Tautan-tautan Akses

Topan di Filipina Picu Desakan Aksi Perubahan Iklim


Rumah-rumah yang rusak akibat Topan Hagupit di Dolores, Samar timur, Filipina tengah (9/12).

Rumah-rumah yang rusak akibat Topan Hagupit di Dolores, Samar timur, Filipina tengah (9/12).

Para LSM dan aktivis mengatakan ritme negosiasi dalam konferensi iklim terlalu lambat dan kurang ada kesadaran akan situasi yang mendesak dengan sisa waktu hanya sampai 12 Desember.

Sementara orang-orang yang dicintai menghadapi dampak Topan Hagupit di tanah air, para aktivis Filipina di Lima, Peru, mendesak para negosiator iklim untuk bertindak lebih cepat dalam merancang rencana global untuk membatasi peristiwa-peristiwa yang berpotensi mengancam nyawa.

"Bagi kami di Filipina, kami tidak lagi berdebat mengenai apakah ada dampak perubahan iklim atau tidak, kami mengalaminya," ujar Voltaire Alferez dari kelompok LSM Aksyon Klima Pilipinas di sela-sela pembicaraan dalam konferensi perubahan iklim pekan lalu.

"Tahun demi tahun kami dibombardir... dari satu topan ke topan yang lain," ujarnya, sementara istrinya dan anaknya yang berusia satu tahun meninggalkan rumah mereka di Manila untuk berlindung di tempat yang lebih tinggi.

Ini adalah topan ketiga berturut-turut yang menghantam Filipina di tengah negosiasi-negosiasi iklim tingkat menteri tahunan yang mengarah pada pakta global baru untuk membatasi bahaya iklim dengan mengekang emisi gas rumah kaca yang meningkatkan suhu Bumi.

Tahun lalu, Topan Haiyan menyerang saat pembicaraan berlangsung di Warsawa, menewaskan 7.350 orang, dan Topan Bopha yang membunuh 600 orang berlangsung saat negosiasi di Doha pada 2012.

Mustahil menyalahkan setiap peristiwa cuaca pada perubahan iklim, namun Organisasi Meteorologi Dunia PBB mengatakan badai-badai ekstrem seperti Haiyan "konsisten" dengan perubahan iklim akibat ulah manusia.

Negara-negara berkumpul di ibukota Peru untuk menegosiasikan garis besar pakta global baru, yang dijadwalkan ditandatangani di Paris Desember berikutnya dan berlaku mulai 2020.

Namun para LSM dan aktivis yang bertindak sebagai pengamat mengatakan ritme negosiasi terlalu lambat dan kurang ada kesadaran akan situasi yang mendesak dengan sisa waktu hanya sampai 12 Desember.

"Salah satu kekhawatiran terbesar adalah bahwa para negosiator ini tidak memiliki kesadaran bahwa apa yang kita hadapi ini adalah darurat planet," ujar Tasneem Essop dari kelompok lingkungan hidup WWF.

"Seperti inilah kehilangan dan kerusakan terlihat," ujar Julie-Anne Richards dari Program Keadilan Iklim, mengacu pada topan yang sedang terjadi.

"Ini adalah orang-orang yang nyata menghadapi biaya-biaya yang juga nyata dan beberapa bahkan kehilangan nyawa mereka." (AFP)

XS
SM
MD
LG