Tautan-tautan Akses

TNI AL Selidiki Penyebab Ledakan Gudang Amunisi di Jakarta


Petugas Polisi Militer TNI AL mengamankan lokasi sekitar Gudang amunisi militer milik Satuan Komando Pasukan Katak TNI AL di Pondok Dayung Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, yang meledak pada Rabu 5 Maret 2014 (VOA/Ahadian)

Petugas Polisi Militer TNI AL mengamankan lokasi sekitar Gudang amunisi militer milik Satuan Komando Pasukan Katak TNI AL di Pondok Dayung Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, yang meledak pada Rabu 5 Maret 2014 (VOA/Ahadian)

Sebuah gudang amunisi militer milik TNI AL di Jakarta meledak, Rabu (5/3), menewaskan satu orang dan 88 orang lainnya menderita luka-luka. Hingga kini penyebab ledakan masih diselidiki.

Sebuah gudang amunisi militer milik Satuan Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI Angkatan Laut di Pondok Dayung Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, meledak, Rabu (5/3).

Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksamana Pertama TNI Untung Suropati di lokasi kejadian menjelaskan ledakan didahului asap hitam pekat. Asap itu terpantau oleh anggota Kopaska yang tengah membersihkan gudang amunisi yang berisi persenjataan militer kaliber ringan itu.

"Pada jam 8.15 pagi, anggota jaga gudang amunisi melakukan pengecekan rutin. Sampai dengan jam itu gudang dinyatakan aman. Lalu jam 9.05 mulai tercium dan terlihat adanya kepulan asap hitam pekat. Reaksi anggota jaga secepatnya mengambil alat pemadam api untuk disemprotkan. Lalu sekitar jam 9.20 atau 9.25 terjadi ledakan kecil. Kurang dari 60 detik setelah itu terjadilah dentuman yang sangat hebat," kata Untung Suropati.

Peristiwa ledakan ini menewaskan Sersan Satu Imam Syafei, dan puluhan lainnya menderita luka-luka baik berat maupun ringan. Termasuk diantaranya kerusakan bangunan di lokasi kejadian.

"Korban terus berkembang, ya. Data yang saya pegang itu, total ada 87 orang dengan berbagai kondisi luka mulai dari berat sedang dan ringan, satu prajurit kita meninggal dunia. Kerusakan kurang lebih ada 10 bangunan di seantero gudang," tambahnya.

Laksamana Pertama TNI Untung Suropati menambahkan, tim investigasi penyelidik TNI AL sudah dibentuk, untuk mencari penyebab ledakan di gudang amunisi. Untuk memastikan tidak akan terjadi ledakan susulan, petugas menggenangi lokasi dengan air.

Dengan penyiraman ini menurut Untung, diharapkan suhu di gudang peluru akan dingin. Hal ini menurutnya juga untuk memudahkan tim investigasi melakukan penyelidikan sumber ledakan.

Sementara itu, Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Marsetio mengatakan, ledakan yang terjadi di gudang amunisi ringan milik TNI AL di Pondok Dayung Tanjung Priok Jakarta disebabkan karena adanya bahan peledak di dalam gudang.

"Di dalam gudang ada TNT yang baru saja diturunkan dari kapal. Itulah yang menyebabkan ledakan terasa besar," kata Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Marsetio.

Komisi I DPR RI akan turun langsung melakukan penyelidikan ledakan gudang amunisi milik TNI AL ini. Anggota Komisi 1 DPR RI TB Hasanuddin kepada VOA menjelaskan penyelidikan diantaranya terkait standar kelayakan penyimpanan amunisi militer.

"Kalau pemindahan dan sebagainya kita akan lihat ya. Seberapa jauh dan amunisi kaliber berapa yang meledak itu. Kalau kaliber kecil yang meledak berarti ada kesalahan prosedur dalam proses penyimpanan. Tetapi kalau kaliber berat memang harus dijauhkan dari penduduk dan kehidupan masyarakat," kata TB Hasanuddin.

TB Hasanuddin menambahkan dalam prosedur militer, amunisi kaliber ringan itu diperbolehkan penyimpanannya berada di sekitar asrama prajurit. Hal ini mengingat perlunya kesiapsiagaan prajurit dalam sitausi apapun. Namun jika amunisi berkaliber berat seperti hulu ledak harus dijauhkan dari asrama prajurit sekalipun, dan tentunya pemukiman penduduk.

Tahun 1984, insiden serupa terjadi di Markas pasukan Marinir TNI AL Cilandak Jakarta Selatan. Gudang amunisi di Cilandak itu memuat senjata sekelas roket dengan ukuran sebesar batang pohon kelapa. Peluru roket ini disimpan sejak zaman Soekarno ketika masa pembebasan Irian Barat.
XS
SM
MD
LG