Tautan-tautan Akses

Terorisme Masih Jadi Tantangan Besar Pasca Kematian Santoso


Patroli pasukan khusus polisi di Bandar Udara Ngurah Rai, Denpasar, Januari 2016. (AFP/Sonny Tumbelaka)

Patroli pasukan khusus polisi di Bandar Udara Ngurah Rai, Denpasar, Januari 2016. (AFP/Sonny Tumbelaka)

Analis mengatakan tidak ada bukti bahwa perekrutan untuk ISIS berakhir dengan kematian Santoso.

Sementara pemerintah dan pasukan keamanan merayakan tewasnya teroris paling dicari di negara ini, para ahli mengatakan masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan terkait pendekatan lunak negara ini untuk memberantas Islam radikal.

Meski aksi langsung melawan teroris telah meningkat, para analis memperingatkan bahwa risiko perekrutan masih ada.

"Kita tidak punya banyak anggaran atau fasilitas untuk 'pendekatan lunak' seperti program deradikalisasi di tingkat mikro, individual, di tingkat kelompok dan juga di tingkat makro, masyarakat," ujar Hamdi Muluk, dosen psikologi dan ahli terorisme dari Universitas Indonesia.

"Pendekatan inilah yang dapat mencegah radikalisasi di masa yang akan datang."

Kegagalan paling besar dalam upaya pemerintah melakukan deradikalisasi barangkali adalah Santoso sendiri, pemimpin teroris yang tewas dalam pertarungan senjata bulan lalu di Sulawesi Tengah. Ia menjalani program deradikalisasi saat dipenjara tahun 2010.

Santoso, juga dikenal sebagai Abu Wardah, telah menjadi duri dalam daging selama bertahun-tahun. Ia berawal sebagai tokoh jihad dalam kekerasan Muslim-Kristen di Poso menyusul turunnya Soeharto.

Ia kemudian bergerilya di hutan-hutan Sulawesi Tengah, dan muncul menjadi pemimpin Mujahidin Indonesia Timur tahun 2012 serta menyatakan sumpah setia untuk kelompok Negara Islam (ISIS) tahun 2014 -- sebuah langkah efektif yang memusatkan perhatian pada kelompok gerilyanya.

Aksi-aksi jaringannya di Sulawesi Tengah telah rutin menjadi berita utama saat bentrok dengan pasukan keamanan yang mengejarnya di sekitar Poso, daerah yang menjadi basis kekuatannya. Setelah bersumpah setia pada ISIS, liputan mengenai dirinya menjadi berita hampir setiap minggu di jaringan televisi, media internet dan surat kabar.

"Saya kira kematian Santoso akan menjadi dampak positif bagi citra Indonesia secara regional dan global," ujar Hamdi.

"Hal itu akan menghapus kesan bahwa pasukan-pasukan kontraterorisme Indonesia, dalam hal ini gugus kerja Tinombala, tidak mampu mengejar, menangkap atau menghancurkan aktor-aktor terorisme, (termsuk) yang paling menonjol saat ini, seperti Santoso."

Namun optimisme ini berbalut kewaspadaan.

Hamdi juga mengatakan "tidak ada bukti bahwa perekrutan untuk ISIS berakhir dengan kematian Santoso."

Bukan Hamdi saja yang menyuarakan kekhawatiran ini.

"Kita perlu upaya lebih selain program-program strategis konvensional," ujar Fajar Riza Ul Haq, direktur eksekutif Maarif Institute, yang berafiliasi dengan Muhammadiyah. "Musuh kita berada satu langkah di depan."

Polisi membawa kantong jenazah, salah satunya diyakini berisi jenazah Santoso, militan paling dicari di negara ini, di Palu, Sulawesi Tengah, 19 Juli 2016.

Polisi membawa kantong jenazah, salah satunya diyakini berisi jenazah Santoso, militan paling dicari di negara ini, di Palu, Sulawesi Tengah, 19 Juli 2016.

Perekrutan Daring

Indonesia relatif memiliki sedikit pejuang ISIS dibandingkan dengan jumlah penduduk. Sebagian besar estimasi menetapkan jumlah itu pada ratusan, yang secara mengejutkan cukup rendah mengingat negara ini memiliki populasi Muslim terbesar di dunia. Para ahli menyebut stabilitas relatif dan praktik Islam yang moderat sebagai faktor penyebabnya.

Namun masalah yang dihadapi pihak berwenang adalah peningkatan keterampilan dunia maya kelompok-kelompok teroris dan proporsi anak muda yang besar di Indonesia, yang termasuk pengguna internet paling aktif di dunia.

Hal ini berarti akses terhadap kelompok rentan jauh lebih sederhana dibandingkan sebelum periode digital, dan sel-sel kecil dan terfragmentasi memberikan ancaman radikalisasi lebih besar dibandingkan kelompok gerilya di daerah terpencil.

Radikalisasi tetap menjadi ancaman, betapa pun pentingnya kematian Santoso secara simbolis.

"Kematian Santoso bukanlah akhir," ujar Fajar. "Pemerintah harus bekerja bersama organisasi-organisasi berbasis agama... Pada saat yang sama, pemerintah harus memastikan organisasi-organisasi tersebut memandang isu ini secara serius."

Penerus

“Sel Santoso mungkin menciut, tapi tidak berarti mereka habis," ujar Hamdi. "Mereka mungkin mencoba mencari Santoso baru."

Ada kandidat untuk menggantikan Santoso sebagai tokoh teroris Indonesia.

Amman Abdurahman, yang dipenjara di Pasir Putih, kemungkinan merupakan kandidat itu. Ia memiliki pengikut di Bima, Nusa Tenggara Barat. Kelompok Bima, menurut Hamdi, masih menerima perintah dari pemimpin mereka yang dipenjara.

Istri kedua Santoso juga berasal dari Bima, dan "kelompok Bima", menurut Hamdi, "diikat" oleh ideologi Salafi yang sama, dan aksi balas dendam untuk pembunuhan Santoso, jika ada, kemungkinan besar datang dari sana. [hd]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG