Tautan-tautan Akses

Tiga Puluh Aktivis Perempuan Kembali ke Korea Selatan


Aktivis AS Gloria Steinem berpidato dalam acara pembukaan Women Cross DMZ di Paju, Korea Selatan, Minggu, 24 Mei 2015. (AP Photo/Ahn Young-joon)

Aktivis AS Gloria Steinem berpidato dalam acara pembukaan Women Cross DMZ di Paju, Korea Selatan, Minggu, 24 Mei 2015. (AP Photo/Ahn Young-joon)

Sebuah bis yang membawa 30 aktivis perempuan dunia, termasuk feminis Amerika Gloria Steinem, menyebrangi perbatasan Korea Utara menuju ke Korea Selatan hari Minggu (24/5) setelah mengikuti simposium untuk memperingati Hari Perlucutan Senjata Perempuan Internasional.

Kelompok yang disebut “Women Cross DMZ” itu tiba di Korea Utara hari Selasa (19/5) untuk menyelenggarakan simposium perdamaian dan berpawai bersama beberapa perempuan Korea Utara dalam kunjungan selama enam hari itu.

Upaya ke-30 aktivis perempuan itu untuk menyebrangi Zona Demiliterisasi yang memisahkan kedua Korea ditolak, tetapi Korea Utara mengijinkan bis Korea Selatan itu untuk menyebrangi garis demarkasi guna memulangkan mereka kembali ke Korea Selatan.

Dalam konferensi pers di Korea Selatan, Gloria Steinem, aktivis berusia 81 tahun, mengatakan “mereka bisa menjadi citizen-diplomats.” Ditambahkannya, mereka menerima begitu banyak dukungan dan merasa sangat positif dengan kunjungan itu.

Meskipun menolak mengomentari kondisi HAM di Korea Utara, Steinem mengatakan kepada media bahwa “pelanggaran HAM di mana pun merupakan pelanggaran HAM di mana-mana.” Ditambahkannya, “tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mengubah citra Korea Utara.”

Kelompok aktivis perempuan ini juga mencakup dua penerima Nobel Perdamaian, yaitu Mairead Maguire dari Irlandia Utara dan Leymah Gbowee dari Liberia.

Minggu malam ke-30 aktivis perempuan itu berpawai di jalan-jalan bersama ratusan aktivis Korea Selatan, guna menyerukan reunifikasi kedua Korea.

XS
SM
MD
LG