Tautan-tautan Akses

Teolog dari 10 Negara Kunjungi Yogya untuk Diskusi Toleransi Antar Agama

  • Nurhadi Sucahyo

Sebagian teolog EATWOT yang ikut berpartisipasi dalam dialog toleransi beragama di Yogyakarta (23/4)

Sebagian teolog EATWOT yang ikut berpartisipasi dalam dialog toleransi beragama di Yogyakarta (23/4)

Para pengajar ilmu agama dari sejumlah negara berkunjung ke Yogyakarta untuk berkeliling ke sejumlah institusi agama.

Para pakar agama ini tergabung dalam EATWOT atau Ecumenical Association Of Third World Theologians yang para anggotanya berasal dari negara-negara miskin dan berkembang, seperti Cili, Brazil, Burma, Bangladesh, India, Indonesia, Sri Lanka, Philipina, Kenya dan Afrika Selatan.

Anggota EATWOT rata-rata merupakan pengajar ilmu-ilmu agama di perguruan tinggi. Didirikan tahun 1976, organisasi ini terus mengajak umat beragama untuk memikirkan kembali tujuan utama beragama dan menciptakan perdamaian.

Meskipun masih memiliki sejumlah persoalan yang belum terselesaikan dalam persoalan hubungan antar agama, Indonesia dianggap bisa menjadi tempat untuk belajar mengenai toleransi. Karena itulah, 30 pakar agama atau teolog dari 10 negara berkunjung ke Yogyakarta, khusus untuk mendalami persoalan ini. Salah satu tempat yang mereka kunjungi adalah Pondok Pesantren Al Qodir, Yogyakarta.

Koordinator EATWOT untuk wilayah Asia, Nunuk Murniati mengatakan, selama lima hari di Yogyakarta, para teolog ini akan berdiskusi dengan sejumlah pemuka agama, baik Islam maupun Katolik.

Di samping itu mereka juga akan melihat sendiri bagaimana dampak bencana Gunung Merapi tahun 2010 lalu, karena salah satu tema penting yang menjadi bahan diskusi para teolog ini adalah, bagaimana posisi agama di tengah berbagai bencana alam yang melanda dunia.

”Mereka memilih Indonesia karena mau belajar bagaimana hubungan masyarakat, interfaith dialogue. Bagaimana dialog antarumat beriman. Mereka ini mempunyai tradisi belajar dari budaya lokal, tradisional, untuk mempelajari spiritualitas," kata Nunuk Murniati. "Kali ini yang ingin dipelajari itu adalah bagaimana manusia sekarang memandang ekologi yang rusak seperti saat ini,” imbuhnya.

Salah satu pengajar ilmu agama dari Brazil, Prof Luiza Etsuko Tomita menyatakan kekagumannya atas hubungan baik antar umat beragama di Indonesia. Sebagai umat katolik yang hidup di negara dimana jumlah muslimnya sangat kecil, Luiza mengatakan bayangannya mengenai kehidupan muslim jauh berbeda dengan yang dia lihat di Indonesia, khususnya di Yogyakarta. Karena itu, dia sangat tertarik untuk tahu lebih dalam, bagaimana peran para pemimpin agama dalam menciptakan kerukunan itu.

"Karena kami mengerti dan kami percaya bahwa hanya dengan pemahaman terhadap agama lain, kita bisa menciptakan dunia yang lebih baik dan mengakhiri perang. Tetapi saya pikir, masih ada banyak hal yang belum kita lakukan bersama," ungkap Luiza.

Teolog dari Burma, Lily Kado mengatakan, dia banyak belajar tentang semangat umat beragama di Yogyakarta untuk saling menghargai. Pengalaman ini dia akui akan menjadi ilmu yang sangat berharga, dan dia berharap bisa menjadikan pengalamannya ini sebagai referensi bagi negaranya.
XS
SM
MD
LG