Tautan-tautan Akses

Transplantasi Dua Organ Tubuh Bisa Perpanjang Hidup Pengidap Diabetes


Dengan menjalani transplantasi, pengidap diabetes kini mempunyai harapan untuk kembali hidup normal.
Dengan menjalani transplantasi, pengidap diabetes kini mempunyai harapan untuk kembali hidup normal.

Lebih dari 200 juta orang di seluruh dunia mengidap diabetes, penyakit tersebut bisa menyebabkan komplikasi yang mengancam jiwa.

Lebih dari 200 juta orang di seluruh dunia mengidap diabetes, dengan kasus terbanyak di India, Tiongkok dan Amerika. Penyakit tersebut bisa menyebabkan komplikasi yang mengancam jiwa. Tetapi transplantasi dua organ tubuh bisa memperpanjang harapan hidup para pengidap diabetes.

Suatu hari pukul setengah enam pagi di ruang bedah Rumah Sakit Barnes-Jewish di St. Louis. Dokter Jason Wellen, yang tengah melakukan pembedahan, menunjuk ke rongga perut pasiennya yang dibedah itu, dan ke pankreasnya yang baru ditransplantasi. Sang pasien bernama Tiffany Buchta, Ia mengidap diabetes tipe 1 dan didiagnosa ketika berusia 15 tahun.

Dikenal sebagai diabetes usia remaja, diabetes tipe 1 ini terjadi ketika sistem imunitas menyerang dirinya sendiri, menghancurkan sel-sel yang memproduksi insulin di dalam pankreas. Sekitar 10 persen penderita sakit gula mengidap diabetes tipe 1.

Penyebab pasti diabetes tipe 1 ini tidak diketahui, tetapi para periset meyakini kombinasi faktor genetik dan lingkungan hidup adalah penyebabnya.

Seorang pasien yang gagal ginjal sedang menjalani transplantasi di sebuah rumah sakit di AS.
Seorang pasien yang gagal ginjal sedang menjalani transplantasi di sebuah rumah sakit di AS.

Berbeda dengan penderita diabetes tipe 2 yang seringkali bisa mengontrol penyakit mereka dengan diet, olah raga, dan obat-obatan yang diminum, orang yang berdiabetes tipe 1 membutuhkan suntikan insulin untuk bertahan hidup. Diabetes bisa berakibat buruk pada ginjal.

Tiffany Buchta mengatakan, “Sekitar tiga atau empat tahun lalu, ginjal saya hanya berfungsi 45 persen, dan saya tidak menyadari ini bisa terjadi begitu cepat.”

Hal itu terjadi ketika ia berusia 30an. Oktober tahun lalu, Buchta mengalami gagal ginjal. Tiga kali seminggu, ia harus pergi ke klinik setempat. Disana, selama 3.5 jam ia terhubung dengan mesin dialisis. Mesin tersebut mencuci darahnya, pekerjaan yang tidak lagi bisa dilakukan ginjalnya. Lalu Buchta ditawari transplantasi: tidak hanya ginjal baru, tetapi juga pankreas baru.

Dr. Wellen menjelaskan, “Jika saya hanya memberi transplantasi ginjal kepada penderita diabetes tipe 1, lama-kelamaan waktu diabetes mereka akan menyerang ginjal baru tersebut, seperti yang terjadi pada ginjal mereka sendiri. Jadi, dengan menawarkan mereka transplantasi ginjal dan pankreas, dari donor yang sama, kita tidak hanya meningkatkan secara drastis kualitas hidup mereka – gula darah mereka menjadi normal dan tidak lagi membutuhkan insulin – serta membuat ginjal itu lebih tahan lama.”

Dengan pankreas dan ginjal baru dari sang donor – yaitu seorang korban kecelakaan mobil usia 23 tahun – Buchta kemungkinan akan hidup lebih lama.

“Pembedahan ini akan memberinya harapan hidup sekitar 85 persen. Jadi, dari harapan hidup 30 persen menjadi 85 persen, ini merupakan perbedaan yang sangat besar,” demikian tambah Dr. Wellen.

Dan bagi Tiffany Buchta, kini ia bisa hidup normal lagi.

XS
SM
MD
LG