Tautan-tautan Akses

Trump Kunjungi Meksiko sebelum Pidato soal Imigrasi


Kandidat presiden Partai Republik Donald Trump akan menyampaikan pidato soal kebijakan imigrasinya hari Rabu (31/8).
Kandidat presiden Partai Republik Donald Trump akan menyampaikan pidato soal kebijakan imigrasinya hari Rabu (31/8).

Kandidat presiden Partai Republik Donald Trump melawat ke Meksiko untuk melangsungkan pembicaraan dengan Presiden Enrique Peña Nieto, Rabu (31/8). Reaksi keras pun muncul dari beragam kalangan, terutama dari warga Meksiko.

Sejak mulai berkampanye pada pertengahan Juni 2015 lalu, bilyuner Donald Trump telah mengolok-olok Meksiko, dengan mengatakan bahwa negara itu mengirim para pemerkosa dan penjahat ke Amerika dan selama 20 tahun terakhir ini telah mengambil keuntungan lewat perjanjian perdagangan yang tidak adil.

“Ketika Meksiko mengirim warganya, mereka tidak mengirim warga dengan kapabilitas terbaik. Mereka tidak mengirim Anda, atau Anda. Mereka mengirim orang yang punya banyak masalah, dan mereka membawa masalah itu kesini. Mereka membawa narkoba. Mereka melakukan tindak kriminal. Mereka pemerkosa. Saya asumsikan ada yang baik juga,” ujar Trump.

Pernyataan Kontroversial Trump Meningkatkan Dukungan

Trump menegaskan pernyataan itu dalam beberapa kampanyenya, ditambah dengan gagasan untuk membangun tembok di sepanjang perbatasan Amerika-Meksiko guna mencegah masuknya imigran gelap. Dengan pongah Trump mengatakan akan memaksa pemerintah Meksiko membayar biaya pembangunan tembok itu.

Lewat pernyataan-pernyataan kontroversial tersebut Trump meraih jutaan suara simpatisan Partai Republik dalam sejumah kaukus dan pemilihan pendahuluan, hingga akhirnya terpilih menjadi calon presiden resmi partai berlambang gajah itu.

Presiden Nieto Tegaskan Tak Akan Bayar Tembok Pembatas

Pernyataan Trump itu memicu kemarahan imigran Meksiko di Amerika dan tentunya warga di Meksiko. Presiden Enrique Pena Nieto menyamakan Trump dengan Hitler dan Mussolini, dan dalam suatu wawancara menegaskan tidak akan pernah membayar pembangunan tembok di perbatasan sebagaimana disampaikan Trump.

“Mustahil Meksiko akan membayar pembangunan tembok itu. Tetapi keputusan apapun yang diambil di dalam wilayah Amerika adalah keputusan pemerintah Amerika,” kata Nieto.

Mantan Presiden Meksiko Kecam Lawatan Trump

Yang menarik kini Presiden Nieto justru mengundang Donald Trump untuk datang ke Meksiko. Langkah yang dikecam luas imigran Meksiko di Amerika, termasuk warga di Meksiko.

Mantan presiden Meksiko Vicente Fox dalam wawancara dengan stasiun televisi CNN Rabu pagi (31/8) mengatakan tidak memahami maksud Presiden Nieto mengundang Trump.

“Kami tidak ingin Trump dating ke Meksiko. Kami tidak suka padanya. Kami tidak menghendaki keberadaannya. Kami menolak pernyataannya. Saya tidak mengerti mengapa Presiden Pena Nieto mengundang Trump. Saya kira ini tidak lebih dari sekedar aksi politik," kata Fox.

Vicente Fox menambahkan "Jika ia (Nieto) bersikap lunak pada Trump, hal ini akan merugikannya. Pena Nieto bahkan akan dianggap sebagai pengkhianat karena kami tidak menerima penghinaan seperti yang baru saja kami dengar, dan seharusnya Trump tidak datang kesini dengan senyum di wajahnya. Saya kira ini merupakan kesalahan besar Presiden Pena Nieto.”

Trump mengumumkan kesediaannya untuk melawat ke Meksiko beberapa hari setelah Presiden Nieto menyampaikan undangan kepadanya, dan juga kepada calon presiden Partai Demokrat – Hillary Clinton.

Capres AS Biasa Melawat ke Luar Negeri pada Masa Pemilu

Lawatan seorang calon presiden Amerika ke sebuah negara pada masa pemilu merupakan hal biasa. Selain menyampaikan visi dan rencananya jika kelak terpilih sebagai pemimpin, kunjungan itu seakan menjadi batu ujian di luar Amerika.

Barack Obama – dalam kapasitas sebagai calon presiden Partai Demokrat – disambut hangat ketika melawat untuk pertama kali ke Berlin – Jerman pada pertengahan Juli 2008. Namun lawatan Mitt Romney – dalam kapasitas sebagai calon presiden Partai Republik – ke Inggris tahun 2012 justru menuai kecaman. Demikian pula lawatan kandidat calon presiden Ben Carson ke Yordania dan Chris Christie ke Inggris tahun 2015 lalu.

Bagaimana dengan lawatan Trump ke Meksiko ini? Hingga laporan ini disampaikan belum ada penjelasan resmi d imana dan kapan pertemuan Trump dan Presiden Pena Nieto akan dilangsungkan. Yang pasti lawatan ini penting untuk memperkuat rencana imigrasi yang disampaikannya di Arizona beberapa hari lalu, termasuk rencana mendeportasi 11 juta imigran tanpa dokumen yang kini ada di Amerika, begitu ia terpilih sebagai presiden Amerika. [em/ds]

XS
SM
MD
LG