Tautan-tautan Akses

Thailand dan Burma Bangun Kembali Hubungan Bisnis

  • Ron Corben

PM Yingluck Shinawatra (kanan) bersama pemimpin pro-demokrasi Burma Aung San Suu Kyi dalam pertemuan di Kedutaaan Besar Thailand di Yangon (20/12).

PM Yingluck Shinawatra (kanan) bersama pemimpin pro-demokrasi Burma Aung San Suu Kyi dalam pertemuan di Kedutaaan Besar Thailand di Yangon (20/12).

Thailand dan Burma sedang berupaya membangun kembali hubungan bisnis setelah kunjungan dua hari Perdana Menteri Thailand Yingluck Shinawatra.

Kunjungan dua hari Perdana Menteri Yingluck Shinawatra ke Burma mencakup upaya untuk memperluas hubungan bisnis dan ekonomi, tetapi yang sangat menarik perhatian adalah pertemuan setengah jam dengan Aung San Suu Kyi. Pertemuan itu merupakan yang pertama dilakukan pemimpin oposisi Burma dengan seorang kepala pemerintahan sejak pembebasannya dari tahanan rumah tahun lalu.

Aung San Suu Kyi siap mencalonkan diri dalam pemilu pada awal 2012. Juru bicara Pemerintah Thailand mengatakan Perdana Menteri Yingluck memberi dukungan bagi Aung San Suu Kyi untuk pencalonannya itu.

Sebelumnya, dalam pertemuan dengan Presiden Burma Thein Sein, Perdana Menteri Yingluck menyampaikan dukungan bagi upaya Burma untuk berdamai dengan masyarakat-masyarakat etnis di negara itu. Ia juga menghimbau perluasan hubungan bisnis.

Pakar ilmu politik pada Universitas Chulalongkorn di Bangkok, Thitinan Pongsudhirak, mengatakan pertemuan antara Perdana Menteri Yingluck dan Aung Sann Suu Kyi juga akan mendukung kepercayaan politik rakyat Thailand kepada Perdana Menteri Yingluck.

Thitinan mengatakan hubungan baik dengan Birma sangat penting bagi Thailand.

“Burma adalah negara terpenting bagi Thailand dalam bidang perdagangan, investasi, dan tenaga kerja. Perekonomian dan sektor energi Thailand juga tergantung pada pasokan gas dari Burma dalam beberapa tahun ke depan. Saat ini Thailand mengimpor lebih dari 20 persen gas alam dari Birma,” ujarnya.

Di Thailand, liputan media atas kunjungan itu dibayangi oleh komentar-komentar saudara lelaki Yingluck, mantan perdana menteri Thaksin Shinawatra, yang mengatakan berkunjung ke Birma minggu lalu “untuk melancarkan jalan bagi saudara perempuannya.”

Thaksin diketahui punya hubungan dekat dengan mantan pemerintahan militer Birma dan tetap merupakan tokoh yang kontroversial di Thailand.

Thailand, bersama Tiongkok dan Singapura merupakan investor utama di Burma.

Sanksi-sanksi internasional membatasi investasi asing di Burma karena catatan buruknya pelaksanaan HAM di negara itu. Tetapi diperkirakan akan ada reformasi ekonomi dan politik lebih jauh, yang bisa mengurangi sanksi-sanksi dan menghasilkan lebih banyak investasi.

XS
SM
MD
LG