Tautan-tautan Akses

Tiongkok: Dalai Lama Tak Berhak Tentukan Siapa Penggantinya

  • Peter Simpson

Pemerintah Tiongkok mengatakan, keputusan apapun oleh Dalai Lama untuk mengangkat penggantinya akan melanggar undang-undang Tiongkok.

Pemerintah Tiongkok mengatakan, keputusan apapun oleh Dalai Lama untuk mengangkat penggantinya akan melanggar undang-undang Tiongkok.

Tiongkok memperingatkan Dalai Lama, dia tidak mempunyai hak secara hukum untuk menentukan apakah dia boleh menjelma kembali sebagai pemimpin umat Budha Tibet.

Pernyataan itu disampaikan setelah Dalai Lama yang berusia 76 tahun itu mengatakan, hari Sabtu, ia berencana memutuskan pada usia kira-kira 90 tahun nanti, apakah dia akan mengalami proses reinkarnasi, dan Tiongkok tidak berhak mencampuri masalah ini.

Kementerian Luar Negeri Tiongkok memperingatkan Dalai Lama hari Senin, hanya Tiongkok yang boleh mengesahkan penggantinya.

Jurubicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Hong Lei mengatakan, keputusan apapun oleh Dalai Lama untuk mengangkat penggantinya melalui cara reinkarnasi akan melanggar undang-undang Tiongkok.

Ia berkeras bahwa Tiuongkok mendukung kebijakan kebebasan beragama termasuk menghormati dan melindungi pergantian dalam kepemimpinan Budha Tibet. Tetapi Hong menekankan berdasarkan sejarah Tiongkok punya kekuasaan atas Tibet dan mengatakan gelar Dalai Lama hanya diberikan oleh pemerintah pusat di Beijing dan kalau tidak demikian tidak sah.

Dalai Lama secara resmi meletakkan jabatan sebagai kepala pemerintahan Tibet di pengasingan, bulan Juli, ketika Lobsang Sangay yang berpendidikan Universitas Harvard di Amerika dilantik sebagai pemimpin politik baru.

Hari Sabtu, Dalai Lama mengatakan, ia akan memutuskan kalau ia berusia 90 tahun apakah ia akan menjalani proses reinkarnasi. Biasanya secara tradisi, biarawan-biarawan Budha mengidentifikasi seorang anak laki-laki yang menunjukkan tanda-tanda bahwa dia adalah reinkarnasi dari seorang pemimpin yang sudah meninggal.

Dalai lama mengatakan, dia akan menentukan pedoman yang jelas untuk mengakui pemimpin berikutnya sementara ia masih mampu secara fisik dan mental. Katanya, ini akan menjamin tidak ada apa yang disebutnya sebagai tipu muslihat.

Dalai Lama mengemukakan rencananya itu setelah pertemuan empat sekolah Budha Tibet di kota utara India, Dharamsala, di mana pemerintah Tibet di pengasingan bermarkas setelah serbuan dan pendudukan militer Tiongkok tahun 1950.

Mantan Perdana Menteri Pemerintah Tibet di pengasingan Samdhong Rinpoche mengatakan pertemuan itu membahas apakah Dalai Lama sebagai tradisi harus diteruskan.

"Dalam pertemuan itu Yang Mulia Dalai Lama ke 14 telah berbicara dengan para kepala keagamaan mengenai deklarasi sementaranya tentang apakah perlu melanjutkan tradisi reinkarnasi Dalai Lama setelah Dalai Lama ke 14. Seperti telah diumumkannya tahun 1969, apakah tradisi Dalai Lama harus diteruskan atau tidak, akan diputuskan oleh Rakyat Tibet dan posisi Yang Mulia masih dilanjutkan," kata Samdhong Rinpoche.

Dalai lama yang meninggalkan Tibet pada tahun 1959 dan tidak pernah kembali, mengatakan, ia akan berkonsultasi dengan para pemimpin senior, masyarakat Tibet dan orang-orang lain yang prihatin, yaitu para pengikut Budha Tibet.

Katanya, ia kemudian akan menilai kembali apakah tradisi Dalai Lama harus diteruskan. Menurutnya, Tiongkok tidak punya hak ikut campur dalam hal ini.

Namun, walau bagaimanapun tampaknya Tiongkok akan mengangkat pengganti pilihannya sendiri. Ini menimbulkan kemungkinan adanya dua pemimpin spiritual Tibet, satu yang diakui oleh Tiongkok, dan satu lagi pilihan warga Tibet di pengasingan.

XS
SM
MD
LG