Tautan-tautan Akses

AS

Trump: Insiden di Ankara dan Berlin Serangan Terhadap Kemanusiaan


Trump

Pihak berwenang Jerman telah mengidentifikasi Anis Amri, warga Tunisia berusia 24 tahun, sebagai tersangka utama serangan Berlin itu. Kantor jaksa federal menawarkan imbalan uang hingga 104 ribu dolar bagi informasi yang bisa mengarah ke penangkapannya.

Pihak berwenang Jerman menyebut seorang pria asal Tunisia sebagai tersangka utama serangan truk terhadap pasar Natal di Berlin, Senin lalu, yang menewaskan 12 orang dan mencederai 50 lainnya.

Kelompok ISIS mengklaim, serangan yang serupa dengan yang terjadi di Nice, Perancis, Juli lalu, itu dilakukan salah seorang pendukungnya. Ditanya pendapatnya mengenai tragedi tersebut, presiden terpilih Donald Trump, Rabu (21/12), mengatakan, apa yang sedang terjadi saat ini memprihatinkan.

Donald Trump mengatakan kepada wartawan di resor miliknya di Mar-a-Lago, Florida, serangan truk di Berlin dan pembunuhan duta besar Rusia di Turki membuktikan bahwa ia seratus persen benar.

"Ini serangan terhadap kemanusiaan. Itulah yang terjadi. Ini serangan terhadap kemanusiaan dan harus dihentikan,” kata Donald Trump.

Selama kampanye pemilu, Trump bersikeras mengatakan, Amerika Serikat seharusnya menghentikan imigrasi semua Muslim hingga sistem pemeriksaan latar belakang yang ketat diberlakukan.

Di Berlin, Rabu (21/12), para demonstran sayap kanan, melangsungkan aksi protes yang menyerang kebijakan imigrasi pemerintah.

Namun sekelompok warga Jerman, dalam jumlah yang lebih besar, bergabung dengan para pengungsi di lokasi serangan untuk menunjukkan persatuan dan keberanian dalam menentang terorisme. Mereka menyanyikan lagu terkenal "We are the World" dan mengusung spanduk-spanduk yang di antaranya mengatakan “Berlin bersatu” dan “Kalian tak bisa memecah belah kami.”

Pihak berwenang Jerman telah mengidentifikasi Anis Amri, warga Tunisia berusia 24 tahun, sebagai tersangka utama serangan Berlin itu. Kantor jaksa federal menawarkan imbalan uang hingga 104 ribu dolar bagi informasi yang bisa mengarah ke penangkapannya.

Burkhard Lischka, seorang anggota parlemen Jerman mengatakan, "Jaksa federal menyatakan pria Tunisia itu sebagai petunjuk serius. Dompetnya ditemukan di dalam truk itu.”

Pihak berwenang meyakini, tersangka membunuh seorang pria asal Polandia yang merupakan supir asli truk itu, untuk kemudian mengambil alih kendaraannya dan menabrakannya ke pasar yang ramai pengunjung.

Jerman telah mengeluarkan surat penangkapan terhadap tersangka yang berlaku di seluruh Eropa. Para pejabat mengatakan, tersangka belum tentu pelaku serangan itu.

"Jelasnya ini mengenai seseorang yang tergolong berbahaya, pernah terlacak pihak keamanan dan anggota gerakan Islam Salafi,” kata Stephan Meyer, yang juga merupakan salah seorang anggota parlemen Jerman.

Pihak berwenang mengatakan, Anis Amri datang ke Jerman Juli 2015, dan selama enam bulan tahun 2016 berada dalam pemantauan setelah mendapat petunjuk ia mungkin berusaha membeli senjata untuk melangsungkan serangan. Penyelidikan itu berakhir September 2016, dan badan-badan kontra-terorisme terakhir kali bertukar informasi mengenai pria itu November lalu. Aplikasi suakanya ditolak enam bulan lalu, namun ia tidak dipulangkan ke Tunisia karena ada masalah dengan dokumen perjalanannya.

Fakta-fakta baru itu membangkitkan kembali pertanyaan-pertanyaan di Jerman mengenai bagaimana negara itu memeriksa latar belakang ribuan imigran yang masuk ke negara itu untuk mencari suaka.

Tempat-tempat yang ramai dikunjungi pada musim liburan telah serang menjadi target militan Muslim dalam beberapa tahun terakhir. [ab/uh]

XS
SM
MD
LG