Tautan-tautan Akses

75 Tokoh Muda ASEAN Bertemu Obama di Gedung Putih


Presiden AS Barack Obama membuka kesempatan bertanya kepada para peserta program “Young Southeast Asian Leaders Initiative” atau Program Pemimpin Muda Asia Tenggara di Gedung Putih, Senin (1/6).

Presiden AS Barack Obama membuka kesempatan bertanya kepada para peserta program “Young Southeast Asian Leaders Initiative” atau Program Pemimpin Muda Asia Tenggara di Gedung Putih, Senin (1/6).

75 orang tokoh muda, calon pemimpin dari negara-negara ASEAN mendapat kesempatan bertemu Presiden AS Barack Obama di Gedung Putih, hari Senin (1/6).

Tujuh puluh lima orang tokoh muda – calon pemimpin dari negara-negara ASEAN hari Senin (1/6) bertemu dengan Presiden Amerika Barack Obama di Gedung Putih setelah mengikuti program selama hampir enam mingu di 12 negara bagian di Amerika.

Sejak diluncurkan bulan Desember 2013, sudah hampir 35.000 anak muda dari seluruh Asia Tenggara yang mengikuti program “Young Southeast Asian Leaders Initiative” atau Program Pemimpin Muda Asia Tenggara ini.

“Jika saya berkesempatan bertemu Presiden Barack Obama, saya ingin menanyakan kepadanya bagaimana menyatukan keragaman masyarakat dalam kehidupan sehari-hari sehingga tidak terjadi konflik?,” tanya Aria Widyanto.

Aria Widyanto (berdiri paling kanan) dan para peserta program “Young Southeast Asian Leaders Initiative” berpose bersama di Gedung Putih, Senin (1/6).

Aria Widyanto (berdiri paling kanan) dan para peserta program “Young Southeast Asian Leaders Initiative” berpose bersama di Gedung Putih, Senin (1/6).

Inilah pertanyaan yang disampaikan Aria Widyanto – salah satu peserta dari Indonesia dalam program “Young Southeast Asian Leaders Initiative” ketika bertemu Presiden Barack Obama.

Sementara, Thongvone Sosamphan yang berasal dari Laos meminta pendapat Presiden Obama terhadap rentannya kehidupan warga – khususnya pelajar Laos karena masih banyaknya ranjau yang belum meledak atau unexploded ordnance atau UXO. Thongvone adalah Koordinator Pendanaan Masyarakat Madani – Otoritas Penanganan Ranjau Darat di Laos.

Aria Widyanto dan Thongvone Sosamphan adalah dua dari 75 peserta yang baru saja menyelesaikan program selama enam minggu di Amerika dan Senin siang berkesempatan bertemu langsung dengan Presiden Barack Obama.

Menjawab pertanyaan para calon pemimpin muda ini dalam diskusi singkat di Gedung Putih, Presiden Obama mengajak mereka menyelesaikan masalah yang dihadapi negara mereka dan kawasan mulai hal-hal yang paling sederhana. Misalnya menggelar bakti sosial yang sangat diperlukan masyarakat, seperti operasi bibir sumbing gratis yang dilakukan Khine Thinsar Maung di Rangoon – Myanmar, sosialisasi bahaya ranjau darat dan cara paling efektif memberi tahu polisi tentang ranjau darat sisa perang di Laos yang dilakukan Thongvone Sosamphan, atau studi lingkungan hidup di Singapura yang dilakukan Sheryl Hui Min.

Hal ini disampaikan Andy Rabens, penasehat khusus bidang pemuda dunia di Departemen Luar Negeri Amerika.

