Tautan-tautan Akses

3 Penderita Ebola Ditemukan di Sierra Leone


Petugas medis bekerja sama dengan Medecins Sans Frontieres (Dokter Tanpa Batas) bersiap untuk memberikan makanan pada pasien di daerah yang diisolasi di pusat penanganan Ebola di distrik, Kailahun, Sierra Leone, 20 Juli 2014.

Petugas medis bekerja sama dengan Medecins Sans Frontieres (Dokter Tanpa Batas) bersiap untuk memberikan makanan pada pasien di daerah yang diisolasi di pusat penanganan Ebola di distrik, Kailahun, Sierra Leone, 20 Juli 2014.

Tiga orang lagi yang positif terserang virus Ebola dari desa yang sama di distrik Kambia, Sierra Leone utara di mana seorang perempuan berusia 67 tahun meninggal minggu lalu akibat virus tersebut, menurut petugas kesehatan Sierra Leone.

Ketua petugas medis Dr. Brima Kargbo mengatakan pada VOA pada hari Selasa (8/9) ketiga pasien baru tersebut termasuk 50 orang beresiko tinggi yang diidentifikasi sebagai keluarga dekat perempuan yang meninggal tersebut.

Sierra Leone memiliki hampir 14.000 kasus Ebola dan sekitar 4.000 orang meninggal sejak wabah tersebut pecah pada tahun 2014. Tapi Dr. Kargbo mengatakan wabah terbaru masih bisa ditangani karena asalnya bisa dilacak.

“Ini adalah orang-orang yang tinggal di daerah yang sama karena ketika perempuan tersebut meninggal, tidak ada yang tahu bahwa penyebabnya adalah Ebola. Jadi sebagian besar tinggal di rumah dan beberapa bahkan ikut memandikan mayat. Ini sebabnya kenapa seluruh desa ini dikarantina untuk menghindari penularan infeksi itu ke tempat lain," ujarnya.

Wabah terakhir mengubur harapan negara tersebut untuk bisa dinyatakan bebas dari Ebola setelah pasien Ebola terakhir keluar dari rumah sakit akhir bulan lalu. Tapi Dr. Kargbo mengatakan warga Sierra Leone tidak perlu khawatir akan penyebaran luas wabah ini seperti tahun lalu.

“Ebola tidak kembali ke Sierra Leone karena kita sekarang bisa melacak asal infeksinya. Kalau sumbernya tidak diketahui, lain halnya. Tapi ini berasal dari sumber yang diketahui, di desa yang sama dan masyarakat yang sama," ujarnya.

Selain itu, Dr. Kargbo mengatakan, mereka telah mulai memberikan “vaksin cincin Guinea” eksperimental pada orang-orang di komunitas itu.

“Kami telah memvaksinasi lebih dari 130 orang dari komunitas yang sama untuk melindungi mereka, tapi juga untuk mencegah mereka yang bersentuhan dengan perempuan yang meninggal itu agar tidak terkena infeksi," kata Kargbo.

Ia mengatakan pemerintah sedang memeriksa keponakan perempuan yang meninggal tersebut karena dianggap memiliki resiko tinggi tertular penyakit itu.

“Keponakannya adalah orang pertama yang terinfeksi setelah perempuan itu karena ia yang mengurusinya. Semua yang positif adalah keluarga dekat perempuan yang meninggal tersebut," ujarnya.

Dr. Kargbo mengatakan kepokanan perempuan tersebut harus menyerahkan diri dan tidak perlu takut pemerintah akan menangkapnya karena melanggar prosedur Ebola di negara tersebut.

XS
SM
MD
LG