Tautan-tautan Akses

Terancam Banjir Lahar, Candi Lumbung di Magelang Selesai Dipindahkan

  • Nurhadi Sucahyo

Candi Lumbung di lokasi yang baru (kiri) dan lokasi asli sebelumnya di tepi sungai Pabelan (kanan).

Candi Lumbung di lokasi yang baru (kiri) dan lokasi asli sebelumnya di tepi sungai Pabelan (kanan).

Sebuah candi di Magelang, Jawa Tengah terpaksa dipindahkan dari posisi awalnya karena ancaman banjir lahar dingin. Proses pemindahan selama empat bulan telah selesai.

Candi Lumbung yang dipindahkan sejauh sekitar 750 meter dari lokasi awalnya diperkirakan dibangun pada tahun 864 Masehi. Candi ini aslinya didirikan di tepi sungai Pabelan yang berkelok-kelok indah di lereng Gunung Merapi. Karena letusan gunung Merapi akhir tahun 2010 lalu yang menyebabkan banjir lahar dingin sepanjang musim hujan awal 2011, tebing di mana candi ini berdiri mengalami longsor.

Berdasar pertimbangan itulah, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah memutuskan untuk memindahkan candi itu ke lokasi yang lebih aman. Menurut koordinator proses pemindahan Candi Lumbung, Wagiyo, ini adalah pertama kalinya sebuah candi dipindahkan pada jarak yang cukup jauh dari lokasi aslinya.

“Posisi semula candi dengan tebing sungai itu kurang lebih satu meter, kemungkinan lama-kelamaan kalau tidak diselamatkan mungkin kalau sudah turun hujan lagi atau banjir lahar dingin kemungkinan candi itu hanyut. Jarak posisi asli sama susunan sementara itu paling jauh juga baru ini,” jelas Wagiyo.

Kepada VOA, Wagiyo menceritakan, proses pemindahan batuan candi Lumbung ini serasa dikejar waktu seiring tibanya musim hujan. Banjir yang beberapa kali datang telah membuat tebing sungai setinggi sekitar 10 meter yang menopang candi tersebut longsor sedikit demi sedikit. Proses yang dimulai awal September 2011 itu kini telah selesai seluruhnya awal Januari ini. Candi Lumbung kini berada di tengah perkampungan yang aman dari banjir lahar dingin Gunung Merapi.

Ditemui terpisah, arkeolog dari Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Dr Daud Tanudirjo mengaku bisa memahami alasan pemindahan Candi Lumbung tersebut. Dia hanya menyarankan, seluruh proses pemindahan candi itu diinformasikan kepada masyarakat, agar dipahami bahwa lokasi candi yang baru adalah lokasi kedua sehingga tidak menghilangkan makna penting lokasi pertamanya.

Daud Tanudirjo mengatakan, “Kalau lahan yang asli tidak bisa dikembalikan kondisinya dan tetap mengancam keselamatan, ya memang itu akan tetap dipertahankan di tempat yang baru. Nah, mestinya supaya tidak hilang nilai pentingnya, harus diberi informasi sebetulnya lokasi-(awal)nya di mana, dan sebagainya.”

Menyinggung mengenai upaya perawatan dan pelestarian candi-candi kecil semacam Candi Lumbung, Dr Daud Tanudirjo berharap pemerintah memberikan kesadaran kepada masyarakat. Candi mewakili sejarah masa lalu, termasuk mengapa Candi Lumbung, yang juga bermakna sebagai tempat penyimpanan hasil panen itu,dibangun di tepi sungai yang indah tersebut.

“Candi itu tidak hanya dilihat sebagai batu yang diukir, begitu. Tetapi maknanya apa. Kemudian yang kedua adalah meningkatkan partisipasi masyarakat setempat. Partisipasi masyarakat itu akan membantu, mereka itu bisa ikut melestarikan, merawat dan sebagainya. Nah, itu hanya bisa dilakukan kalau masyarakat mendapat manfaat dari keberadaan candi-candi itu,” ujar Daud Tanudirjo.

Candi Lumbung adalah candi Budha. Lokasinya sekitar 20 kilometer di sebelah utara Candi Borobudur. Bangunannya berbentuk bujur sangkar menghadap ke barat dengan ukuran 8,43 x 8,43 meter. Di lokasi aslinya, dari halaman candi ini bisa dilihat keindahan Gunung Merapi sekaligus aliran sungai di bawahnya yang berkelok indah.

XS
SM
MD
LG