“Hari ini menandai selesainya pendidikan yang ditempuh ke-75 peserta YSEALI di Amerika. Selama lima minggu mereka telah mengikuti pendidikan akademik dan sosial budaya – terkait isu kewirausahaan dan pemberdayaan ekonomi, pendidikan, keterlibatan masyarakat sipil dan lingkungan hidup. Mereka adalah kelompok pertama program YSEALI sejak Presiden Obama mengumumkan perluasan program ini di Myanmar pada akhir November lalu. Presiden Obama ingin agar peserta YSEALI terlibat dalam pembahasan dan sekaligus mencari solusi masalah-masalah yang dihadapi negaranya dan juga kawasan Asia Tenggara,” ungkapnya.

Para peserta program “Young Southeast Asian Leaders Initiative” atau Program Pemimpin Muda Asia Tenggara sebelum bertemu Presiden Obama di Gedung Putih, Senin (1/6).

Para peserta program “Young Southeast Asian Leaders Initiative” atau Program Pemimpin Muda Asia Tenggara sebelum bertemu Presiden Obama di Gedung Putih, Senin (1/6).

Program “Young Southeast Asian Leaders Initiative” ini terbuka bagi mereka yang berusia 18–35 tahun dan memiliki program kerja yang digagas sendiri atau bersama-sama demi meningkatkan kesejahteraan warga. Para peserta kemudian akan dibagi dua kelompok : kelompok akademisi dan kelompok profesi. Kelompok akademisi akan mengikuti pendidikan selama lima minggu di “East West Center” di Honolulu, sementara kelompok profesi akan bekerja pada kantor-kantor swasta dan pemerintah di 12 negara bagian di Amerika, tergantung fokus proyek yang ingin dilakukan.

Aria Widyanto yang berasal dari Indonesia memilih bekerja di kantor pemerintah kota Iowa, mengamati dan merancang langsung kebijakan publik, memperkenalkan kebijakan itu kepada masyarakat dan mendapat masukan sebelum diterapkan.

“Di Iowa city saya shadowing administrasi mereka, saya bekerja seperti pegawai biasa dan terlibat merancang kebijakan publik bersama staf kota lain. Saya kagum dengan bagaimana sebuah kebijakan dibahas di ‘city-council-meeting’ atau ‘public hearing’ untuk menciptakan komunikasi politik yang baik antara pemerintah dan publik. Saya belajar bagaimana ketika mereka bisa mengkomunikasikan suatu kebijakan secara transparan dan mengundang publik untuk menyuarakan aspirasi mereka, maka hasilnya akan lebih baik karena mereka merasa didengar. Ketika kebijakan diimplementasikan, mereka bisa menerima dan bahkan merasa bertanggungjawab untuk melaksanakan karena merasa mereka ikut membuat kebijakan ini,” tambah Aria.

Dr. Khine Thinsar Maung, peserta dari Myanmar terpilih dalam YSEALI karena upayanya menggagas program operasi bibir sumbing dan langit-langit mulut terbelah secara gratis bagi ribuan warga tidak mampu di daerah-daerah terpencil di Myanmar. Ia memilih bekerja di Unit Pengobatan Masyarakat Universitas Oklahoma.

“Saya ditempatkan di Oklahoma University Community of Medicine – khususnya pada program pemberdayaan ekonomi dan masyarakat. Saya diminta merancang proyek-proyek pemberdayaan masyarakat yang tepat bagi warga Myanmar dengan melibatkan Amerika. Saya mendapat banyak gagasan dan mengetahui teknologi-teknologi baru yang bisa dimanfaatkan untuk negara saya,” ujar Maung.

Sepulangnya ke tanah air masing-masing, ke-75 peserta YSEALI ini diharapkan bisa menerapkan ilmu yang mereka peroleh dan membuka jaringan antar peserta di Asia Tenggara dan pakar yang mereka temui di Amerika.

Mereka yang berminat mengikuti program ini tahun depan, bisa melihat informasi lengkapnya situs YSEALI, juga akun media sosial di Facebook dan Twitter yang secara regular memberi informasi terbaru tentang program, beasiswa, diklat dan acara-acara YSEALI di negara masing-masing.

XS
SM
MD
LG