Tautan-tautan Akses

Tradisi Piet Hitam di Belanda Dianggap Rasis


Para "Zwarte Piet" atau "Piet Hitam" dalam sebuah parade Sinterklas di Amsterdam, Belanda. (AP/Margriet Faber)

Para "Zwarte Piet" atau "Piet Hitam" dalam sebuah parade Sinterklas di Amsterdam, Belanda. (AP/Margriet Faber)

Semakin banyak warga Belanda mempertanyakan tradisi pembantu Sinterklas, Piet Hitam, yang dianggap berkonotasi rasis.

Warga asing yang mengunjungi Belanda pada musim dingin sering terkejut melihat para pembantu Sinterklas atau Santa Nikolas yang memakai cat wajah hitam, memakai rambut kribo ala orang Afrika dan berlipstik merah. Mereka menganggap gambaran itu adalah karikatur rasis dari orang berkulit hitam.

Mayoritas penduduk Belanda setia mengikuti tradisi Natal dengan "Zwarte Piet" alias “Black Pete”, atau yang di Indonesia diadaptasi sebagai Piet Hitam. Masyarakat Belanda bersikeras bahwa Piet Hitam adalah figur fiksi tidak berbahaya yang tidak mewakili ras manapun.

Namun semakin banyak orang mempertanyakan apakah Piet Hitam harus diubah atau dihilangkan dari pentas hari raya, karena melukai citra Belanda sebagai negara yang toleran.

“Semakin banyak suara oposisi untuk Piet Hitam,” ujar Jessica Silversmith, direktur regional Biro Anti-Diskriminasi untuk Amsterdam. Ia mengatakan kantornya biasanya hanya menerima satu atau dua keluhan per tahun, namun jumlah tersebut melonjak menjadi 100 tahun lalu, dan diperkirakan naik lebih banyak tahun ini.

“Tidak hanya warga Antillean atau Suriname yang mengeluhkan hal tersebut,” ujarnya, mengacu pada keturunan warga bekas koloni-koloni Belanda yang dulu diperdagangkan sebagai budak. “Tapi semua kalangan di Belanda.”

Ada beragam versi sejarah dari Sinterklas dan Piet Hitam, yang muncul sebagai pelayan Afrika dalam sebuah buku yang terbit pada 1850.

“Tidak ada yang bermaksud menentang perayaan untuk Sinterklas atau menyebut orang yang merayakannya rasis,” ujar Silversmith. “Namun sudah waktunya mempertimbangkan apakah hal ini suatu hinaan, dan apakah memang ada konsep rasis di balik Piet Hitam.”

Debat tersebut muncul setelah satu dekade dimana Belanda telah menghilangkan banyak aspek yang membuatnya dikenal karena kebijakan yang toleran, dan saat sentimen anti-imigran telah meningkat dengan tajam. Piet Hitam sering dibela sebagai bagian dari warisan budaya Belanda, dan mereka yang tidak menyukainya sering diminta untuk meninggalkan negara tersebut.

Banyak orang yang mengatakan bahwa wajah Piet hitam karena jelaga yang menempel saat ia mengirim hadiah lewat cerobong asap. Namun hal itu tidak menjelaskan rambut kribo dan bibir tebal yang dipakainya.

Di Amerika Serikat, rias wajah yang mencirikan kulit hitam, disebut blackface, dihilangkan pada era hak-hak sipil. Namun di Inggris, sebuah acara televisi yang menampilkan blackface bertahan sampai akhir 1970an sebelum praktik tersebut dianggap tabu.

Blackface muncul di negara-negara Eropa lainnya dari masa ke masa, seperti dalam pertunjukan teater Jerman tahun ini. Namun hanya di Belanda-lah hal ini dilembagakan dalam bentuk Piet Hitam.

Tahun lalu, empat pria ditahan karena memakai kaus bertuliskan “Piet Hitam adalah Rasisme” di luar sebuah toko yang menampilkan Sinterklas, dan didakwa karena melakukan protes tanpa ijin.

Polisi membanting salah satu pria tersebut ke tanah, dan berlutut di punggungnya beberapa kali sebelum menyeretnya pergi, meski ia tidak melawan. Video dari peristiwa tersebut diunggah di YouTube dan slogan dalam kaus tersebut mulai menyebar.

Meski polisi kemudian dianggap berbuat salah, banyak orangtua yang merasa demonstrasi pada hari raya atau ketika ada anak-anak adalah sesuatu yang tidak pantas.

Tahun ini, semakin banyak debat yang muncul membahas hal ini. Dan untuk pertama kalinya, seorang politisi kulit putih bernama Andree van Es secara terbuka menantang tradisi tersebut dengan mengatakan: “Saatnya maju tanpa Piet Hitam.”

Dua jaringan toko besar, Blokker and V&D, tidak lagi menggunakan gambar Piet HItam dan untuk pertama kalinya pekan lalu, sebuah film dokumenter tentang argumen melawan Piet Hitam diputar di televisi nasional.

Meski demikian, kuatnya tradisi Piet Hitam sepertinya tidak akan membuat figur tersebut hilang dalam waktu dekat.

Seorang kolumnis pada surat kabar NRC Handelsblad mempertanyakan apakah Belanda benar-benar toleran seperti yang dicitrakan. Ia mengatakan bahkan Amerika Serikat telah memilih presiden berkulit hitam, namun tidak seorang pun dari anggota kabinet baru merupakan keturunan non-Belanda.

“Itu karena kita, tidak seperti negara lain, telah buta warna. Kita tidak perlu menteri apalagi perdana menteri berkulit hitam. Kita punya Zwarte Piet,” sindir kolumnis Bas Heijne. (AP/Toby Sterling)
XS
SM
MD
LG