Tautan-tautan Akses

Terminal Teluk Lamong Bersiap Jadi Pelabuhan Modern Ramah Lingkungan

  • Petrus Riski

Peralatan bongkar muat modern bertenaga listrik siap melakukan bongkar muatan sebuah kapal barang di Pelabuhan Terminal Teluk Lamong Surabaya. (VOA/Petrus Riski)

Peralatan bongkar muat modern bertenaga listrik siap melakukan bongkar muatan sebuah kapal barang di Pelabuhan Terminal Teluk Lamong Surabaya. (VOA/Petrus Riski)

Ditargetkan menjadi pelabuhan modern berwawasan lingkungan, Pelindo III fokus bangun pelabuhan Teluk Lamong.

Sepanjang tahun ini PT. Pelindo III bekerja keras membangun terminal Teluk Lamong di Surabaya sebagai salah satu pelabuhan internasional yang siap menjadi pintu masuk dan keluar pelaku ekonomi di Jawa Timur dan Indonesia bagian timur. Terminal Teluk Lamong dirancang sebagai pelabuhan semi otomatis yang bisa menjawab kebutuhan laju perekonomian yang semakin cepat. Kepala Humas PT. Pelindo III, Edi Priyanto menjelaskan hal ini kepada VOA.

“Terminal Teluk Lamong ini merupakan terminal semi otomatis pertama di Indonesia, jadi alat selama ini digerakkan menggunakan operator di satu alat satu orang, namun di Terminal Teluk Lamong ini cukup dari ruang kendali, sehingga sisi aspek safety, keselamatan ini akan terjamin karena di lapangan sudah tidak ada lagi orang, tidak ada resiko tertabrak, tidak ada resiko tertimpa. Yang kedua, ketepatan dan akurasinya ini akan lebih akurat. Yang ketiga, real time, ini akan bagus dan akan meningkatkan kinerja, ujung-ujungnya adalah nanti produktifitas akan meningkat, ini juga akan mendorong adanya pengurangan dwelling time,” kata Edi.

Tidak hanya sebagai pelabuhan yang modern dan berkinerja tinggi, Terminal Teluk Lamong juga ditargetkan menjadi pelabuhan hijau atau green port pertama di Indonesia. Fokus pembangunan dan operasional di pelabuhan Teluk Lamong dipastikan mengutamakan faktor keramahan terhadap lingkungan, baik dalam hal pemanfaatan energi, hingga pengolahan sampah dan air.

“Sampah itu kan tidak sembarangan boleh dibakar semua, harus dilakukan pemilahan dulu kemudian setalah dipilah baru nanti mana yang boleh dihancurkan mana yang tidak boleh. Nanti ada pengolahan sampah, ada incenerator, dan ada pengolahan air, jadi bisa dimanfaatkan,” tambahnya.

Edi Priyanto menegaskan operasional Terminal Teluk Lamong seluruhnya memanfaatkan energi yang ramah lingkungan, seperti penggantian bahan bakar dari fosil ke gas, pemanfaatan energi matahari untuk penerangan, hingga pengopersian peralatan secara elektrik dengan kendali di ruang kontrol.

Penggunaan gas sebagai satu-satunya bahan bakar kendaraan operasional di Terminal Teluk Lamong, diharapkan dapat mempengaruhi perubahan perilaku dari pemanfaatan bahan bakar minyak yang menguras subsidi negara menjadi bahan bakar gas yang lebih ramah lingkungan.

“Kita ini sebenarnya untuk memancing, untuk memaksa para pengusaha trailer yang selama ini masih menggunakan dan bergantung di BBM, karena masa depan di gas, maka kita provokasi terhadap pengusaha-pengusaha truk, pengusaha angkutan untuk mulai menggunakan gas, salah satunya adalah mereka dipaksa bahwa hanya khusus truk berbahan bakar gas itu yang boleh berkegiatan di dalam terminal,” ujar Edi.

Pengoperasian peralatan bongkar muat peti kemas dengan crane bertenaga listrik dan dikendalikan operator dari ruang kontrol di Terminal Teluk Lamong Surabaya (VOA/Petrus Riski)

Pengoperasian peralatan bongkar muat peti kemas dengan crane bertenaga listrik dan dikendalikan operator dari ruang kontrol di Terminal Teluk Lamong Surabaya (VOA/Petrus Riski)

Pakar transportasi laut dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Firmanto Hadi mengatakan, kebijakan penggunaan energi gas sebagai bahan bakar transportasi di pelabuhan, dipastikan akan memberi dampak positif yang sangat besar bagi perubahan sistem transportasi yang lebih ramah lingkungan.

Firmanto mengatakan, “Ketika semua pelabuhan nanti menjadi green, mau gak mau kan yang punya truk ya karena sudah ke Teluk Lamong gak boleh, kemudian di Tanjung Perak juga sudah mulai green gak boleh, kemudian ke TPS (Terminal Peti Kemas) sudah mulai green juga gak boleh, mau gak mau mereka juga akan berpikir untuk pindah ke green. Jadi memang harus ada semacam tanda kutip paksaan ya, tapi yang saya maksud tadi adalah kita harus sadari konsekuensinya itu (biaya mahal).”

Di Indonesia saat ini baru ada tiga pelabuhan yang mendapat pengakuan ISO 14001 sebagai pelabuhan ramah lingkungan yaitu pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, pelabuhan Tanjung Emas Semarang dan pelabuhan Benoa Bali.
Sementara pelabuhan ramah lingkungan terbaik di dunia adalah pelabuhan Long Beach Amerika. Pelabuhan ini dinilai sangat tegas memberlakukan kebijakan penurunan emisi dan standar operasi ramah lingkungan, sekaligus menanamkan investasi luar biasa pada berbagai upaya lingkungan hidup di lingkungan Long Beach. [dw]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG