Tautan-tautan Akses

Tiongkok akan Prioritaskan Atasi Inflasi Tahun Depan

  • Heda Bayron

Para warga di Beijing berbelanja keperluan sehari-hari di sebuah pasar sayuran. Kenaikan harga-harga akan menjadi tantangan utama ekonomi Tiongkok tahun depan.

Para warga di Beijing berbelanja keperluan sehari-hari di sebuah pasar sayuran. Kenaikan harga-harga akan menjadi tantangan utama ekonomi Tiongkok tahun depan.

Pemerintah Tiongkok menetapkan target inflasi tahun ini sebesar tiga persen, tetapi tingkat inflasi tampaknya melampaui tiga persen.

Otorita ekonomi Tiongkok mengisyaratkan mengatasi kenaikan harga-harga akan menjadi prioritas utama mereka tahun depan. Pemerintah Tiongkok menetapkan target inflasi tahun ini rata-rata sebesar tiga persen, tetapi sejumlah ekonom memperkirakan angkanya akan berada di atas tiga persen. Bulan lalu, inflasi naik menjadi 5,1 persen dari 4,4 persen pada bulan Oktober.

Shen Jiangguang, ekonom di Mizuho Securities di Hong Kong, memperkirakan harga-harga akan terus meningkat.

Shen mengatakan, “Kemungkinan bulan November akan menjadi puncak inflasi untuk tahun ini. Namun tahun depan, dalam enam bulan pertama, mungkin inflasinya akan lebih tinggi lagi.”

Harga makanan melonjak paling tinggi pada bulan November, sebagian karena hasil panen yang buruk dan biaya yang lebih tinggi untuk mengangkut hasil panen itu.

Hari Minggu yang merupakan hari terakhir konferensi ekonomi nasional, pemerintah mengisyaratkan akan mengambil langkah-langkah lainnya untuk menahan inflasi. Tidak ada rincian yang disebutkan, tapi pemerintah bisa mengontrol harga komoditas pangan untuk membantu konsumen, seperti yang telah mereka lakukan di masa lalu.

Tapi yang dianggap sulit untuk ditangani oleh pembuat kebijakan adalah tekanan harga dari sisi perbankan. Dalam beberapa bulan terakhir, Tiongkok telah berusaha untuk menghapuskan dampak dari pinjaman dan investasi yang berlebihan akibat dari paket stimulus ekonomi besar-besaran pada tahun 2009, yang membantu menaikkan harga properti, saham dan komoditas dasar.

Ekspor merupakan penggerak utama ekonomi Tiongkok, namun inflasi menjadi ancaman pertumbuhan ekonomi yang pesat ini.

Ekspor merupakan penggerak utama ekonomi Tiongkok, namun inflasi menjadi ancaman pertumbuhan ekonomi yang pesat ini.

Tiongkok menetapkan target sebesar 7,5 triliun yuan, atau 1,1 triliun dolar, sebagai pinjaman baru tahun ini, jauh lebih rendah dibanding tahun 2009. Namun dalam 11 bulan pertama tahun ini, jumlah pinjaman baru hampir mencapai angka itu.

Bank-bank telah diminta untuk menahan dana mereka lebih banyak lagi sebagai cadangan untuk mengurangi pinjaman.

Shen mengatakan bank sentral kemungkinan akan mengambil serangkaian tindakan termasuk menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan dan menurunkan jatah pinjaman tahun depan.

Tetapi ia mengatakan selama nasabah bank Tiongkok mendapat bunga bank yang lebih rendah dibandingkan jika berinvestasi pada bidang properti dan saham, inflasi akan tetap menjadi masalah.

Stephen Roach, bekas direktur operasional wilayah Asia untuk bank investasi Morgan Stanley dan juga profesor di Yale University, mengatakan inflasi mengalihkan perhatian pemerintah Tiongkok untuk mengubah negara dengan ekonomi yang berorientasi ekspor ke ekonomi yang digerakkan oleh konsumsen dalam negeri .

Roach mengatakan, “Semakin lama para pembuat kebijakan menunda menangani inflasi maka semakin sulit mengatasi masalah struktural. Saran saya adalah untuk bergerak secara cepat dan agresif untuk menangani inflasi supaya dapat dilanjutkan dengan transisi yang paling penting di Tiongkok, yaitu mendorong konsumsi.

Dengan pengetatan jumlah dana pinjaman dari pemerintah, ekonomi Tiongkok diperkirakan melambat tahun 2011 nanti. Itu juga akan berdampak pada negara-negara yang melakukan perdagangan dengan Tiongkok. Hari Senin, gubernur bank sentral Korea Selatan mengatakan ia sedang mengamati inflasi di Tiongkok serta dampak potensialnya bagi Korea Selatan.

XS
SM
MD
LG