Tautan-tautan Akses

Terduga Teroris Namakan Diri “Al-Qaeda Indonesi”, Terkait Noordin M. Top


Juru bicara Kepolisian RI Boy Rafli Amar, memberikan pernyataan mengenai jarinan Al-Qaeda di Indonesia. (VOA/Andylala Waluyo)

Juru bicara Kepolisian RI Boy Rafli Amar, memberikan pernyataan mengenai jarinan Al-Qaeda di Indonesia. (VOA/Andylala Waluyo)

Terduga teroris di Tambora, Depok, dan Solo menamakan diri "Al-Qaeda Indonesi", dan diduga terkait dengan jaringan Noordin M. Top.

Terduga pelaku aksi terorisme di Tambora, Depok, dan Solo yang telah ditangkap tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Kepolisian Republik Indonesia (Polri) beberapa pekan terakhir ini, diketahui menamakan diri sebagai kelompok "Al-Qaeda Indonesi". Nama ini serupa dengan kelompok yang juga diduga sebagai jaringan teroris di Timur Tengah.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Boy Rafli Amar Senin (24/9) menjelaskan sembilan orang terduga teroris ditangkap di Solo dan satu orang di Kalimantan Barat pada akhir pekan lalu. Mereka berasal dari kelompok yang menamakan dirinya ‘Al-Qaeda Indonesi’.

“Yang kita ketahui pimpinannya adalah Badri Hartono alias Toni. Ia adalah anak buahnya Urwah, pengikut dari Noordin M Top. Urwah tewas bersama Noordin saat kontak senjata dengan tim Densus 88 pada penangkapan Noordin pada Oktober 2009 di Jawa Tengah,” ujar Boy.

“Badri diketahui juga ikut dalam pelatihan militer di Poso dan memiliki kemampuan dalam merakit bahan peledak di Solo. Bisa saja mereka ini melanjutkan perjuangan dari Jamaah Islamiyah yang kita kenal terakhir itu adalah Noordin M Top.”

Dugaan sementara, kelompok Al-Qaeda Indonesi ini baru dibentuk 2012. Menurut Boy, jaringan ini belum memiliki markas permanen karena melakukan perencanaan sambil berkeliling di beberapa tempat seperti Poso, Surakarta, Solo, Beji, dan Jakarta.

Sementara itu, Bojonggede menjadi tempat mereka merencanakan dan mematangkan rencana teror. Sisanya, mereka lakukan di kediamannya masing-masing.

Boy menambahkan, selain menangkap sembilan terduga teroris di Solo, tim Densus 88 juga menemukan sejumlah bahan peledak, yang lebih berbahaya dan memiliki daya ledak yang lebih besar dibanding yang ditemukan sebelumnya.

Dua dari 10 terduga teroris yang ditangkap itu ternyata masih berumur belasan tahun, masing-masing bernama FN, pelajar SMU kelas 2 dan A, kelahiran 1994.

“FN kita berikan pendampingan langsung dari orang tuanya dan tidak kita satukan dengan yang lain. Kami melihat ini adalah upaya untuk merekrut yang muda-muda.
Sedangkan A ini melarikan diri saat penggerebekkan di Beji, Depok,” ujar Boy.

Menanggapi munculnya kader-kader muda dari terduga teroris, Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Irfan Idris mengatakan, usia remaja itu sangat rentan untuk dipengaruhi.

“Jika sejak usia itu dipersiapkan, apapun nanti dikatakan gurunya dia akan lakukan. Jadi sangat mantap persiapannya, kalau memang ini dipersiapkan sejak dini. Karena di usia remaja itu kan sangat mudah diberikan pengaruh secara psikologi. Apalagi kalau ditunjukkan ketimpangan-ketimpangan yang ada sekarang. Jadi secara psikologis emosionalnya itu sangat rawan dan labil. Siapapun yang mendoktrinnya, dia pasti akan lakukan,” ujar Irfan.

Selain Badri, ada Joko Tri Priyanto yang ditangkap Minggu (23/9) lalu di Laweyan, Solo. Joko pernah divonis tiga tahun penjara oleh hakim Pengadilan Jakarta Selatan pada April 2006. Ia dipastikan melakukan tindak pidana terorisme dengan menyembunyikan Noordin M Top, setelah bom di kedubes Australia Kuningan pada 2004.

Joko, dengan nama alias Joko Parkit itu, bebas dari penjara pada pertengahan 2009. Ia diketahui dekat dengan Air Setyawan dan Eko yang tewas dalam kontak tembak dengan aparat Densus 88 di perumahan Jatiasih Bekasi pada 2009. Air dan Eko ini terlibat dalam jaringan Syaifudin Zuhri yang melakukan pengeboman di hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton pada Juli 2009.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG