Tautan-tautan Akses

AS

3 Perempuan Muslim Terima Penghargaan HAM AS


Salah seorang di antara mereka berhasil melalui masa kecil yang penuh kekerasan, satunya selamat dari serangan ekstrimis Muslim, satunya lagi dipenjara tujuh tahun di China.

Ayaan Hirsi Ali, Irshad Manji dan Rebiya Kadeer datang dari berbagai belahan dunia pada hari Kamis (10/12).

Salah seorang di antara mereka berhasil melalui masa kecil yang penuh kekerasan, dan dipaksa menikah di Somalia. Satunya lagi menerima ancaman mati dan merupakan korban serangan ekstrimis Muslim di Indonesia. Satunya lagi pernah dipenjara selama tujuh tahun di China.

Ketika bersama-sama berdiri di panggung hari Kamis (10/12) di Washington, D.C., mereka terus saling bertukar pandang tanpa mengucapkan sepatah katapun. Tatapan mereka menunjukkan satu hal yang menyatukan mereka: perjuangan membela hak asasi manusia.

Hari Kamis, pada Hari HAM Internasional, ketiga perempuan tersebut diberikan penghargaan Lantos Human Rights Prize.

Penghargaan tersebut diambil dari nama anggota Kongres AS Tom Lantos, satu-satunya penyintas Holocaust yang pernah menjadi anggota Kongres. Lantos adalah seorang pembela hak-hak asasi manusia yang tangguh, dan peninggalannya terasa di dinding-dinding Capitol Hill di mana Komisi Hak Asasi Tom Lantos secara rutin menjadi forum yang membela hak asasi manusia di seluruh dunia.

Yayasan Lantos mulai memberikan penghargaan tahunan sejak tahun 2009. Sebelumnya, penghargaan itu pernah diberikan kepada Dalai Lama dan aktivis hak asasi manusia China Chen Guangcheng.

Tahun ini, untuk pertama kalinya, tiga perempuan dengan tiga latar belakang Islam menerima penghargaan itu.

Dari petugas kebersihan ke parlemen

Ayaan Hirsi Ali lahir di Somalia pada tahun 1969. Sebagai seorang anak perempuan, ia disunat. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, lebih dari 125 juta perempuan, biasanya di bawah usia 15 tahun, pernah mengalami prosedur itu.

Ayaan Hirsi Ali (Foto: dok.)

Ayaan Hirsi Ali (Foto: dok.)

Lalu, Hirsi Ali dipaksa ayahnya menikahi sepupu jauhnya. Itu yang memutuskannya kabur ke Belanda.

Di sana, ia bekerja sebagai petugas kebersihan dan akhirnya menjadi penerjemah bagi anggota Parlemen Belanda. Selama bertahun-tahun, ia mendedikasikan hidupnya untuk memperjuangkan hak-hak perempuan. Tidak ada agama atau budaya yang membenarkan kekerasan terhadap perempuan, katanya.

"Justru agama saya, yang saya peluk ketika kecil, saya bukan lagi seorang Muslim, tapi Islam adalah agama yang saya peluk ketika saya tumbuh dewasa, digunakan sebagai alat untuk membunuh, memperkosa perempuan, menyebarkan sentimen anti-Yahudi, melempar gay dari gedung bertingkat; ini memalukan, menjijikkan dan saya merasa saya memikul tanggung jawab untuk berbicara tentang hal ini dan melakukan sesuatu untuk menghentikannya dengan cara yang paling damai," kata Hirsi Ali.

Tapi cara-cara damai tersebut tetap bisa memancing kekerasan dari orang lain.

Sutradara Theo Van Gogh bekerja dengan Hirsi Ali untuk film Submission, tentang opresi perempuan-perempuan Muslim. Pada tahun 2004, Van Gogh ditusuk dan tewas di siang hari di jalanan Amsterdam. Pelakunya, yang mempunyai kaitan dengan teroris, meninggalkan pesan yang ditempel di dada Van Gogh.

Pesan itu berisi ancaman mati bagi Hirsi Ali.

Tapi ancaman serupa tidak menghentikannya untuk terus memperjuangkan hak-hak perempuan di seluruh dunia.

Penolakan di mana-mana

Irshad Manji, 46, lahir di Uganda dan pindah ke Kanada ketika ia berusia empat tahun. Di sana ia tumbuh di rumah tangga yang penuh kekerasan. Ketika ia berusia 14 tahun, ia dikeluarkan dari sekolah Islam karena terlalu banyak bertanya.

Irshad Manji (Foto: dok.)

Irshad Manji (Foto: dok.)

Ia kemudian mulai belajar Islam sendiri. Saat itu, katanya, ia menyadari bahwa ia bisa meleburkan imannya dengan berbagai macam kebebasan dan hak-hak.

Selama bertahun-tahun, ia memimpin untuk reformasi Islam.

Hasil kerjanya tidak diterima baik di banyak bagian di dunia, dan ia menerima banyak ancaman mati sehingga jendela apartemennya dibuat anti peluru. Ketika ia muncul di publik, ekstrismis Muslim menyerbu dan menuntut ia dieksekusi.

Manji mengatakan penghargaan ini bukan tentang Islam. Tapi tentang seluruh umat manusia.

"Bagi saya penghargaan ini mewakili kualitas yang sulit ditemukan yang saya yakin bisa dikembangkan oleh siapapun, tapi sebagian besar tidak mengizinkannya berkembang, kualitas itu adalah keberanian moral, artinya melakukan hal yang benar dan menyingkirkan rasa takut kita," kata Manji.

Dipenjara selama 6 tahun

Rebiya Kadeer dikenal sebagai "Ibu Uighur," populasi Muslim yang tertindas di China barat laut.

Rebiya Kadeer (Foto: dok.)

Rebiya Kadeer (Foto: dok.)

Kadeer, 69, datang dari keluarga miskin. Ia kini seorang pengusaha jutawan. Tapi, ia dikenal sebagai salah satu orang Uighur, kelompok yang mengaku menjadi korban pemerintah China selama berpuluh-puluh tahun.

Kadeer pernah memegang berbagai jabatan di dunia politik China sebelum ditangkat pada tahun 1999 karena memberikan berbagai materi penerbitan kepada suaminya, yang saat itu tinggal di Amerika dan bekerja untuk Radio Free Asia dan Voice of America. Ia dituduh memberikan materi rahasia kepada seseorang di luar wilayah China.

Pada tahun 2005, ia dibebaskan dan pindah ke Amerika. Ia masih terus mengeluarkan kritik keras kepada pemerintah Beijing dan perlakuannya kepada Muslim China.

"Masalah Uighur bukan hanya masalah bagi Uighur,” kata Kadeer. “Tapi merupakan masalah pemerintah China. Keadaan yang dihasilkan akibat penolakan sistematis terhadap hak-hak asasi dan kebebasan dasar etnis Uighur.” [dw]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG