Tautan-tautan Akses

AS

Berbeda dengan Obama, Trump Sebut Fidel Castro 'Diktator Kejam'

  • Cindy Saine

Jika Presiden Obama menyampaikan belasungkawa atas kematian mantan Presiden Fidel Castro, Presiden terpilih Trump justru "bergembira" atas kematian Castro dalam cuitan di Twitter (foto: ilustrasi).

Jika Presiden Obama menyampaikan belasungkawa atas kematian mantan Presiden Fidel Castro, Presiden terpilih Trump justru "bergembira" atas kematian Castro dalam cuitan di Twitter (foto: ilustrasi).

Presiden AS Barack Obama memuji dibukanya hubungan Amerika dengan Kuba setelah bermusuhan selama 50 tahun dan secara diplomatis memberi reaksi atas kematian mantan Presiden Fidel Castro dengan menyampaikan belasungkawa kepada keluarganya.

Sebaliknya, Presiden terpilih Donald Trump di masa lalu mengecam kebijakan-kebijakan Kuba dari Presiden Obama dan merilis pernyataan bernada keras yang menyebut Fidel Castro seorang diktator yang kejam. Perbedaan nada tersebut kemungkinan menunjukkan akan ada pergeseran yang berarti dalam hubungan antara Amerika dan Kuba.

Presiden Obama menganggap dibukanya hubungan diplomatik antara Amerika dan Kuba setelah 50 tahun lebih bermusuhan sebagai salah satu pencapaian penting dalam kebijakan luar negerinya. Ia mengunjungi negara pulau di kawasan Karibia itu pada bulan Maret sebagai presiden Amerika pertama yang melakukannya sejak tahun 1928.

“Saya datang kemari untuk melupakan sisa-sisa perang dingin terakhir di hemisfer Amerika ini”.

Kedua negara telah membuka kedutaan-kedutaan mereka setelah 50 tahun lebih. Kapal-kapal pesiar Amerika sekarang berlabuh di Kuba dan ada penerbangan rutin perusahaan penerbangan Amerika ke pulau itu. Tetapi kematian Fidel Castro pada usia 90 tahun dan terpilihnya Donald Trump dari Partai Republik menimbulkan pertanyaan, apa yang akan terjadi dengan hubungan Amerika-Kuba yang mulai menghangat itu. Seorang penasihat senior Trump, Kellyanne Conway mengatakan kepada program This Week dari jaringan televisi ABC pada hari Minggu (27/11) bahwa Trump terbuka dengan sejumlah kemungkinan pemulihan kembali hubungan Amerika dengan Kuba, tapi sebagai imbalannya ia akan menuntut beberapa konsesi dari Kuba.

“Tapi kami tetap sangat tegas bahwa jika kita membuka hubungan diplomatik, seperti yang dilakukan Presiden Obama dengan Kuba dan Fidel Castro dalam beberapa tahun terakhir tanpa memperoleh imbalan apa-apa, termasuk tahanan politik dan jaminan bahwa rakyat di pulau Kuba akan diberi kebebasan politik dan ekonomi - yang saya maksudkan, saya secara pribadi bertemu, saya yakin Anda juga pernah, dengan para korban penindasan dan penyiksaan serta pemenjaraan oleh Fidel Castro,” kata Conway.

Perubahan dalam kebijakan Obama terhadap Kuba juga dikecam sejumlah anggota legislatif dari kedua partai utama termasuk Senator Ted Cruz yang ayahnya berasal dari Kuba.

“Saya sangat berharap kita tidak akan melihat ada pejabat pemerintah Amerika yang menghadiri pemakaman Fidel Castro. Saya berharap kita tidak menyaksikan Barack Obama, Joe Biden, atau Hillary Clinton dan pihak Partai Demokrat mengagungkan seorang pembunuh, tirani dan penjahat,” ujar Ted Cruz.

Gedung Putih belum mengumumkan siapa yang akan pergi menghadiri pemakaman Fidel Castro tanggal 4 Desember. Meskipun masa depan kebijakan Amerika terhadap Kuba tidak pasti, Trump tampaknya akan setuju dengan pernyataan Obama bahwa rakyat Kuba harus tahu mereka punya sahabat dan mitra di Amerika. [my/jm]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG