Tautan-tautan Akses

Transparency International: Korupsi Masih Merajalela di Banyak Negara

  • Jim Randle

Menurut Transparency International, sebagian besar negara mempunyai masalah korupsi yang serius (foto: dok).

Menurut Transparency International, sebagian besar negara mempunyai masalah korupsi yang serius (foto: dok).

Penelitian global yang diterbitkan hari Rabu (5/12) oleh Transparency International mendapati korupsi masih merajalela di banyak negara.

Di Pakistan, guru Bashir Bulti mengatakan harus menyogok untuk mendapat pekerjaan.

Tukang ojek Kamboja, Chum Van, mengatakan polisi terkadang menyalahkan kecelakaan pada orang miskin tanpa memperdulikan siapa sebenarnya yang salah.

Pakistan dan Kamboja termasuk di antara 176 negara yang dikaji oleh kelompok anti-korupsi Transparency International.

Huguette Labelle dari organisasi Transparency International mengatakan, sebagian besar negara mempunyai masalah korupsi yang serius.

“Ini menyebabkan penderitaan manusia di mana keluarga-keluarga miskin diperas untuk membayar sogokan supaya bisa bertemu dokter atau mendapat akses air minum,” keluhnya.

Indeks Transparency International 2012

Indeks Transparency International 2012

Ia memperingatkan bahwa proyek-proyek infrastruktur besar di negara-negara yang sedang berkembang dan pekerjaan untuk mengatasi perubahan iklim bisa dirugikan oleh korupsi. Labelle melihat harapan di beberapa negara di mana undang-undang baru memudahkan masyarakat untuk melacak pengeluaran pemerintah dan menyediakan perlindungan bagi rakyat yang mengungkap dugaan-dugaan korupsi.

Somalia, Korea Utara dan Afghanistan menerima peringkat terburuk, sementara Denmark, Finlandia dan Selandia Baru disebut sebagai negara yang paling sedikit korupsinya.

Keluhan-keluhan mengenai korupsi ikut memicu pergolakan Arab menjadi demonstrasi massa dan aksi-aksi lain yang menumbangkan pemerintah di Tunisia, Mesir, dan Libya.

Tetapi. laporan itu menunjukkan upaya drastis mengubah pemerintahpun belum berhasil membuat korupsi berakhir.

Ilmuwan Charles Kenny dari Center for Global Development mengatakan korupsi banyak bentuknya, seperti menyogok untuk mendapat SIM, pekerjaan atau kontrak untuk orang yang tidak memenuhi syarat.

Ia menyebut korupsi adalah gejala pemerintahan yang buruk dan mengatakan, membawa isu tersebut kepada masyarakat dan perhatian pejabat pada akhirnya akan membantu.

“Perubahan-perubahan ini memerlukan perubahan norma prilaku dan sikap jutaan orang di negara itu, jadi membutuhkan waktu,” ujarnya.

Kenny mengatakan korupsi menjadi masalah bagi bisnis karena dana dialihkan ke kantong pejabat dari pada digunakan untuk proyek-proyek jalan atau energi.

Transparency International mendasarkan laporan tahunannya pada pendapat-pendapat mengenai korupsi dari berbagai sumber informasi termasuk, bisnis, organisasi internasional dan para pakar di seluruh dunia.
XS
SM
MD
LG