Tautan-tautan Akses

Keprihatinan Memuncak soal Kesehatan Raja Thailand

  • Steve Herman

Warga Thailand membawa potret Raja Bhumibol Adulyadej dalam acara untuk menunjukkan dukungan warga terhadap Raja di Bangkok (foto: dok).

Warga Thailand membawa potret Raja Bhumibol Adulyadej dalam acara untuk menunjukkan dukungan warga terhadap Raja di Bangkok (foto: dok).

Keprihatinan meningkat di Tailand mengenai kondisi Raja Bhumibol yang telah memerintah negara itu sejak tahun 1946.

Keprihatinan ini terjadi setelah adanya permintaan luar biasa dari Puteri Kerajaan untuk berdoa bagi ayahnya yang berusia 87 tahun, yang selama beberapa tahun ini dirawat di rumah sakit di ibukota Thailand, Bangkok.

Raja Bhumibol terakhir tampil di depan umum awal bulan ini, ketika ia meninggalkan rumah sakit sebentar. Sejak itu, buletin-buletin medis Kerajaan telah menyebutkan adanya infeksi darah, demam, dan radang paru-parunya. Keadaannya diberitakan telah membaik, tetapi kecemasan diseluruh negara terus berlanjut.

Ahli waris, Putra Mahkota Maha Vajiralongkorn, belum mencapai tingkat keagungan yang diberikan kepada orang tuanya. Bulan lalu ia memimpin acara mengendarai sepeda, acara ini dianggap untuk menunjukkan kepada negara di bawah kekuasaan militer tersebut, bahwa militer mendukung putra mahkota untuk menggantikan ayahnya.

"Di Thailand sebelumnya tidak pernah berlangsung acara semacam ini. Ini untuk pertama kalinya saya bersepeda dengan banyak orang dan menunjukkan persatuan kami," ujar Thanapat, seorang pegawai kantor pemerintah.

Namun, Putera Mahkota itu masih merupakan tokoh yang terpencil. Tahun lalu ia menceraikan istrinya yang ketiga.

Sebagian orang berspekulasi bahwa adiknya, Putri Sirindhorn, yang secara luas dikagumi karena usahanya di bidang Filantropi dan pendidikan, bisa menjadi pengganti ayahnya. Tapi dia belum secara resmi diangkat sebagai pewaris tahta.

Pembicaraan mengenai penggantian Raja adalah tabu dan berkomentar tentang nasib kerajaan bisa mengakibatkan orang dijatuhi hukuman penjara yang lama di bawah hukum Thailand yang keras.

"Kami juga khawatir dengan meningkatnya hukuman penjara yang keras yang dijatuhkan oleh pengadilan militer, yang tidak memenuhi standar hak asasi internasional, termasuk hak untuk memperoleh pengadilan yang adil,” keluh Ravina, seorang aktivis HAM.

Kebanyakan orang Thailand hanya mengenal satu Raja. Karena Raja dihormati hampir seperti dewa, wafatnya Raja akan membuat bangsa dan negara sangat berkabung. Tetapi, hal ini juga bisa mendorong introspeksi dan diskusi diam-diam yang berkepanjangan, mengenai perubahan dinasti Chakri yang telah berusia berabad-abad di Thailand. [sp/ii]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG