Tautan-tautan Akses

AS

Trump Incar Suara Pekerja Demokrat Kulit Putih di Pennsylvania


Kandidat presiden AS dari Partai Republik, Donald Trump, tiba dalam acara kampanye di Harrisburg, Pennsylvania, April 2016. (AP/Julio Cortez)

Kandidat presiden AS dari Partai Republik, Donald Trump, tiba dalam acara kampanye di Harrisburg, Pennsylvania, April 2016. (AP/Julio Cortez)

Jajak pendapat baru-baru ini menunjukkan Trump unggul atas Clinton di antara warga kulit putih yang tidak mengenyam pendidikan tinggi di negara bagian itu.

Dengan janji membangun tembok perbatasan atau merundingkan kembali perjanjian perdagangan, Donald Trump memenangkan pemilihan pendahuluan dan pencalonan presiden Partai Republik, umumnya dengan menarik perhatian pemilih kelas pekerja kulit putih di Amerika.

Pennsylvania, negara bagian industri yang sejak dulu mendukung Partai Demokrat, sekarang lebih condong ke arah Trump dalam dengan berbagai macam antusiasme.

Salah satunya adalah Bob Bolus, yang tidak ragu mengenai siapa yang diinginkannya menjadi presiden Amerika berikutnya.

"Saya sangat percaya pada Donald Trump," ujarnya.

Dari “Menjadikan Amerika jaya lagi” sampai “Bangun tembok”, slogan-slogan kampanye Trump menghiasi traktor trailer Bolus, yang pernah diparkir di luar tempat kampanye Trump, Sanders dan Clinton di seluruh Amerika.

Pengusaha asal Scranton itu mendukung Trump karena ia ingin Amerika yang lain, salah satunya yang menutup perbatasan dan melarang impor.

"Kita akan memiliki perdagangan yang berimbang. Truk-truk seperti ini akan meluncur di seluruh Amerika lagi, berurusan dengan produk Amerika yang dibuat di Amerika, bukan dari produk luar negeri yang dibuat negara lain," ujarnya.

Sentimen semacam ini bukannya tidak lazim di antara pemilih kelas pekerja kulit putih di Pennsylvania timur laut, kata profesor dari Muhlenberg College dan penduduk asli Scranton, Christopher Borick.

Jajak pendapat baru-baru ini menunjukkan Trump unggul 53 persen berbanding 31 persen dari Clinton di antara warga kulit putih yang tidak mengenyam pendidikan tinggi di negara bagian itu.

"Mereka merasa terancam dalam banyak hal. Mereka merasa terancam karena kehilangan pekerjaan, sebagian mungkin karena perjanjian perdagangan atau imigrasi," ujar Borick.

Meskipun dari segi demografi mungkin penduduk lebih condong pada Trump dengan mayoritas penduduk pekerja kulit putih, namun Pennsylvania sebenarnya adalah kubu kuat Demokrat, di mana partai itu menyapu sekurangnya enam pemilihan presiden di Pennsylvania.

Scranton juga tempat kelahiran ayah Hillary Clinton dan di mana ia melewatkan musim panas ketika masih anak-anak, faktor yang mungkin mempersulit Trump untuk memenangkan suara di sana.

Calon presiden Partai Republik itu harus mampu memotivasi pendukung Republik untuk hadir dan memberikan suara, termasuk distributor peralatan medis Mike Ruth yang mengatakan ia akan memilih Trump meskipun ada keprihatinan mengenai kemampuan kepemimpinannya.

"Ia menyebut dirinya mampu mencapai kesepakatan, tetapi pemahaman saya, caranya adalah turuti saya atau tidak akan ada kesepakatan, dan ketika berunding dengan kepala negara asing, kita tidak akan berhasil mencapai apa-apa dengan pendekatan keras seperti itu," ujarnya.

Meski demikian, Ruth merasa mustahil memilih Clinton yang dinilainya tidak bisa dipercaya.

Sementara itu, bagi supir truk Scranton, Kishan Markarian tidak ada opsi pilihan yang baik, mengingat banyaknya isu negatif yang melekat pada diri kedua calon itu, sehingga sulit menetapkan pilihannya tahun ini.

"Saya tidak tahu bagaimana, kalau itu diserahkan kepada saya pribadi, saya tidak akan memilih kedua-duanya. Tapi kalau sudah begitu terus apa yang harus dilakukan? Bukankah kita harus punya pemimpin yang akan mengelola negara kita," ujarnya.

Ini merupakan situasi yang banyak dihadapi dalam sebuah pemilu yang sarat dengan hal-hal tak terduga sebelumnya. [my/jm]

XS
SM
MD
LG