Tautan-tautan Akses

Thailand Hadapi Tekanan Terkait Pengungsi Uighur China

  • Ron Corben

Polisi anti huru-hara berupaya membubarkan para pengunjuk rasa Uighur yang berusaha mendobrak barikade di luar Kedutaan China di Ankara, Turki (9/6).

Polisi anti huru-hara berupaya membubarkan para pengunjuk rasa Uighur yang berusaha mendobrak barikade di luar Kedutaan China di Ankara, Turki (9/6).

Pemerintah Thailand selama lebih dari setahun berunding dengan China dan Turki setelah 350 orang Uighur ditemukan bersembunyi di Thailand dan ditahan di pusat-pusat penahanan imigrasi.

Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi/UNHCR menekan Thailand untuk mengijinkan 50 orang lebih dari etnis Uighur pergi ke Turki meskipun ada tekanan dari China untuk memulangkan mereka ke China.

Wartawan VOA Ron Corben melaporkan dari Bangkok mengenai dilema yang dihadapi pihak berwenang Thailand yang sudah menghadapi kecaman keras karena memulangkan secara paksa sekelompok anggota etnis Uighur ke China awal bulan ini.

Sekjen Dewan Keamanan Nasional Thailand, Anusit Kunakorn minggu ini berusaha untuk meredakan kekhawatiran akan perlakuan China terhadap orang-orang Uighur yang dipulangkan dengan mengunjungi pusat penahanan di Xinjiang dimana mereka ditahan.

Ia mengatakan kepada wartawan Thailand bahwa ke 109 orang dari etnis Uighur itu dalam kondisi baik dan menyebut fasilitas itu "bersih dan rapi". Ia mengatakan 13 dari mereka yang ditahan di apa yang disebutnya "pusat rehabilitasi" itu sedang diselidiki atas keterlibatan mereka dalam aksi terror.

Meskipun Sekjen Anusit Kunakorn menunjukkan foto mengenai sebagian dari fasilitas itu, ia mengatakan pengambilan foto orang-orang Uighur itu dilarang. China menolak mengijinkan media atau organisasi internasional mengunjungi pusat penahanan itu.

Pemerintah Thailand selama lebih dari setahun berunding dengan China dan Turki setelah 350 orang Uighur ditemukan bersembunyi di Thailand dan ditahan di pusat-pusat penahanan imigrasi.

Sekitar 180 orang Uighur, sebagian besar perempuan dan anak-anak, dikirim ke Turki setelah mendapat dokumen imigrasi resmi. Turki secara rutin menampung orang-orang Uighur yang memiliki dokumen semacam itu karena memiliki keterkaitan budaya tradisional dan klaim bahwa minoritas Muslim itu menghadapi penganiayaan di China.

Tapi lebih dari 50 orang Uighur lagi masih ditahan di pusat penahanan imigrasi di Bangkok.

Juru bicara UNHCR di Thailand Vivian Tan mengatakan pemerintah Thailand harus mengijinkan kelompok itu bebas melakukan perjalanan.

"Pada dasarnya, UNHCR telah meminta kepada pemerintah Thailand untuk menahan diri dengan tidak mendeportasi orang secara paksa di masa yang akan datang. Kami mendesak pemerintah untuk mengijinkan orang-orang yang masih berada di Thailand untuk pergi secara suka rela ke tempat dimana pemerintahnya bersedia menerima mereka," kata Vivian Tan.

China menuduh orang-orang Uighur itu terkait dengan organisasi teroris seperti ISIS dan separatis.

Benjamin Zawacki, seorang penganjur HAM dan pengacara mengatakan Thailand tidak mengijinkan pemerikasaan selayaknya terhadap pengungsi itu oleh organisasi internasional sebelum mereka dipulangkan ke China.

"Pada dasarnya hukum internasional tanpa memandang status Thailand yang tidak menandatangani konvensi mengenai pengungsi adalah -sampai dan kecuali pemeriksaan dilakukan, ada anggapan bahwa orang yang punya ketakutan akan menghadapi hukuman tidak bisa dipulangkan kembali sampai ada keputusan mengenai hal itu," kata Benjamin Zawacki.

Laporan-laporan mengatakan China terus menekan Thailand untuk memulangkan etnis Uighur itu ke China.

Tapi Perdana Menteri Thailand Prayut Chan-o-cha menolak berkomentar mengenai tujuan akhir orang-orang Uighur itu, dan hanya mengatakan bahwa orang-orang Uighur yang masih berada di Thailand itu akan tetap tinggal di sana untuk sementara waktu.(my/lt)

XS
SM
MD
LG