Tautan-tautan Akses

BNPT: Teroris Berpotensi Dompleng Demonstrasi 2 Desember

  • Fathiyah Wardah

Kepala Badan Nasional Penanggulangaan Terorisme (BNPT), Suhardi Alius. (VOA/Fathiyah Wardah)

Kepala Badan Nasional Penanggulangaan Terorisme (BNPT), Suhardi Alius. (VOA/Fathiyah Wardah)

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyatakan kelompok teroris berpotensi mendompleng unjuk rasa bertema Aksi Bela Islam III pada 2 Desember mendatang.

Kepala BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) Komisaris Jenderal Suhardi Alius menyebutkan kelompok teroris berpotensi mendompleng unjuk rasa bertema Aksi Bela Islam III pada 2 Desember mendatang.

Kepada wartawan di Jakarta, Senin (28/11), Suhardi mengakui memang ada dua kelompok radikal yang berupaya menunggangi Aksi Bela Islam III, yakni JAD (Jamaah Ansharud Daulah) dan Khalfilah Syuhada al-Hawariyun. Suhardi menambahkan Detasemen Khusus 88 Antiteror tengah memburu anggota kedua jaringan itu.

"Sejak sebelum tanggal 4 (November) pun, kita sudah menurunkan anggota kita. Kita ikut memonitor, kan kita punya data daerah-daerah potensial termasuk mantan-mantan (yang) sudah keluar, kita ikuti gerakannya, supaya tidak mengambil momentum ini. Sama seperti yang dilaksanakan oleh Mabes Polri, kita bekerjasama, dan ternyata ada langkah-langkah mereka walaupun sifatnya konsolidasi setelah kejadian," papar Suhardi.

JAD dan Khafilah Syuhada al-Hawariyun diduga sudah berbaiat kepada pemimpin ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) Abu Bakar al-Baghdadi. JAD adalah kelompok teroris yang dipimpin oleh Aman Abdurrahman yang kini tengah mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Pasir Putih, Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Sedangkan pemimpin Khafilah Syuhada dipimpin oleh Alwandi Supandi, diduga dekat dengan JAD Ciamis dikomandoi oleh Fauzan al-Ansari.

Dalam sepekan terakhir, Detasemen Khusus 88 menangkap tiga anggota JAD, yaitu Rio Priatna W., Bahrain Agam, dan Saiful Bahri. Polisi juga membekuk sembilan anggota Khafilah Syuhada, yakni Saulihun, Alwandi Supandi, Reno Suhartono, Dimas Adi Saputra, Wahyu Widada, Ibnu Aji Maulana, Fuad, Zubaidar, dan Agus Setiawan.

Direktur Eksekutif Wahid Institute, Yenny Wahid menjelaskan teroris selalu menunggu momen ketika tercipta konflik untuk masuk dan menciptakan medan jihad di mana saja. Yenny menambahkan potensi penunggangan oleh teroris ketika terjadi konflik horizontal di tengah masyarakat itu besar.

"Jangan sampai demo nanti menjadi ajang pemaksaan kehendak. Kita mengimbau masyarakat tetap tenang melaksanakan atau mengekspresikan aspirasi mereka dengan cara tenang dan sedapat mungkin menghindari aksi-aksi kekerasan. Karena itu sedang ditunggu para teroris. Potensi itu selalu ada. Info dari jaringan kami di lapangan, memang saat ini sudah ada jaringan teroris lama (yang) tadinya tidur tidak melakukan gerakan apapun, tiba-tiba aktif lagi. Ada beberapa jaringan lama masih terkait Jamaah Islamiyah, Al-Qaidah, dan sel-sel baru ISIS," ujar Yenny.

Dari hasil interogasi terhadap 12 orang dari JAD dan Khafilah Syuhada, polisi mendapat keterangan mereka memang merencanakan teror setelah pecah bentrokan pada Aksi Bela Islam II 4 November lalu.

Mereka merencanakan teror di masjid Al-Fatah di Menteng, Jakarta Pusat. Abu Nusaibah kemudian membagi dua kelompok untuk bergerak.

Kelompok pertama dipimpin AF untuk bergerak ke Penjaringan, Jakarta Utara, sebab kerusuhan telah terjadi di lokasi itu. Sementara kelompok kedua dipimpin oleh Abu Nusaibah bergerak dan bergabung dengan massa di DPR.

Aksi Bela Islam III merupakan kelanjutan dari unjuk rasa 4 November. Kali ini mereka menuntut polisi menahan Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penistaan agama. [fw/ab]

Puluhan ribu Muslim melakukan Aksi Bela Islam II di Jakarta pada Jumat, 4 November (411) 2016 lalu (foto: dok).

Puluhan ribu Muslim melakukan Aksi Bela Islam II di Jakarta pada Jumat, 4 November (411) 2016 lalu (foto: dok).

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG