Tautan-tautan Akses

AS

Trump Hadapi Tantangan Persatukan Rakyat AS

  • Jim Malone

Donald Trump, dalam pertemuan dengan komunitas Hispanik (Latino) di New York, Selasa (20/12). Trump mempertimbangkan Jovita Carranza, keturunan hispanik (kanan) sebagai Kepala Kantor Perwakilan Dagang AS atau USTR.

Dari awal Trump memang kontroversial, menjanjikan tindakan tegas terhadap imigrasi ilegal dan semula mengusulkan larangan bagi Muslim untuk masuk ke Amerika.

Ketika Majalah Time menyatakan presiden terpilih Donald Trump sebagai “Tokoh Terpenting” untuk tahun 2016, itu tidak mengherankan setelah kampanye pemilihan presiden yang membuat warga Amerika dan jutaan orang di seluruh dunia menjadi terpaku.

Perjalanan Donald Trump menuju Gedung Putih dimulai tahun 2015, dengan pengumuman kampanye yang sesuai dengan reputasinya sebagai ‘master showman” dengan pesan sederhana yang membuat para pendukungnya menjadi sangat bersemangat: “Saya secara resmi mencalonkan diri untuk menjadi presiden dan kita akan membuat Amerika Serikat hebat lagi!”

Dari awal Trump memang kontroversial, menjanjikan tindakan tegas terhadap imigrasi ilegal dan semula mengusulkan larangan bagi Muslim untuk masuk ke Amerika.

Dipandang enteng oleh saingan-saingannya dari Partai Republik, Trump membangun citra sebagai orang luar dan menyapu rival-rivalnya yang kaya pengalaman politik, termasuk dalam debat sengit seperti dengan mantan gubernur Florida Jeb Bush.

Jeb Bush: “Politik di Amerika adalah urusan keras.”

Trump menyela: “Dan kamu orang keras untuk itu.”

Jeb Bush menanggapi: “Kita membutuhkan seorang pemimpin, dan kamu tidak akan dapat menjadi presiden Amerika Serikat dengan menggunakan kata-kata hinaan seperti itu.”

Trump menjawab: “Kita lihat saja. Saya mendapat 42 persen dalam jajak pendapat, dan kamu mendapat tiga persen. Jadi saya jauh unggul.”

Tanggapan Bush: “Itu tidak soal, tidak soal.”

Dalam pemilihan nominasi calon presiden dari Partai Demokrat, Hillary Clinton menang setelah mengatasi tantangan yang jauh lebih berat daripada dugaan semula dari senator negara bagian Vermont Bernie Sander.

Setelah memenangkan nominasi partainya, Clinton berusaha menggambarkan Donald Trump sebagai tokoh yang tidak pantas menjadi presiden: “Orang yang naik darah karena cuitan Twitter tidak pantas mengemban kepercayaan dengan senjata nuklir.”

Namun pada hari pemilihan, Trump mengejutkan dunia dengan pepmeroleh kemenangan setelah orang umumnya meramalkan bahwa Clinton akan menang mudah.

Dalam pidato kemenangan, Trump menyampaikan nada kerukunan setelah kampanye yang menimbulkan perpecahan besar: “Kepada orang Republik, Demokrat, dan independen di seluruh Amerika, saya katakan bahwa sekarang adalah saat untuk berhimpun sebagai rakyat yang bersatu.”

Clinton juga menyerukan kepada para pendukungnya agar menghormati hasil pemilihan: “Donald Trump akan menjadi presiden kita. Kita harus berpikiran terbuka dan memberikan kesempatan kepadanya untuk memimpin.”

Salah satu kunci kemenangan Trump adalah keinginan orang untuk melihat perubahan, seperti dikatakan analis politik Tom DeFrank: “Kita semua, termasuk media, telah memandang enteng apa yang pernah disebut presiden George W. Bush sebagai keinginan besar pemilih untuk melihat perubahan. Pada akhirnya, meskipun memiliki kekurangan, Trump dilihat sebagai satu-satunya tokoh yang akan mendatangkan perubahan.”

Trump akan dilantik menjadi presiden sementara partainya menguasai mayoritas dalam Kongres. John Fortier dari Pusat Kebijakan Bipartisan: “Saya berpendapat itu memungkinkan Trump meloloskan agenda kebijakan dalam negeri. Hillary Clinton akan menemui kesulitan melaksanakan kebijakan karena partainya menjadi minoritas dalam Kongres.”

Trump sekarang harus menjaga keseimbangan antara memenuhi janji-janji kampanyenya kepada para Pendukung dari Partai Republik, selagi terus berusaha mempersatukan negara setelah kampanye yang paling menimbulkan perpecahan dalam sejarah Amerika. [ds]

XS
SM
MD
LG