Tautan-tautan Akses

Tiongkok Bantu ASEAN Tumpas Penyelundupan Satwa Liar


Siamang berpipi putih ini merupakan salah satu jenis primata langka yang terdapat di Taman Margasatwa Pu Mat di Propinsi Nghe An, Vietnam
Siamang berpipi putih ini merupakan salah satu jenis primata langka yang terdapat di Taman Margasatwa Pu Mat di Propinsi Nghe An, Vietnam

Tiongkok bergabung dalam jaringan ASEAN untuk membantu menumpas penyelundupan satwa liar, karena upaya-upaya penegak hukum internasional dan regional untuk mencegah penyelundupan binatang meningkat di tengah perkiraan yang suram bahwa sebagian spesies hampir punah.

Kelompok-kelompok anti-penyelundupan mengatakan keputusan Tiongkok untuk bergabung dalam Jaringan Kerja Penegakan Larangan Penyelundupan Satwa Liar ASEAN (ASEAN WEN) mendukung kerjasama regional melawan perdagangan gelap binatang-binatang langka.

Tiongkok merupakan tujuan utama penyelundupan satwa liar yang digunakan dalam obat-obatan tradisional dan sebagai makanan. Para analis mengatakan perdagangan gelap global itu bernilai milyaran dolar setahun.

Kraisak Choonhavan, ketua kelompok anti-penyelundupan itu, Yayasan Freeland, mengatakan Tiongkok bergabung dalam ASEAN WEN karena mendukung Konvensi mengenai Perdagangan Internasional Spesies yang Hampir Punah, atau CITES.

“Akhirnya Tiongkok mengakui konvensi CITES secara luas. Mereka akan harus mulai memberantas penyelundupan harimau, bagian-bagian tubuh gajah, dan beruang. Budaya kuliner yang sangat keji ini bertentangan dengan lingkungan hidup,” ujarnya.

Yayasan Freeland, yang mendapat dukungan dari pemerintah Amerika, membentuk kerjasama di antara pemerintahan-pemerintahan regional, polisi setempat, dan organisasi-organisasi kepolisian internasional, seperti INTERPOL.

Freeland mengatakan peningkatan pengawasan menghasilkan peningkatan 10 kali lipat tindak penegakan hukum di Asia dalam lima tahun belakangan.

Menurut data terbaru yang dikumpulkan oleh Freeland, lebih dari 190 tindakan hukum dilakukan antara bulan April sampai September 2010, dengan ditemukannya 16.000 satwa hidup, dan 14 ton bagian-bagian tubuh binatang yang di pasar gelap bernilai 6 juta dolar. Polisi juga menangkap 100 orang lebih.

Namun, Steve Galster, direktur Yayasan Freeland, mengatakan meskipun dilakukan penangkapan-penangkapan itu para gembongnya bisa lolos.

“Kesulitan terbesar yang kami hadapi adalah membuat badan-badan pemerintah bersedia melakukan penangkapan orang-orang yang punya pengaruh. Jika hal itu terlaksana, saya rasa kita akan segera menyaksikan berkurangnya perburuan gelap, penyelundupan, dan konsumsi daging satwa-satwa yang terancam punah,” ujarnya.

Douglas Hendrie yang bekerja pada lembaga Education for Nature Vietnam yang berkantor pusat di Hanoi mengatakan kemajuan ekonomi di Vietnam mendorong meningkatnya permintaan satwa liar untuk dimakan.

Namun, Hendrie mengatakan generasi muda berpendidikan di Vietnam nampaknya tidak mau makan daging satwa liar. Ia mengatakan upaya untuk menegakkan hukum bagi perlindungan satwa liar juga membesarkan hati.

Tetapi, walaupun ada kemajuan yang dicapai di Asia, perdagangan gelap binatang meluas ke bagian-bagian lain dunia.

Kelompok-kelompok anti-penyelundupan menunjuk pada permintaan akan satwa liar hidup sebagai hewan peliharaan dari negara-negara Timur Tengah. Mereka mengatakan sejauh ini, para penyelundup berhasil lolos dari kejaran penegak hukum di Asia

XS
SM
MD
LG