Tautan-tautan Akses

Tim Gabungan RI dan 7 Negara Asing Siap Padamkan Titik Api di Sumatera


Kepala Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho (kanan) dan Duta Besar Australia untuk Indonesia Paul Grigson (kiri) di kantor BNPB, Minggu, 11 Oktober 2015. (VOA/Andylala)

Kepala Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho (kanan) dan Duta Besar Australia untuk Indonesia Paul Grigson (kiri) di kantor BNPB, Minggu, 11 Oktober 2015. (VOA/Andylala)

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan hingga Minggu (11/10) masih ada 700 lebih titik api di Sumatera yang sebagian besar berada di kawasan hutan tanaman industri Sumatera Selatan.

Tim gabungan operasi udara dari Indonesia, Singapura dan Malaysia bersama-sama memadamkan titik api (hotspot) akibat kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Sumatera Selatan. Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, di kantor BNPB Minggu (11/10) menjelaskan selain Singapura dan Malaysia masih ada 5 negara lagi yang siap membantu Indonesia dalam mengatasi kebakaran hutan dan lahan.

"Sampai dengan hari ini yang sudah mengirimkan bantuan (pesawat) baru Singapura dan Malaysia. Pemerintah Singapura telah mengirimkan 1 heli Chinook dengan kapasitas 5 ton. Sedangkan Malaysia mengirimkan 1 pesawat jenis Bombardir 415 MP dengan kapasitas 6 ton. Pemerintah Jepang, Australia, Korea, China, Rusia masih dalam koordinasi dengan kementerian luar negeri," kata Sutopo.

Sutopo menambahkan, untuk saat ini konsentrasi pemanfaatan pesawat digunakan untuk penyemprotan air dari udara di beberapa daerah di Sumatera Selatan.

"Total hari ini untuk operasi udara pemadaman kebakaran hutan dan lahan Sumatera Selatan ada 7 helikopter dan 3 pesawat fix wings melakukan water bombing, serta satu pesawat Casa untuk hujan buatan. Operasi dikonsentrasikan di daerah Ogan Komering Ilir dan Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan," jelas Sutopo.

Tampilan layar lebar sebaran asap di Sumatera dan Kalimantan di kantor BNPB, Minggu, 11 Oktober 2015. (VOA/Andylala)

Tampilan layar lebar sebaran asap di Sumatera dan Kalimantan di kantor BNPB, Minggu, 11 Oktober 2015. (VOA/Andylala)

Menurut Sutopo, ke-7 heli dan 4 pesawat tersebut terdiri dari 6 heli BNPB, 1 heli dari Singapura, 2 pesawat Air Tractor dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 1 pesawat hujan buatan BNPB, dan 1 pesawat Bombardir dari Malaysia.

Pemerintah Malaysia telah mengirimkan 1 pesawat jenis Bombardir 415 MP dengan kapasitas 6 ton, dan bekerja secara loading air dengan scooping di laut. Pesawat Malaysia ini akan beroperasi sampai dengan Jumat (16/10) atau efektif kerja praktis hanya 5 (lima) hari. Sementara itu, Singapura telah mengirimkan 1 Heli Chinook dengan kapasitas 5 ton. Heli ini akan dioperasikan selama 13 hari yaitu 11-23 Oktober 2015.

Sementara itu Pemerintah Australia siap mengerahkan Thor atau pesawat tanker 132 untuk membantu pemerintah Indonesia memadamkan kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah. Duta Besar Australia untuk Indonesia, Paul Grigson, di kantor BNPB Jakarta Minggu (11/10) menjelaskan, Thor merupakan pesawat Hercules C-130 varian sipil. Rencananya, pesawat tersebut akan tiba paling cepat, Rabu (14/10), untuk kemudian bergabung dengan tim gabungan Indonesia.

"Kami siap untuk mengirimkan pesawat besar, Hercules. Pesawat ini bisa membawa lima belas ribu liter air. Kami akan memastikan ketersediaan bahan bakar dan air. Untuk memastikan kebutuhan operasional pesawat dalam pemadaman lahan dan hutan, Australia sudah mengirimkan orang ke Palembang dan sejumlah wilayah lain yang kemungkinan akan ditangani Thor," kata Duta Besar Paul.

Sutopo menambahkan hingga Minggu (11/10) masih ada 700 lebih titik api di Sumatera yang sebagian besar berada di kawasan hutan tanaman industri Sumatera Selatan.

"Di Sumatera ada 726 titik api. Dimana 613 ada I Sumatera Selatan. Di situ adalah kawasan hutan tanaman industri. Baik yang di musi Banyuasin maupun di Ogan Komering Ilir. Yang terbakar ribuan hektar. Dan cukup sulit kita melakukan pemadaman karena luasnya lahan. Kemudian juga kondisinya sangat kering dan daerah gambut," ujarnya.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG