Tautan-tautan Akses

Tim Peneliti AS Uji 2 Vaksin Anti-Zika

  • Jessica Berman

Seorang peneliti menganalisa sampel darah dari seorang perempuan hamil yang diduga terpapar virus Zika di Guatemala (foto: dok).

Seorang peneliti menganalisa sampel darah dari seorang perempuan hamil yang diduga terpapar virus Zika di Guatemala (foto: dok).

Dua vaksin efektif telah dikembangkan untuk melawan virus Zika, infeksi akibat nyamuk yang bisa menimbulkan cacat lahir dan meningkatkan penyakit kelumpuhan yang disebut sebagai sindrom Guillain-Barre.

Tim peneliti Amerika bekerja secepat mungkin untuk menguji vaksin-vaksin tersebut di negara-negara di mana Zika menjadi ancaman kesehatan masyarakat.

Bulan Februari lalu Organisasi Kesehatan Sedunia WHO menyatakan wabah Zika sebagai darurat kesehatan masyarakat dunia. Sejak saat itu, pabrik obat telah berupaya menciptakan vaksin yang bisa mencegah infeksi Zika. Dua vaksin baru – yang masing-masing dibuat secara berbeda – telah terbukti sangat efektif dalam eksperimen terhadap tikus.

Salah satu vaksin yang disebut sebagai vaksin DNA, direkayasa dari satu protein viral Zika. Lainnya dihasilkan dari pemurnian virus yang sudah dilumpuhkan atau dinon-aktifkan, teknologi yang sama yang sebelumnya digunakan untuk membuat vaksin polio.

Dan Barouch - pakar medis di Beth Deaconess Medical Center di Harvard University dan pakar penyakit menular - mengatakan kedua vaksin itu merangsang produksi antibodi sistem kekebalan yang melindungi tikus-tikus dari infeksi virus Zika.

“Perlindungan itu lengkap dan mencolok. Semua tikus yang diberi vaksin itu tidak menunjukkan adanya virus dalam aliran darah mereka, sementara semua tikus yang tidak diberi vaksin menjadi tertular dan memiliki tingkat virus yang tinggi dalam aliran darah mereka. Salah satu point penting adalah perlindungan itu dicapai dengan hanya satu kali imunisasi,” kata Barouch.

Tim peneliti itu menggambarkan upaya yang mereka lakukan itu dalam jurnal “Nature”.

Brazil adalah negara yang paling banyak memiliki kasus Zika. Banyak perempuan hamil yang tertular virus itu melahirkan anak dengan cacat bawaan yang disebut sebagai microcephaly, yang membuat anak lahir dengan ukuran kepala kecil.

Anak-anak yang menderita microcephaly juga memiliki keterbatasan intelektual, kejang-kejang dan masalah motorik. Virus itu juga dikaitkan dengan sindrom Guillain-Barre, yaitu penyakit kelumpuhan yang umumnya menyerang orang dewasa.

Nelson Michael – direktur program HIV militer di Walter Reed Army Institute of Research di Maryland – yang juga penulis-kembar artikel di jurnal “Nature” mengatakan, vaksin-vaksin itu sekarang sedang diproduksi dan para peneliti berharap bisa mulai melakukan uji coba pada manusia Oktober mendatang.

“Saat ini saya ingin mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang siap menggunakan vaksin tersebut sebelum dilakukan studi lebih lanjut. Tetapi saya bisa mengatakan bahwa penelitian ini akan bergerak sangat cepat,” ungkap Michael.

Meskipun yang paling beresiko tertular Zika adalah perempuan hamil, Michael mengatakan uji coba awal akan dilakukan pada perempuan yang sehat dan bisa hamil.

Ditambahkannya, jika cukup banyak orang yang divaksinasi, hal ini bisa memperluas perlindungan pada perempuan hamil yang mungkin tidak perlu divaksinasi. Jika semua berjalan lancar, kedua vaksin viral yang sudah dilumpuhkan dan vaksin DNA siap digunakan tahun depan. [em/al]

XS
SM
MD
LG