kemitraan perdagangan baru dengan kawasan Atlantik, melawan agresi Rusia di Ukraina, menumpas ancaman kekerasan ekstrimis hingga ke isu perubahan iklim,” ungkapnya.

Pemimpin-pemimpin ini diperkirakan akan menyetujui dilanjutkannya sanksi-sanksi terhadpa Rusia, yang merupakan anggota kelompok ini sampai Rusia melakukan invasi dan pendudukan di Krimea – Ukraina tahun lalu, serta mulai membantu pemberontak di Ukraina Timur.

Mereka juga diperkirakan akan membahas beberapa isu di Timur Tengah dan upaya baru Tiongkok untuk membangun sarana di kepulauan di kawasan Pasifik, yang kemungkinan akan digunakan untuk mengendalikan jalur-jalur navigasi penting.

Jonathan Eyal dari the Royal United Services Institute di London mengatakan dalam beberapa puluh tahun ini, G7 telah menangani berbagai isu penting, tetapi munculnya kekhawatiran tentang Tiongkok dan Rusia mengingatkan kita akan diplomasi di masa perang dingin yang lalu.

“Secara agak aneh, ini kembali ke agenda masa lalu. Kita cenderung percaya bahwa semua konflik di masa depan akan bersifat multi nasional, sifatnya global . Faktanya posisi kedua negara adi daya ini sekali lagi jadi subyek diskusi sangat serius,” ujar Eyal.

Tetapi dampak KTT ini terhadap isu-isu itu hanya sedikit – ujar pakar ekonomi internasional Leila Simona Talani dari London King’s College. Namun, katanya, G7 ini ironisnya menjadi sangat penting karena kelompok lebih besar seperti G20 ternyata tidak efektif.

“Pada awal tahun 2000 ada saat dimana setiap orang yakin bahwa semua negara akan berperan dalam pengambilan keputusan di dunia. Tetapi hal ini, saya kira tidak terjadi. Konflik-konflik nyata, seperti yang terjadi di Timur Tengah, membuat peran negara adidaya menjadi lebih penting karena mereka memang satu-satunya yang bisa mengatasi konflik-konflik semacam ini,” kata Talani.

Namun, tidak semua orang bergembira dengan acara KTT G-7 ini. Ratusan demonstran berkumpul di dekat tempat penyelenggaraan KTT G-7, mengecam G-7 sebagai sumber masalah dunia.

Polisi memindahkan beberapa orang yang berupaya memblokir jalan Minggu pagi (7/6) dan lainnya berdemonstrasi di sebuah lapangan dimana mereka diberi ijin untuk mendirikan tenda dan berupaya mendekati hotel tempat pelaksanaan KTT G-7.

Lebih dari 15 ribu personil keamanan Jerman menjaga agar demonstran tidak menimbulkan gangguan dan memastikan keamanan pemimpin-pemimpin itu selagi mereka melaksanakan tradisi G-7 itu, menghabiskan beberapa hari untuk membahas isu-isu paling mendesak di dunia.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG